New York: Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS) sedikit naik pada Minggu malam waktu setempat (Senin WIB), karena investor memantau perkembangan perang di Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga minyak sambil menunggu pertemuan kebijakan Federal Reserve dalam beberapa hari mendatang.
Mengutip Investing.com, Senin, 16 Maret 2026, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,4 persen menjadi 6.709,50 poin, sementara kontrak berjangka Nasdaq 100 juga naik 0,4 persen menjadi 24.700,75 poin. Sedangkan kontrak berjangka Dow Jones diperdagangkan 0,3 persen lebih tinggi pada 47.031,0 poin.
Ketiga indeks utama ditutup lebih rendah pada Jumat (13/3), mengakhiri pekan yang lemah di Wall Street karena kenaikan harga minyak mentah dan ketegangan geopolitik membebani sentimen risiko.
Indeks S&P 500 turun 1,6 persen pekan lalu, dan Dow Jones Industrial Average mencatat kerugian mingguan sebesar dua persen, sementara Nasdaq Composite merosot 1,3 persen.
Baca juga: Wall Street Ambruk 3 Minggu Berturut-turut Imbas Perang AS-Iran Konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dipelototi
Harga minyak melonjak pekan lalu dan menetap di atas USD100 per barel, didukung oleh kekhawatiran akan gangguan pasokan seiring dengan meningkatnya perang AS-Israel dengan Iran.
Harga minyak mentah Brent naik di atas USD105 per barel sementara minyak mentah AS diperdagangkan sekitar USD100, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan harga minyak sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran atas pasokan dari kawasan Teluk setelah Iran membatasi pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi semakin meningkatkan kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan terhadap aliran energi global.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan serangan lebih lanjut terhadap pusat ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg dan mengatakan bahwa ia belum siap untuk mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Kekhawatiran inflasi jadi fokus utama pertemuan Fed
Konflik di Timur Tengah telah mengguncang pasar keuangan global, dengan para analis memperingatkan harga minyak yang terus berada di atas USD100 dapat memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Para investor kini mengalihkan fokus mereka ke pertemuan kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan pada 17-18 Maret mendatang.
Pasar secara umum memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah karena para pembuat kebijakan menilai dampak ekonomi dari kenaikan harga energi dan tekanan inflasi yang terus berlanjut terkait dengan lonjakan harga minyak.
Para pedagang juga akan memperhatikan komentar dari para pejabat Fed untuk mendapatkan petunjuk tentang prospek kebijakan, karena lonjakan harga minyak mentah mengancam akan mempersulit jalan bank sentral menuju pemangkasan suku bunga di akhir tahun ini.




