Menteri Keuangan Jepang dan Korea Selatan Siap Lawan Volatilitas Nilai Tukar

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah Jepang dan Korea Selatan menyatakan keprihatinan terkait penurunan tajam atas nilai mata uang dan siap bertindak melawan volatilitas nilai tukar yang berlebihan.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (14/3), Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dan Menteri Keuangan Korea Selatan Koo Yun-cheol sama-sama menyatakan mata uang mereka mengalami depresiasi terhadap dolar AS.

"Menyatakan keprihatinan serius atas depresiasi tajam baru-baru ini pada won Korea dan yen Jepang," kata mereka dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan tahunan di Tokyo.

Yen dan Won telah merosot karena meningkatnya ketegangan dari perang AS-Israel terhadap Iran yang mendorong dolar AS lebih tinggi karena permintaan sebagai aset aman (safe haven) dan menghantam mata uang negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak.

"Selanjutnya, mereka menegaskan kembali bahwa mereka akan memantau pasar valuta asing secara cermat dan terus mengambil tindakan yang tepat terhadap volatilitas yang berlebihan dan pergerakan nilai tukar yang tidak teratur," kata pernyataan itu.

Yen Jepang (JPY) menyentuh titik terendah dalam 20 bulan pada Jumat dan mendekati angka 160,00 terhadap dolar AS yang menurut banyak pelaku pasar dapat mendorong Jepang untuk melakukan intervensi guna mendukung mata uang tersebut.

Sementara Won Korea (KRW) menembus batas psikologis 1.500 per dolar AS bulan ini untuk pertama kalinya sejak Maret 2009. Tokyo dan Seoul sepakat bahwa volatilitas signifikan telah muncul di pasar keuangan, termasuk pasar valuta asing, kata Katayama dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebut.

"Pemerintah Jepang sepenuhnya siap untuk merespons kapan saja, dengan mempertimbangkan dampak pergerakan mata uang terhadap mata pencaharian masyarakat di tengah melonjaknya harga minyak, dan saya percaya kedua belah pihak memiliki pemahaman yang sama," katanya.

Katayama mengatakan Jepang siap bertindak terkait pergerakan yen, meskipun beberapa pembuat kebijakan secara pribadi mengatakan bahwa intervensi untuk menopang yen saat ini mungkin terbukti sia-sia, karena lonjakan permintaan dolar hanya akan meningkat jika perang terus berlanjut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sanksi SPPG Dipertanyakan, Menu Salak Busuk Didiamkan BGN
• 9 jam laluharianfajar
thumb
AAJI: Kinerja Industri Asuransi Jiwa Indonesia Tetap Solid di 2025
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
AS Tawarkan Hadiah 10 Juta Dolar untuk Informasi Tentang Mojtaba Khamenei
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
RI-Singapura Matangkan Ekspor Listrik Bersih, Kepri Disiapkan Jadi Hub Industri Teknologi
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Wamensos Serahkan Santunan untuk Ahli Waris & Korban Longsor Banjarnegara
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.