Presiden Prabowo Subianto menginginkan seluruh kendaraan di Indonesia di masa depan menggunakan energi listrik. Hal ini merupakan salah satu strategi untuk menghadapi harga minyak dunia yang fluktuatif.
Menurut Prabowo, jika masyarakat masih terus menggunakan kendaraan dengan mesin bensin maupun diesel, hal ini membuat masih adanya ketergantungan utamanya pada impor energi.
“Saya ingin total listrik. Kenapa? Dan saya ingin listriknya itu dari, solar, dari matahari, kenapa? Justru menghadapi ini (harga minyak). Kalau kita mau pakai mobil, combustion engine, mobil, bensin atau solar, masih tergantung lagi kita impor,” kata Prabowo dalam acara Presiden Prabowo Menjawab bersama jurnalis senior dan pengamat di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/3).
Prabowo juga sudah membuat simulasi bahwa jika mobil dan motor diarahkan menjadi kendaraan listrik, maka penghematan yang dilakukan bisa luar biasa. Selain itu, industrialisasi terkait juga akan dihidupkan kembali.
“Ternyata, yang naik motor, kalau dia pakai listrik, pengeluarannya tinggal 20 persen, 1 per 5. Jadi ini, ini game changer,” ujarnya.
Sebagai rencana jangka panjang, Prabowo juga ingin melakukan konversi terhadap seluruh mobil, motor bahkan traktor menjadi kendaraan listrik. Namun, opsi kendaraan dengan bahan bakar bensin tetap dimungkinkan untuk golongan yang disebut Prabowo sebagai ‘orang kaya’.
“Tapi the whole plan is, semua motor kita akan kita konversi menjadi motor listrik. Semua mobil, semua truk, semua traktor, harus tenaga listrik. Jadi nanti orang kaya, yang punya Lamborghini, Ferrari, silakan, lo pakai bensin, lo bayar aja harga dunia, mau USD 200, lo orang kaya kok,” kata Prabowo.
Karena Prabowo menginginkan pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan tersebut berasal dari tenaga surya atau matahari, dia menargetkan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk kapasitas 100 gigawatt (GW).
“Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, paling lambat dua tahun. Kita harus punya tenaga surya 100 gigawatt,” ujarnya.
Saat ini kapasitas listrik dari tenaga surya yang diproduksi Indonesia baru mencapai 11 GW. Ke depan, Prabowo juga ingin menutup Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Hal ini karena PLTD dianggap memiliki biaya produksi yang cukup mahal.
“Kita masih punya, pembangkit listrik tenaga diesel sebesar,13 gigawatt, Jadi ini harus kita tutup. Tidak boleh lagi ada listrik dari diesel, terlalu mahal. Jadi kita saya kira dalam waktu dekat, 13 gigawatt bisa kita adakan (dengan tenaga surya),” kata Prabowo.





