Mata Uang Asia Beda Nasib: Won- Ringgit Ijo Royo-Royo, Rupiah Ambruk

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang negara-negara Asia cenderung bervariasi pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (16/3/2026), di tengah dinamika dolar Amerika Serikat (AS) yang masih menjadi perhatian pasar seiring perang di Timur Tengah yang belum mereda.

Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.05 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, lima mata uang menguat, tiga mata uang melemah, dan dua mata uang stagnan terhadap dolar AS.

Penguatan paling besar dipimpin won Korea Selatan yang naik 0,32% ke posisi KRW 1.496,6/US$. Dolar Singapura menyusul dengan menguat 0,19% ke SGD 1,28/US$, sementara yen Jepang pun terapresiasi sebesar 0,16% ke JPY 159,46/US$.

Dari sisi lainnya, dolar Taiwan masih mampu menguat 0,05% ke TWD32,063/US$, diikuti ringgit Malaysia yang juga naik 0,05% ke MYR3,934/US$.

Sementara itu, rupiah Garuda harus berada di zona merah dengan melemah 0,03% ke level Rp16.940/US$. Pelemahan rupiah juga seiring dengan Yuan China yang terkoreksi tipis 0,02% ke CNY 6,89/US$, sedangkan peso Filipina menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,22% ke PHP 59,83/US$.

Adapun dong Vietnam dan baht Thailand terpantau stagnan, masing-masing di level VND26.270/US$ dan THB32,42/US$.

Pergerakan yang cenderung bervariasi ini terjadi di tengah dinamika indeks dolar AS (DXY). Pada waktu yang sama, DXY tercatat melemah 0,12% ke level 100,248. Meski turun pada pagi ini, dolar AS masih menjadi sorotan setelah mencatatkan performa mingguan terbaik sejak September 2024, menguat sekitar 1,7% pekan lalu.

Penguatan dolar AS sepanjang pekan lalu ditopang meningkatnya permintaan aset safe haven seiring perang di Timur Tengah yang memasuki pekan ketiga, serta harga energi yang masih tinggi.

Pasar juga menyoroti kondisi Selat Hormuz yang disebut-sebut masih "praktis tertutup" di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal dan laporan aktivitas ranjau di kawasan tersebut.

Risiko gangguan pasokan energi tetap besar, terlebih harga minyak Brent telah melonjak tajam sepanjang bulan ini dan berada di atas ambang psikologis US$100 per barel. Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat, sekaligus membuat pelaku pasar cenderung mempertahankan posisi pada aset berdenominasi dolar AS.

Kondisi tersebut mengindikasikan investor masih memburu dolar AS sebagai aset aman. Pada gilirannya, ruang penguatan mata uang negara lain mengecil, termasuk mata uang Asia, sehingga pergerakannya cenderung bervariasi pada perdagangan pagi ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Frankenstein Raih Oscar 2026 Kategori Desain Produksi Terbaik
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
3 Bupati Jateng Kena OTT, Alarm Keras Tata Kelola Pemerintahan Daerah
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka Meski Berada di Bawah Kendali Teheran
• 17 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pramono Anung Bakal Salat Id di Istiqlal dan Gelar Open House Sederhana di Balai Kota
• 15 jam laluliputan6.com
thumb
Sinopsis Film Doom: Perjuangan Rosamund Pike Melawan Teror Mutan di Mars
• 19 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.