Liputan6.com, Jakarta - Tim ilmuwan asal China berhasil mengidentifikasi berbagai faktor yang memicu keragaman perubahan iklim di seluruh Asia selama 130.000 tahun terakhir. Temuan ini menjadi kemajuan dalam kajian akumulasi debu, dinamika kelembapan, serta mekanisme penggerak pada berbagai skala ruang dan waktu di kawasan Asia, menurut Universitas Lanzhou.
"Dipublikasikan dalam jurnal Science Advances, studi ini memberikan tolok ukur skala waktu jangka panjang untuk memprediksi tren perubahan iklim di masa depan," ujar Li Guoqiang, profesor di Fakultas Ilmu Bumi dan Lingkungan Universitas Lanzhou, kepada Xinhua, melansir Antara, Rabu 18 Maret 2026.
Advertisement
"(Studi) itu juga menawarkan dasar ilmiah yang signifikan untuk menganalisis tren pengeringan di Asia, perubahan pola curah hujan, serta risiko aktivitas debu di tengah kondisi pemanasan global," sambungnnya.
Menurut Li, sebelumnya terdapat perdebatan yang cukup besar terkait proses evolusi dan mekanisme pendorong berbagai sistem iklim, termasuk dampaknya terhadap variasi spasial perubahan iklim di Asia.
Perubahan iklim di Asia dipengaruhi oleh berbagai sistem sirkulasi berskala besar, seperti monsun barat lintang menengah, monsun musim panas Asia Timur dan Asia Selatan, serta monsun musim dingin Asia Timur.
Variasi kekuatan sistem-sistem ini beserta interaksinya telah membentuk pola hidroklimat secara signifikan di kawasan tersebut, sekaligus memberikan dampak luas terhadap lingkungan dan perkembangan sosial masyarakat.




