Bisnis.com, JAKARTA — PT Clipan Finance Indonesia Tbk. (CFIN) menyampaikan tren penyaluran pembiayaan baru pada awal 2026 menunjukkan perkembangan yang cukup stabil dengan tetap mengedepankan pertumbuhan yang selektif dan berkualitas.
Direktur Utama Clipan Finance Indonesia Harjanto Tjitohardjojo menyebutkan bahwa hingga Februari 2026, pembiayaan kendaraan mobil baru dan bekas menjadi kontributor terbesar terhadap total portofolio pembiayaan perusahaan.
“Kontribusi terbesar terhadap portofolio pembiayaan masih berasal dari pembiayaan kendaraan mobil baru dan bekas, hingga Februari 2026 total portofolio kendaraan perseroan mencapai > 90%,” katanya kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (19/3/2026).
Sementara itu, lanjutnya, pertumbuhan penyaluran pembiayaan baru perusahaan sejauh ini masih didominasi oleh wilayah Pulau Jawa. Pertumbuhan ini didorong oleh tingginya aktivitas ekonomi, kebutuhan mobilitas masyarakat, dan pasar kendaraan bekas yang relatif besar di wilayah tersebut.
Selain itu, imbuh Harjanto, ditopang oleh posisi Pulau Jawa sebagai pusat ekonomi Indonesia yang memiliki penduduk dan aktivitas bisnis terbesar.
“Serta didukung oleh infrastruktur jalan yang lebih memadai dibandingkan wilayah lainnya, sehingga mendorong tingginya kebutuhan masyarakat akan kendaraan bermotor,” tuturnya.
Harjanto membeberkan untuk mendongkrak penyaluran pembiayaan baru pada 2026, Clipan Finance berfokus pada diversifikasi segmen kendaraan dan meningkatkan customer experience. Sementara itu, pembiayaan yang dinilai masih menjadi andalan adalah pembiayaan sektor kendaraan bermotor.
“Ditambah dengan strategi memperkuat kerja sama dengan dealer, menawarkan skema kredit kompetitif, memanfaatkan tren kendaraan listrik, serta melakukan digitalisasi dan diversifikasi pembiayaan sambil menjaga kualitas aset,” jelasnya.
Meski demikian, dia tidak memungkiri masih ada tantangan yang perlu dihadapi pada tahun ini. Tantangan itu terletak pada menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan kualitas aset di tengah tekanan daya beli masyarakat, persaingan industri dan dinamika ekonomi yang semakin kompleks.
Tidak hanya itu, dia menyebut kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, termasuk fluktuasi suku bunga, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi di beberapa negara mitra dagang utama, turut memberikan dampak tidak langsung terhadap perekonomian domestik dan perilaku konsumen. Sebab itu, perseroan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Di lain sisi, Harjanto turut mengungkapkan kualitas pembiayaan baru pada awal 2026 masih terjadi dengan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) di kisaran sekitar 2%, relatif stabil dan jauh di bawah batas aman industri yakni 5%.
“Untuk menjaga NPF tetap dalam batas kendali yang diinginkan, perseroan memperketat seleksi debitur, memperkuat analisis kredit berbasis data, serta melakukan monitoring portofolio pembiayaan secara berkala agar potensi kredit bermasalah bisa dideteksi lebih dini,” ujarnya.
Dia menambahkan, dalam rangka mitigasi risiko, penerapan strategi pengelolaan risiko yang komprehensif serta penguatan kapasitas tim collection untuk penanganan debitur yang mengalami kesulitan pembayaran secara lebih proaktif juga dilakukan oleh pihaknya.
“Selain itu, perseroan senantiasa memperkuat tata kelola manajemen risiko yang selaras dengan ketentuan regulator, sehingga kualitas aset dapat terjaga secara berkelanjutan di tengah berbagai tantangan ekonomi yang ada,” tuturnya.





