Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mendesak polisi segera mengungkap pelaku hingga aktor intelektual di balik serangan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.
Perwakilan KontraS, Jane, menegaskan penegakan hukum yang serius, imparsial, dan transparan menjadi bentuk dukungan paling penting bagi korban saat ini.
“Memastikan agar proses penegakan hukum itu dapat berjalan serius, imparsial, dan juga transparan, serta kita bisa terus mendorong adanya pengungkapan para pelaku yang terlibat, baik pelaku di lapangan maupun aktor intelektual di balik kasus serangan air keras yang menimpa rekan kami,” kata Jane dalam konferensi pers di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, Senin (16/3).
Menurut Jane, Andrie Yunus saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah mengalami luka bakar cukup serius akibat serangan tersebut.
Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan korban mengalami luka bakar sekitar 24% akibat cairan asam yang mengenai tubuhnya. Luka ada di bagian wajah sisi kanan, mata kanan, kedua tangan, serta dada.
Dari sejumlah luka yang dialami, kondisi paling serius berada di mata kanan korban yang kini mendapatkan penanganan khusus dari dokter spesialis bedah mata.
Di sisi lain, KontraS menilai serangan tersebut memiliki indikasi kuat sebagai tindakan yang direncanakan dan dilakukan secara terorganisir.
“Cara pelaku menyerang dengan menyiramkan cairan asam secara langsung ke wajah dan area pernapasan menunjukkan bahwa tindakan tersebut bukan sekadar kekerasan biasa, tetapi berpotensi sebagai percobaan pembunuhan berencana,” ujarnya.
Sementara itu, KontraS memandang serangan terhadap Andrie tidak hanya menyasar individu semata, tetapi juga dapat dimaknai sebagai bentuk teror terhadap masyarakat sipil, khususnya para pembela HAM.
“Serangan ini tidak hanya menyerang subjek tunggal, tetapi juga merupakan serangan terhadap masyarakat sipil secara luas yang berpotensi membungkam mereka yang berani mengkritik kekuasaan dan memperjuangkan keadilan,” kata Jane.
KontraS juga menegaskan akan terus mendorong aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut serta memastikan pemulihan menyeluruh bagi korban, termasuk perawatan medis, rehabilitasi, hingga pemulihan kerugian materiil dan immateriil.
“Kami mendesak kepolisian segera menangkap dan mengadili pelaku serta mengungkap seluruh pihak yang terlibat, tidak hanya pelaku lapangan tetapi juga aktor intelektual di balik serangan ini,” ujar Jane.
Sebelumnya, Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold Hutagalung dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Senin (16/3), mengatakan telah memeriksa tujuh saksi kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Para saksi itu dibagi jadi dua klaster, yang pertama ada empat saksi di lokasi tempat Andrie Yunus disiram air keras.
"Penyidik telah melakukan interview terhadap saksi-saksi yang mengetahui, mendengar, dan berada di sekitar TKP sebanyak empat orang," ujar Reynold.
Reynold mengatakan para saksi tersebut merupakan pemilik CCTV, yang menolong Andrie Yunus, hingga yang sempat berusaha mengejar pelaku di TKP, Jalan Salemba 1, Jakarta Pusat saat peristiwa terjadi pada Kamis (12/3).
Kemarin, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, telah memastikan bahwa peristiwa ini akan diusut oleh jajarannya secara transparan hingga tuntas.
"Saat ini saya telah mendapatkan perintah langsung dari Bapak Presiden untuk melaksanakan pengusutan tuntas secara profesional, transparan," kata Sigit di Stasiun Gubeng, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (15/3).
Sigit memastikan, pengusutan perkara ini akan dilakukan secara scientific crime investigation. Hingga kini, proses pengumpulan alat bukti dan keterangan saksi masih dilakukan.
"Yang kita lakukan tentunya tetap mengedepankan scientific crime investigation. Saat ini, kita sedang melakukan pengumpulan informasi-informasi dan informasi-informasi tersebut nantinya akan kita dalami satu per satu," ujarnya.





