Oleh: Kamarul Zaman, Pengurus Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Salah satu amalan utama yang dicontohkan Rasulullah saw pada sepuluh hari terakhir Ramadan adalah i’tikaf.
Pengertian i’tikaf berarti berdiam di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui ibadah seperti salat, membaca atau menghapal Al-Qur’an, dzikir, dan doa.
Sebuah hadits menyebutkan, “Nabi saw selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari).
Baca Juga: Umat Muslim Kejar 'Lailatul Qadar', Begini Suasana Itikaf di Masjid Istiqlal Jakarta
Hal ini menunjukkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan seharusnya menjadi fase kontemplasi spiritual, bukan masa paling sibuk dengan urusan dunia semata, sehingga bisa fokus beribadah dan memperoleh lailatul qadar.
Namun demikian, realitas masyarakat modern kini menunjukkan gejala yang berbeda.
Ketika Ramadan memasuki sepuluh hari terakhir, aktivitas ekonomi justru meningkat drastis.
Beberapa aktivitas yang sering menyita perhatian umat antara lain: berburu THR, berbelanja baju lebaran, menyiapkan kue dan hidangan Idulfitri, mengatur perjalanan mudik, dan membersihkan rumah serta persiapan menyambut tamu.
Tidak sedikit orang yang justru menghabiskan malam-malam akhir Ramadan di pusat perbelanjaan atau dalam perjalanan.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi Ramadan: dari bulan peningkatan spiritual menjadi musim konsumsi dan persiapan seremonial.
Masjid yang sebelumnya ramai perlahan mulai lengang, sementara pusat perbelanjaan justru dipadati pengunjung.
Fenomena ini menjadi ironi tersendiri, karena saat peluang pahala terbesar datang, perhatian manusia justru teralihkan pada kesibukan dunia.
Padahal, dalam ajaran Islam, Idulfitri bukan sekadar perayaan budaya, tetapi merupakan hari kemenangan spiritual setelah umat Islam menjalani latihan pengendalian diri selama sebulan penuh.
Meskipun begitu, persiapan menyambut Idulfitri tentu bukan sesuatu yang terlarang dalam Islam, justru agama yang seimbang dan tidak memisahkan antara kehidupan spiritual dan sosial.
Namun, yang perlu dijaga dan dikembalikan di akhir Ramadan ini adalah prioritas waktu dan perhatian.
Oleh karena itu, berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan agar akhir Ramadan tetap produktif secara spiritual, yakni:
1. Menyelesaikan persiapan dunia lebih awal; Belanja kebutuhan lebaran sebaiknya dilakukan sebelum sepuluh hari terakhir Ramadan.
2. Menghidupkan malam dengan ibadah; Salat malam, membaca atau menghafal Al-Qur’an, dan berdoa menjadi amalan utama dalam mencari lailatul qadar.
3. Memperbanyak istighfar dan doa; Rasulullah saw mengajarkan doa khusus ketika mencari lailatul qadar: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”(HR. Tirmidzi).
Penulis : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- Ramadan 2026
- itikaf ramadan
- ramadan 1447 H
- anomali akhir ramadan
- Idulfitri 1447 H
- sepuluh hari terakhir ramadan





