Cerita Warga Tangsel Pilih Mudik Pakai Mobil Listrik

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Di tengah hiruk-pikuk arus mudik di Rest Area KM 166 Tol Cipali, sebuah pemandangan berbeda terlihat di sudut stasiun pengisian daya.

Sementara antrean panjang mengular di SPBU, beberapa pengendara tampak santai menunggu daya kendaraan mereka terisi di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

‎‎Salah satunya adalah Sendika (35), seorang pegawai swasta asal Tangerang Selatan yang hendak pulang ke kampung halamannya di Cirebon.

‎Pria yang sudah dua tahun beralih ke kendaraan listrik ini mengaku keputusannya berpindah dari mobil konvensional didasari oleh efisiensi biaya yang sangat signifikan.‎

‎Bagi Sendika, perbedaan biaya operasional antara mobil berbahan bakar minyak (BBM) dengan mobil listrik bagaikan bumi dan langit. ‎Saat masih menggunakan mobil konvensional, ia harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mengisi bahan bakar jenis Dex.

‎‎"Kalau mobil konvensional biasa isi Dex itu sekitar Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta untuk ke Cirebon," ujar Sendika saat ditemui kumparan di sela pengisian daya, Minggu (15/3).

‎‎Kini, dengan menggunakan mobil listriknya, biaya operasional tersebut menyusut drastis.

‎‎"Kalau di rumah mungkin enggak nyampe Rp 100 ribu ya. Cuma kalau ngisi (di SPKLU) kayak gini Rp 123 ribu biasanya," tambahnya.

‎‎Strategi Menghadapi Kemacetan

Meski jauh lebih hemat, mudik dengan mobil listrik menuntut perencanaan yang lebih matang. Sendika menjelaskan bahwa mobilnya memiliki jarak tempuh maksimal sekitar 423 km dalam kondisi baterai penuh.

‎‎Namun, faktor AC, penggunaan smartphone, multimedia, hingga mode berkendara sangat memengaruhi ketahanan baterai.

‎‎Tantangan terbesar muncul saat kemacetan melanda. Sendika menekankan pentingnya menjaga ambang batas baterai agar tidak terjebak dalam situasi sulit.

‎‎"Yang paling ditakutkan itu sebenarnya kalau kondisinya macet berjam-jam. Kita harus punya batasan, misalkan sisa 40% kita sudah harus ke SPKLU. Jangan dipres sampai 20% karena kalau stuck di jalan kita malah enggak bisa apa-apa," jelasnya.

Harapan pada Infrastruktur

Proses pengisian daya di SPKLU KM 166 sendiri tergolong cepat. Dengan fasilitas pengisian daya 120 kW hingga 200 kW, Sendika hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga satu jam untuk mengisi daya dari 20% ke level yang cukup untuk melanjutkan perjalanan ke Cirebon.

‎‎Sebagai pengguna mobil listrik, Sendika berharap pemerintah terus menambah jumlah titik SPKLU, terutama di jalur-jalur utama mudik.

‎‎Menurutnya, jumlah dispenser pengisian daya di tiap titik perlu diperbanyak mengingat populasi kendaraan listrik yang terus tumbuh.

‎‎Sambil menunggu daya penuh, Sendika bersantai bersama istri dan kedua anaknya. Baginya, mudik kali ini bukan sekadar perjalanan pulang, tapi juga pembuktian bahwa teknologi ramah lingkungan bisa membuat tradisi tahunan ini menjadi lebih ekonomis dan berkesan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Ungkap Dapat Dukungan Militer Rusia dan China untuk Hadapi Israel-AS
• 16 jam lalusuara.com
thumb
Dirresnarkoba Polda NTT Dinonaktifkan, Diduga Terlibat Pemerasan
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Bentley Bentayga Artenara Edition, Kemewahan dari Pegunungan Gran Canaria
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
Makna Geopolitik Belanda Ikut Gugat Intervensi Kasus Genosida Gaza oleh Israel
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Prof Bus Jadi Dekan FK Unusa, Perkuat Mutu Pendidikan dan Riset
• 18 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.