TOBA Sebut Motor Listrik Kian Relevan Hadapi Volatilitas Energi Global

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menyebut langkah perseroan menyasar kendaraan listrik kian relevan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang menyebabkan tekanan pada pasar energi global khususnya harga minyak. 

Direktur Utama TOBA Juli Oktarina mengatakan langkah strategis perseroan di bisnis kendaraan listrik menjadi semakin relevan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang mulai memberikan tekanan hebat pada pasar energi global. TBS memandang diversifikasi bisnis sebagai kunci resiliensi dan mitigasi risiko dalam menghadapi volatilitas pasar energi global. 

“Strategi bisnis kami saat ini memberikan fleksibilitas bagi perseroan untuk tetap tumbuh, di mana sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional. Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang,” katanya dalam keterangan resmi, Jumat (13/3/2026).

Sebagai informasi, TOBA melalui PT Electrum, perusahaan patungan bersama GOTO, menjual motor listrik secara business to business ke ekosistem Gojek, Grab dan sejumlah jasa pengiriman barang. Hingga akhir 2025, Electrum telah mengoperasikan lebih dari 7.500 unit motor listrik dengan dukungan sekitar 364 stasiun penukaran baterai yang tersebar di berbagai wilayah operasional.

Adapun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran di pasar energi global. Harga minyak mentah sudah tembus US$110 per barel, sementara APBN menetapkan asumsi bahwa harga minyak mentah di Indonesia di harga US$70 per barel. 

Merujuk pada data Indef, kenaikan sebesar US$10 per barel di atas asumsi awal mengakibatkan pembengkakan biaya sebesar Rp80 triliun. Jika harga minyak mencapai US$120 dolar AS, maka total beban tambahan yang harus ditanggung diperkirakan Rp400 triliun.

Baca Juga

  • Tips Meninggalkan Motor Listrik Saat Mudik Lebaran Agar Aman & Tetap Optimal
  • Pakar Transportasi Kritik Rencana Bahlil Konversi 120 Juta Motor Listrik
  • Kabar Terbaru IPO Electrum, Bos TOBA Pandu Sjahrir Buka Suara

Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan energi, kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) domestik. 

Salah satu kelompok yang sensitif terhadap kenaikan harga BBM adalah para pengemudi ojek online (ojol). Dengan jumlah yang diperkirakan mencapai sekitar 6 juta orang di Indonesia, kenaikan harga BBM dapat langsung memengaruhi biaya operasional harian ojol.

Acel Yusde Pario, salah satu mitra ojol yang sudah bergabung sejak 2017 dan beralih ke motor listrik sejak pertengahan 2024 mengatakan biaya operasional motor listrik lebih rendah daripada motor bensin.

Menurutnya, jika menggunakan motor berbahan bakar bensin, dia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp60.000 per hari hanya untuk membeli BBM. Pengeluaran tersebut belum termasuk biaya perawatan kendaraan di bengkel hingga pajak tahunan kendaraan.

Acel awalnya ragu menggunakan motor listrik karena baru pertama kali. Namun, setelah beberapa waktu, dia justru semakin yakin dengan pilihannya. 

Bahkan Acel akhirnya menambah satu unit motor listrik lagi untuk digunakan di rumah. Motor listrik yang digunakannya merupakan produk Electrum yang mampu menempuh jarak hingga sekitar 200 kilometer per hari.

Kendaraan listrik yang digunakannya tersebut menggunakan skema sewa milik (rent to own). Pasalnya, unit yang digunakannya bukan motor baru, dia membayar sekitar Rp55.000 per hari ditambah biaya penggunaan baterai sekitar Rp25.000 per hari.

“Motor Electrum ini karena kilometer-nya sudah di atas 7.000, jadi saya harus bayar harga tersebut sampai 532 hari atau sekitar satu tahun tujuh bulan,” ujarnya.

----------------

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gratifikasi dan TPPU Rp 445 Miliar, Eks Sekretaris MA Nurhadi Dituntut 7 Tahun Penjara
• 3 jam lalukompas.id
thumb
Kapolri dan Panglima TNI Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026 di Monas
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
Gus Yaqut Sudah Ditahan Terkait Kasus Kuota Haji, Kapan KPK Panggil Gus Alex?
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Gedung Putih Bantah Ancaman Drone Iran ke Wilayah Amerika Serikat
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Breaking News: KPK Gelar OTT di Cilacap Jateng
• 6 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.