Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Idulfitri sebagai momen yang dinanti oleh seluruh umat Islam dunia akan tiba sebentar lagi. Tapi tahukah kamu, di momen spesial ini terdapat potensi lonjakan sampah yang terjadi?
Hal itu disebabkan oleh banyaknya aktivitas yang memungkinkan orang menghasilkan lebih banyak sampah, seperti dari konsumsi makanan, kemasan sekali pakai, hingga tradisi berbagi bingkisan.
Advertisement
Sampah yang semakin menumpuk sangat berdampak pada masalah lingkungan yang serius. Mulai dari masalah pencemaran lingkungan, sumber kuman penyakit, hingga dapat mengganggu kehidupan makhluk hidup lain.
Saat Lebaran, sering kali kita melupakan kebiasaan ramah lingkungan karena terbawa suasana berkumpul bersama keluarga. Selain itu, masih sering juga dalam berbelanja kita terbiasa memilih produk-produk praktis yang sekali pakai demi kemudahan, mulai dari plastik, makanan, tisu dan lainnya.
Selain di Hari Idulfitri, momen mudik juga tak jarang meninggalkan masalah sampah yang menumpuk. Pada tahun lalu, Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, dalam masa mudik timbulan sampah bertambah hingga 72 ribu ton, sehingga pihaknya telah mengeluarkan edaran untuk mengendalikan sampah selama libur Lebaran.
"Dari proyeksi yang mudik berdasarkan angka yang disampaikan Kementerian Perhubungan di angka 146 juta, maka proyeksi sampah selama pelaksanaan mudik sekitar 10 hari itu sekitar 72.300 ton selama hari itu saja," kata Hanif, seperti dilansir Antara.
Ia juga menekankan bahwa sampah merupakan tanggung jawab bersama. Sehingga setiap orang wajib bertanggung jawab terhadap sampahnya masing-masing.
"Sampah kita ini tanggung jawab kita. Semakin banyak sampah semakin banyak biaya yang harus kita keluarkan untuk membayar tanggung jawab. Sekali lagi tidak ada sampah itu berkah," imbuhnya.




