Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan pemudik membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan kebutuhan keuangan guna melakukan perjalanan menuju kampung halaman pada periode mudik Lebaran 2026.
Baca Juga
- JELAJAH LEBARAN 2026: Masyarakat Antusias Manfaatkan Mudik Gratis Pupuk Indonesia
- JELAJAH LEBARAN 2026: Pelni Cabang Semarang Tambah Armada dan Kapasitas Hadapi Arus Mudik
- JELAJAH LEBARAN 2026: ASDP Tak Perhitungkan Untung Rugi Selama Mudik 2026
Beberapa pemudik bahkan perlu menyisihkan uang sejak 6 bulan lamanya untuk dapat memutuskan kepulangan mereka ke kampung halaman. Bukan sekadar tiket transportasi, berbagi dana dengan keluarga menjadi alasan terbesar bagi upaya ini.
Ella (26) menjadi salah satu perantau asal Bondowoso, Jawa Timur yang melakukan kebiasaan ini. Sedikitnya sebesar 20% dari gaji bulanannya disisihkan untuk biaya mudik Lebaran Idul Fitri.
Perempuan yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta ini, menilai bahwa penting menyisihkan dana bagi keluarga di kampung halaman lantaran jarak yang memisahkan Ella dengan keluarganya selama ini.
"Untuk persiapan lebaran itu kan bukan hanya biaya pulang pergi aja tuh. Jadi bisa kirim untuk keluarga juga kalau ada untuk keluarga, jadi amannya memang harus nabung sih. Setiap bulannya biasanya saya alokasikan 20% dari pendapatan," katanya kepada Bisnis di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur, Rabu (18/3/2026).
Senada dengan Ella, Ayu (30) juga melakukan persiapan serupa. Perantau asal Sukoharjo, Jawa Tengah ini rela menyisihkan pendapatannya demi bisa merayakan Idulfitri bersama orang tua. Ia bahkan secara khusus mengalokasikan 10% dari gaji bulanannya untuk pos anggaran mudik.
Langkah ini ia ambil bukan tanpa alasan. Dana simpanan tersebut tidak hanya disiapkan untuk mengakomodasi lonjakan harga tiket transportasi, tetapi juga untuk berbagi rezeki dengan kerabat di kampung halaman.
"Kan kalau itu [mudik] bukan cuma buat ongkos ke sana aja ya. Jadi buat selama di kampung harus ngasih THR gitu. Jadi mengalokasikan sekitar 10% dari gaji bulanan," katanya kepada Bisnis, Rabu (18/3/2026).
Ayu termasuk kelompok perantau yang beruntung karena rutin pulang kampung setiap tahun. Baginya, selama kondisi memungkinkan, momen tatap muka dengan kedua orang tua adalah prioritas yang tidak boleh terlewatkan.
"Kebetulan juga orangtuaku keduanya masih ada. Jadi ada kesempatan ini tiap tahun untuk pulang, diusahakan. Apapun keadaannya, harus pulang," tegasnya.
Setali tiga uang, Fitri (30) turut mengakui pentingnya menyisihkan sebagian penghasilan demi tradisi pulang kampung tahunan. Saban bulan, ia secara konsisten mengalokasikan dana lebih dari 20% dari total pendapatannya khusus untuk tabungan mudik.
Perempuan yang berasal dari Tegal, Jawa Tengah ini menjelaskan bahwa pos anggaran tersebut dipersiapkan begitu besar karena adanya tradisi turun-temurun di desanya, yakni membagikan buah tangan bagi sanak saudara di kampung halaman. "Soalnya kan kalau di kampung saya ada tradisi ngasih bingkisan gitu ke saudara. Lumayan itu budget-nya," katanya.
Beban finansial Fitri sedikit terangkat tahun ini karena ia berhasil mengamankan kuota dalam program Mudik Gratis BUMN 2026. Menjadi bagian dari rombongan yang difasilitasi oleh PLN, Fitri merasa terbantu dalam memangkas biaya operasional selama periode Lebaran.
Langkah PLN ini sejalan dengan inisiatif sejumlah perusahaan pelat merah lainnya yang menyediakan fasilitas serupa. Sebagai contoh, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang juga telah melepas keberangkatan pemudik, masing-masing dengan kuota mencapai 7.000 dan 10.000 orang.





