Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mencatat lebih dari 6 ribu warga negara Indonesia (WNI) sempat terdampar di berbagai negara Timur Tengah, akibat konflik yang memicu gangguan penerbangan dan penutupan ruang udara.
Plt Direktur Pelindungan WNI Kemlu Heni Hamidah mengatakan, para WNI tersebut merupakan pihak yang paling terdampak langsung dari situasi konflik di kawasan tersebut. Sebagian besar WNI yang terdampar berada di Jeddah, Arab Saudi, terutama jemaah umrah yang terdampak pembatasan penerbangan.
“Dampak pertama terhadap WNI dengan keadaan konflik ini adalah stranded. Yang terdampak langsung ini WNI yang stranded. Jadi kalau perhitungan kami, itu jumlah WNI stranded dari mulai awal sampai saat ini sudah ada 6 ribu lebih. Memang yang paling banyak ini, yang stranded ini, di Jeddah untuk jemaah umrah,” kata Heni dalam press briefing di Kantor Kemlu, Jakarta Pusat, Jumat (13/3).
Menurut Heni, pemerintah secara bertahap memfasilitasi pemulangan para WNI tersebut ke Indonesia, menyesuaikan dengan ketersediaan jalur penerbangan dan ruang udara yang terbuka.
Ia menjelaskan, jumlah WNI stranded setiap hari terus berkurang, seiring mulai dibukanya sebagian jalur udara di kawasan tersebut.
“Setiap hari itu, kami ada laporan harian terkait penanganan WNI stranded. Jadi bisa dilihat, hari ini berapa, itu biasanya berkurang. Begitu jalur udara mulai dibuka, partially beberapa sudah mulai dibuka, kemudian penerbangannya ada, nah itu secara bertahap mereka juga ditarik ke Tanah Air,” ujar Heni.
Selama menunggu kepastian penerbangan pulang, para WNI tersebut sementara ditempatkan di penginapan.
“Jadi kalau belum ada penerbangannya, mereka ditampung di penginapan-penginapan sambil menunggu penerbangannya ada,” tutup dia.
Adapun gangguan penerbangan terjadi sejak akhir Februari lalu saat AS-Israel dan menyerang Iran. Tindakan itu memicu aksi balasan Iran dengan menyerang negara tetangga yang menjadi tempat pangkalan AS.





