Panas matahari begitu terik menyengat siang itu, di Kota Denpasar, Bali. Namun, panas tak menggoyahkan tekad para pemudik yang berbaris di PO Gunung Harta, Jalan Cokroaminoto, Denpasar.
Dua pemudik itu, Ningsih (perempuan, 60 tahun) dan Farhan (laki-laki, 55 tahun). Baginya, aspal yang membentang dari Bali hingga ke ujung Jawa bukan sekadar jalur transportasi.
Jalur itu layaknya rentang waktu yang menyiksa; jam-jam yang melambat di atas kursi bus yang keras dan antrean panjang di Pelabuhan Gilimanuk yang seolah tak berujung demi menjemput suatu pelukan saat Hari Raya Idul Fitri di kampung halaman.
Ningsih dan Farhan bahkan rela mudik lebih awal demi mencegah kemacetan panjang dan menjaga kesehatan diri serta tiga orang cucunya. Berharap seluruh keluarga dalam kondisi bugar merayakan Lebaran.
"Saya di Bali sudah sejak Megawati belum jadi presiden (atau sekitar tahun 1990an). Mudik lebih awal ya sudah pengalaman agar tidak kena macet. Besok pasti sudah macet di mana-mana," katanya kepada wartawan.
Ningsih pulang kampung dari Bali menuju Malang, Jawa Timur, bersama anak nomor dua dan tiga orang cucunya yang masih berusia 5 hingga 7 tahun. Ningsih rela merogoh kocek lebih dalam demi perjalanan pulang kampung yang manusiawi.
Ningsih membeli 5 tiket untuk seluruh romhongannya, jadi satu orang bisa duduk di kursi masing-masing. Ia juga membeli berbagai macam makanan ringan agar tiga cucunya kerasan dalam perjalanan. Bagi Ningsih tak masuk akal memangku cucunya secara bergantian dalam perjalanan lebih dari 10 jam.
"Biasanya saya berangkatnya itu dari Denpasar pukul 18.00 WITA sampai sana (Malang) besoknya kadang pukul 03.00 WIB, tapi ini kan macet di pelabuhannya ngantrinya masuk kapal mungkin empat jam,"
"Tetanggaku aja yang berangkatnya kemarin malam. Pukul 01.00 WITA baru bisa masuk ke pelabuhan," Kata Ningsih memperkirakan perjalanan panjang menuju kampung halaman.
Namun, lebaran kali ini terasa sedikit lebih getir bagi Ningsih. Suaminya yang berprofesi sebagai pemusik jarang manggung lantaran cuaca buruk dan kunjungan turis sepi di Bali. Dia berharap keberuntungan semakin baik setelah Lebaran sehingga keluarga bisa hidup di perantauan.
"Angin terus enggak ada tamu di pantai. Ya, itulah risikonya di sini," ucapnya lirih.
Tak jauh dari posisi Ningsih, ada Pak Farhan sedang bersiap memboyong dua anggota keluarganya menuju Madura. Pria yang sehari-hari menjaga warung kelontong di Gianyar ini harus menelan kenyataan pahit, harga tiket melonjak hampir 100 persen.
"Biasanya tiket Rp 270 ribu, sekarang dapat Rp 450 ribu," katanya.
Farhan mengeluarkan biaya lebih dari Rp 2 juta dalam perjalanan mudik. Namun, bagi Farhan, angka-angka itu tidak berarti apabila dibandingkan dengan wajah orang tuanya di Madura.
"Bukan tergantung tabungan sih, berapa saja yang penting bisa kumpul sama orang tua," kata pria yang sudah merantau sejak tahun 2019 ini.
Antrean Kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk 22 KmSalah satu pemudik bernama Rohmat mengaku terjebak kemacetan selama berjam-jam saat hendak menyeberang dari Bali ke Pulau Jawa, pada Jumat (13/3) malam. Antrean kendaraan mulai terlihat dari Desa Tuwed hingga Pelabuhan Gilimanuk.
"Cek di Google Maps jarak pelabuhan Gilimanuk sampai ke Desa Tuwed itu 22 Km," katanya saat dihubungi.
Ia berangkat mudik dari Kota Denpasar menuju Yogyakarta menggunakan bus pada Jumat (13/3) sekitar pukul 15.00 WITA. Bus baru tiba di Pelabuhan Gilimanuk pada Sabtu (14/3) pukul 02.00 WITA. Bus menyeberang pada Sabtu (14/3) sekitar pukul 05.00 WITA.
"Aku tertahan macet di jalur ke Pelabuhan Gilimanuk sekitar 10 jam padahal biasanya dari Denpasar ke Gilimanuk maksimal 4 jam,” kata Rohmat.
Berdasarkan data PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Gilimanuk, Sebanyak 45.399 penumpang tercatat meninggalkan Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, pada H-8 Lebaran atau Jumat (13/3).
Terpisah, Kapolres Jembrana AKBP Kadek Citra Dewi Suparwati mengatakan peningkatan arus kendaraan memang mulai terjadi di jalur menuju pelabuhan.
Untuk mengantisipasi kemacetan dan antrean kendaraan, kepolisian bersama instansi terkait telah menerapkan sejumlah rekayasa lalu lintas.
Selain itu, polisi juga melakukan kanalisasi atau pemisahan jalur bagi sepeda motor, pengaturan antrean khusus untuk bus dan kendaraan truk agar arus kendaraan lebih tertib.
“Memang ada peningkatan arus kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk. Kami sudah menerapkan sistem buffer zone untuk menampung kendaraan sebelum masuk ke pelabuhan,” kata dia, dikonfirmasi Sabtu (14/3).





