EtIndonesia. Presiden Kosta Rika Rodrigo Chaves pada Rabu (18/3/2026) menyatakan bahwa rezim komunis Kuba telah memperlakukan rakyatnya secara tidak manusiawi, melakukan penindasan, dan menciptakan kondisi hidup yang buruk. Ia menegaskan tidak mengakui legitimasi pemerintah Kuba, serta telah memerintahkan penutupan kedutaan besar Kosta Rika di Havana, dan meminta diplomat Kuba untuk meninggalkan ibu kota San José.
Chaves menyampaikan pernyataan tersebut saat menghadiri peresmian fasilitas pemindai narkoba yang disumbangkan oleh Amerika Serikat, dengan kehadiran duta besar AS. Ia juga mengatakan: “Kita harus membersihkan pengaruh komunisme di Belahan Barat.”
Menteri Luar Negeri Kosta Rika, Arnoldo André, menyatakan bahwa Kuba hanya akan diizinkan mempertahankan layanan konsuler di Kosta Rika.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Kuba menyatakan bahwa pada 17 Maret mereka diberitahu mengenai permintaan Kosta Rika agar diplomat Kuba meninggalkan negara tersebut. Mulai 1 April, hanya staf konsuler yang akan tetap berada. Pihak Kosta Rika disebut tidak memberikan alasan resmi atas keputusan tersebut.
Pemerintah Kuba juga menilai langkah ini sebagai bagian dari gelombang baru tekanan yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk mengisolasi Kuba.
Pemerintah Kuba saat ini menghadapi tekanan yang semakin besar. Washington, D.C. dilaporkan sedang menerapkan blokade minyak terhadap negara tersebut, serta secara terbuka menyatakan keinginan untuk mengakhiri konfrontasi hampir 70 tahun dengan negara komunis satu partai itu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 16 Maret juga mengatakan bahwa ia akan “mengambil alih” Kuba, dan menambahkan bahwa “kami akan segera mengambil tindakan terhadap Kuba.” (Hui)





