Target Market Cap Rp25.000 Triliun, Antara Ambisi OJK dan Realitas Pasar

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengerek kapitalisasi pasar atau market cap bursa hingga menyentuh Rp25.000 triliun pada 2031 dinilai sebagai langkah yang ambisius. Pasalnya, target ini menuntut akselerasi pertumbuhan pasar yang signifikan dalam lima tahun ke depan.

Adapun target tersebut disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, dalam forum fit and proper test bersama Komisi XI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Hasan menuturkan bahwa dalam periode lima tahun ke depan atau sampai dengan 2031, kapitalisasi pasar modal ditargetkan mencapai Rp25.000 triliun. Jumlah ini setara dengan 80% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Jumlah investor diharapkan mencapai angka 30 juta, dengan rata-rata nilai transaksi harian [RNTH] Rp35 triliun. Sejalan dengan itu, akan terjadi peningkatan baik di sisi jumlah emiten maupun dana kelolaan investor,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi memandang bahwa target itu terbilang ambisius. Sebab, untuk mencapai angka tersebut, pasar modal memerlukan tingkat pertumbuhan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) di kisaran 15% hingga 17% secara konsisten.

“Target ini ambisius. Peningkatan hanya bisa dicapai lewat dorongan IPO raksasa, baik dari BUMN maupun unicorn swasta, serta kenaikan valuasi emiten sektor new economy seperti hilirisasi, ekosistem kendaraan listrik dan energi baru terbarukan [EBT],” ujar Wafi saat dihubungi Bisnis, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga

  • Pelaku Pasar Bersiap Libur Lebaran, Koreksi IHSG Diperkirakan Sementara
  • Sinyal Positif Pimpinan Baru OJK Bawa IHSG Melaju di Zona Hijau
  • IHSG Sesi I (12/3) Bergerak Menguat, Saham Konglomerat Menghijau

Di samping itu, pertumbuhan laba emiten berkapitalisasi pasar besar atau big caps yang konsisten serta pendalaman instrumen derivatif dan surat utang korporasi juga disebut menjadi syarat mutlak untuk mempertebal nilai pasar.

Meski memiliki potensi, Wafi menggarisbawahi sejumlah tantangan utama yang dapat menghambat pencapaian target Rp25.000 triliun tersebut.

Dari sisi eksternal, tingginya suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik masih membayangi risiko aliran modal keluar atau capital outflow.

Sementara dari sisi internal, ketimpangan likuiditas masih menjadi pekerjaan rumah bagi otoritas. Saat ini, likuiditas transaksi masih cenderung terpusat pada saham big caps, sedangkan saham lapis kedua dan ketiga relatif sepi peminat.

“Pertumbuhan jumlah investor ritel dan institusi domestik harus mengimbangi suplai saham baru yang masif agar harga tidak tertekan,” pungkas Wafi.

Terakhir, dia menyebut kesiapan infrastruktur dan kerangka hukum dari OJK serta Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam memfasilitasi instrumen derivatif kompleks sangat diperlukan guna meminimalkan risiko sistemik di masa depan.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menilai target peningkatan kapitalisasi pasar hingga Rp25.000 triliun masih realistis. Kendati demikian, hal itu memerlukan laju pertumbuhan yang konsisten serta dukungan berbagai faktor fundamental ekonomi.

IPO JUMBO

Menurut Nafan, ambisi otoritas untuk meningkatkan kapitalisasi pasar hingga Rp25.000 triliun dalam jangka waktu lima tahun ke depan dinilai sangat bergantung pada kualitas perusahaan yang melantai di bursa.

Dia menyatakan bahwa kunci pencapaian target ini bukan sekadar jumlah emiten baru, melainkan skala dan fundamental dari emiten tersebut.

“Jangan sampai mayoritas IPO berasal dari perusahaan dengan kapitalisasi pasar kecil. Jika hal tersebut terjadi, akan sulit untuk meningkatkan kapitalisasi pasar secara eksponensial," ujar Nafan kepada Bisnis.

Menurut Nafan, bursa memerlukan lebih banyak aksi initial public offering (IPO) dari perusahaan-perusahaan besar dengan free float di atas 15%. Perusahaan tersebut diharapkan muncul dari sektor-sektor strategis seperti BUMN, komoditas, hingga pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Selain itu, realisasi target free float 15% menjadi prasyarat penting untuk memperdalam pasar. Jika hal ini tercapai, likuiditas pasar akan meningkat dan mampu menyerap pasokan saham baru tanpa menekan harga secara drastis.

“Potensi peningkatan jumlah emiten yang disertai dengan kenaikan free float akan membuat pasar keuangan kita semakin solid dan dalam," tambahnya.

Di tengah dinamika global dan suku bunga tinggi, Nafan menilai menjaga kualitas emiten juga penting untuk mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market dan tidak mengalami penurunan menjadi frontier market

________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Walkot Eri Larang ASN Pemkot Surabaya Gunakan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
InfraNexia Akan Kelola Aset Fiber Optik Milik BUMN di Bawah Danantara
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Kronologi Suami Artis Cilik, Maissy Dituding Selingkuh dengan Dokter Koas Cindy Rizap, Foto-foto Ini Diduga Jadi Bukti
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Hasil Liga Europa: Gol Pemain Asia Bawa Midtjylland Menang di Markas Nottingham Forest
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Ketua DPR Puan Maharani Sahkan Friderica Widyasari Dewi jadi Ketua OJK
• 22 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.