Washington (ANTARA) - Pemerintahan Trump tidak berencana memberlakukan pembatasan ekspor minyak dan gas untuk mengendalikan harga di tengah serangan militer melawan Iran, kata Menteri Energi AS Chris Wright pada Kamis.
"Agar jelas, pemerintahan Trump tidak memiliki rencana untuk menerapkan pembatasan ekspor minyak dan gas," tulis Wright di X.
Wright juga memuji Presiden Donald Trump, dan menyebut kebijakan-kebijakannya telah menjadikan AS sebagai produsen minyak dan gas alam terkemuka di dunia.
Eskalasi perang melawan Iran telah menyebabkan terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, dan juga telah mempengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.
Sebagai bagian dari upaya untuk menekan harga energi, AS menyetujui pelepasan 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis selama periode empat bulan dan mencabut pembatasan terhadap minyak Rusia yang terperangkap di laut.
Sebagaimana diwartakan, para eksekutif perusahaan minyak mengingatkan Gedung Putih bahwa penutupan Selat Hormuz, yang berdampak pada penghentian pengiriman, bisa semakin membuat harga minyak global semakin naik, ungkap laporan The Wall Street Journal yang disiarkan pada Minggu (15/3).
CEO ExxonMobil Darren Woods, CEO Chevron Mike Wirth, dan CEO ConocoPhillips Ryan Lance mengatakan gangguan lalu lintas pengiriman akan terus menciptakan ketidakstabilan di pasar energi global.
Gedung Putih sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk menurunkan harga minyak dunia, termasuk melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia, melepas sscara besar-besaran cadangan energi darurat, menghapus batasan pengiriman minyak mentah antar-pelabuhan Amerika, serta meningkatkan pengiriman minyak Venezuela, kata seorang pejabat Gedung Putih.
Selama dua pekan terakhir, para pejabat Amerika telah berdiskusi dengan Exxon dan ConocoPhillips mengenai investasi miliaran dolar di sektor minyak Venezuela, kata surat kabar itu.
Namun demikian, banyak pihak di industri minyak khawatir bahwa langkah tersebut tidak dapat membantu menyelesaikan krisis secara signifikan, dengan alasan bahwa satu-satunya solusi nyata adalah membuka kembali Selat Hormuz.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Trump minta Netanyahu tak lagi serang ladang migas Iran
"Agar jelas, pemerintahan Trump tidak memiliki rencana untuk menerapkan pembatasan ekspor minyak dan gas," tulis Wright di X.
Wright juga memuji Presiden Donald Trump, dan menyebut kebijakan-kebijakannya telah menjadikan AS sebagai produsen minyak dan gas alam terkemuka di dunia.
Eskalasi perang melawan Iran telah menyebabkan terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, dan juga telah mempengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.
Sebagai bagian dari upaya untuk menekan harga energi, AS menyetujui pelepasan 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis selama periode empat bulan dan mencabut pembatasan terhadap minyak Rusia yang terperangkap di laut.
Sebagaimana diwartakan, para eksekutif perusahaan minyak mengingatkan Gedung Putih bahwa penutupan Selat Hormuz, yang berdampak pada penghentian pengiriman, bisa semakin membuat harga minyak global semakin naik, ungkap laporan The Wall Street Journal yang disiarkan pada Minggu (15/3).
CEO ExxonMobil Darren Woods, CEO Chevron Mike Wirth, dan CEO ConocoPhillips Ryan Lance mengatakan gangguan lalu lintas pengiriman akan terus menciptakan ketidakstabilan di pasar energi global.
Gedung Putih sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk menurunkan harga minyak dunia, termasuk melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia, melepas sscara besar-besaran cadangan energi darurat, menghapus batasan pengiriman minyak mentah antar-pelabuhan Amerika, serta meningkatkan pengiriman minyak Venezuela, kata seorang pejabat Gedung Putih.
Selama dua pekan terakhir, para pejabat Amerika telah berdiskusi dengan Exxon dan ConocoPhillips mengenai investasi miliaran dolar di sektor minyak Venezuela, kata surat kabar itu.
Namun demikian, banyak pihak di industri minyak khawatir bahwa langkah tersebut tidak dapat membantu menyelesaikan krisis secara signifikan, dengan alasan bahwa satu-satunya solusi nyata adalah membuka kembali Selat Hormuz.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Trump minta Netanyahu tak lagi serang ladang migas Iran





