Selat Hormuz Lumpuh, 2 Negara Ini Kebal berkat Energi Terbarukan

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Negara-negara yang lebih banyak menghasilkan listrik dari angin, Matahari, dan sumber terbarukan lainnya terbukti lebih tahan terhadap guncangan energi global. Begitu penilaian para ahli di tengah konflik yang kian memanas di Timur Tengah.

Perang terus meluas sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Infrastruktur energi di kawasan itu menjadi sasaran, dan ancaman serangan balasan Iran praktis menutup Selat Hormuz, jalur perairan vital yang biasa dilewati 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Baca Juga :
Krisis Energi Mengintai, Negara-negara Tetangga RI Berlakukan Kebijakan Hemat Energi
IHSG Anjlok 224 Poin pada Penutupan Hari Ini, Semua Sektor Merah saat Perang Iran-AS Masih Berlanjut

Gangguan ini membuat bahan bakar sulit sampai ke negara-negara yang membutuhkannya untuk pembangkit listrik, pemanas rumah, industri, hingga transportasi. Harga pun melonjak di mana-mana dan tekanan biaya hidup berpotensi semakin berat.

"Energi adalah nadi masyarakat dan industri kita," kata Antony Froggatt, pakar energi dari NGO Transport & Environment yang berbasis di Brussels, Belgia, seperti dikutip dari situs DW, Jumat, 13 Maret 2026. "Dan kita masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil."

Dunia saat ini masih memperoleh sekitar 80 persen energi primernya dari bahan bakar fosil, sumber utama emisi gas rumah kaca yang mendorong perubahan iklim. Ketergantungan ini membuat perekonomian rentan terhadap guncangan geopolitik, kata Rana Adib, Sekretaris Eksekutif Jaringan Kebijakan Energi Terbarukan untuk Abad ke-21 (REN21).

Uruguay

Negara-negara dengan porsi energi terbarukan "buatan sendiri" yang lebih besar dalam bauran energinya dinilai "lebih tahan terhadap guncangan semacam ini".

Teknologi energi hijau seperti turbin angin, panel surya, dan baterai memang memiliki rantai pasok global yang juga bisa terdampak ketegangan geopolitik. Namun, energi yang dihasilkannya biasanya berasal dari dalam negeri sendiri.

"Begitu teknologinya sudah ada di suatu negara, bahan bakar yang dipakai adalah Matahari, angin, panas Bumi yang semuanya lokal," kata Adib. "Itulah mengapa energi terbarukan jauh lebih tahan terhadap guncangan global."

Kekhawatiran soal ketergantungan pada impor minyak dan gas pascakrisis keuangan 2008 mendorong Uruguay untuk serius beralih ke energi terbarukan.

Dua dekade lalu, negara kecil Amerika Selatan dengan 3,5 juta penduduk ini mulai merancang rencana besar untuk menyingkirkan bahan bakar fosil dari jaringan listriknya dengan cara memperluas ladang angin secara agresif.

Baca Juga :
Donald Trump: Timnas Iran Tidak Layak Ada di Piala Dunia 2026
Netanyahu Cibir Mojtaba Khamenei Tak Berani Muncuk ke Publik, Sebut "Boneka IRGC"
Netanyahu Sebut Israel Jadi Lebih Kuat dari Sebelumnya Pasca Perang Lawan Iran

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Asuransi Kesehatan Kumpulan jadi Kontributor Terbesar Premi Tokio Marine Life
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Tragedi Situbondo Terkuak! Suami Diduga Habisi Istri dan Anak Sambung, Lalu Bunuh Diri di Kamar Mandi
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Kebakaran Landa Permukiman Padat Penduduk di Tambora Jakbar, 28 Damkar Dikerahkan
• 15 jam laluokezone.com
thumb
Sudah Lima Tahun Sejak Putuskan Pensiun, Valentino Rossi Akui Tak Ada Keinginan untuk Tunggangi Motor MotoGP Lagi
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Respons Nasib Selat Hormuz, Iran Salahkan AS dan Israel
• 4 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.