Darah Muda yang Bisa Jadi Senjata Mematikan Persebaya Surbaya Musim Depan: Winger PSM Victor Dethan dan Marselino Ferdinan

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Sepak bola selalu menyimpan ironi yang tak terhindarkan: ketika masa depan tampak menjanjikan, masa kini justru sedang rapuh. Di satu sisi, muncul geliat darah muda seperti Victor Dethan dan Marselino Ferdinan—dua nama yang mewakili harapan, energi, dan kemungkinan. Di sisi lain, ada Persebaya Surabaya yang tengah bergulat dengan persoalan mendasar: kehilangan keseimbangan.

Di Makassar, cerita tentang Victor Dethan bergerak seperti kurva yang sempat menurun sebelum kembali menanjak. Winger berusia 21 tahun itu pernah terpinggirkan, berdiri di antara bayang-bayang pemain asing dan minimnya kepercayaan. Di era Tomas Trucha, menit bermainnya tak lebih dari serpihan waktu—15 menit akhir pertandingan, atau bahkan nihil sama sekali.

Namun sepak bola sering kali memberi ruang bagi kebangkitan yang sunyi. Ketika tongkat kendali berpindah, ketika kepercayaan diberikan oleh Ahmad Amiruddin, Dethan menjawabnya dengan cara paling sederhana: bermain lepas.

Di Stadion Kie Raha, Ternate, ia tidak sekadar hadir. Ia menentukan. Satu assist, satu peluang matang, dan sebuah penampilan yang membuatnya dinobatkan sebagai pemain muda terbaik pekan itu. Bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa ia akhirnya menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Kebangkitan Dethan bukan hanya cerita individu. Ia adalah representasi dari sesuatu yang lebih besar: pentingnya kepercayaan dalam membentuk pemain muda. Dalam sistem yang tepat, talenta tidak hanya tumbuh—ia meledak.

Sementara itu, ratusan kilometer dari sana, di Samarinda, malam justru menjadi saksi runtuhnya struktur yang selama ini coba dibangun Persebaya.

Di Stadion Segiri, Borneo FC Samarinda seperti badai yang datang tanpa jeda. Lima gol bersarang ke gawang Persebaya—sebuah catatan yang belum pernah mereka alami sejak kembali ke kasta tertinggi pada 2018. Skor 1–5 bukan hanya angka; ia adalah potret kegagalan yang telanjang.

Gol demi gol datang dalam tempo yang nyaris tak memberi ruang bernapas. Juan Villa membuka luka, lalu mengulanginya. Serangan berikutnya mengalir melalui kaki Mariano Peralta, Koldo Obieta, hingga Marcos Astina. Persebaya hanya mampu membalas lewat Leo Lelis—sebuah gol yang lebih menyerupai penanda bahwa mereka masih ada, bukan bahwa mereka mampu melawan.

Bagi Bruno Moreira, malam itu seperti keluar dari skenario yang mereka pahami. Tidak ada ritme, tidak ada kendali. Bahkan ia, yang biasanya menjadi pusat gravitasi serangan, nyaris tak terdengar: tanpa satu pun tembakan ke arah gawang.

Di pinggir lapangan, Bernardo Tavares mencoba merangkai penjelasan. Ia berbicara tentang gol-gol cepat, tentang momen-momen kecil yang berubah menjadi bencana. Tentang bagaimana satu kesalahan posisi, satu keterlambatan reaksi, bisa membuka ruang yang terlalu luas bagi lawan.

Namun di balik semua itu, ada satu benang merah yang sulit disangkal: transisi yang rapuh.

Persebaya tampak seperti tim yang terbelah dua. Ketika menyerang, mereka kehilangan koneksi. Ketika bertahan, mereka kehilangan struktur. Lini tengah, yang seharusnya menjadi jembatan, justru menjadi ruang kosong.

Sepak bola modern tidak lagi hanya soal menyerang atau bertahan. Ia tentang bagaimana sebuah tim berpindah dari satu fase ke fase lain dalam hitungan detik. Dan di situlah Persebaya gagal.

Di tengah situasi itu, wacana tentang kebutuhan pemain seperti Marselino Ferdinan muncul bukan tanpa alasan. Ia bukan sekadar gelandang muda dengan teknik mumpuni, tetapi tipe pemain yang memahami ritme—kapan harus mempercepat, kapan harus menahan, kapan harus menghubungkan.

Marselino adalah jembatan. Sesuatu yang saat ini tidak dimiliki Persebaya.

Namun pertanyaannya tidak sesederhana itu. Apakah menghadirkan satu pemain cukup untuk memperbaiki struktur yang retak? Atau justru persoalannya lebih dalam—terletak pada sistem, bukan individu?

Di sinilah sepak bola sering kali menjadi cermin dari dilema yang lebih luas: antara mencari solusi instan dan membangun fondasi jangka panjang.

Victor Dethan adalah bukti bahwa kesabaran bisa berbuah. Bahwa pemain muda, jika ditempatkan dalam ekosistem yang tepat, mampu menjawab ekspektasi. Tetapi Persebaya juga memberi pelajaran lain: tanpa struktur yang solid, bahkan tim dengan ambisi besar bisa runtuh dalam satu malam.

Musim belum selesai. Waktu masih tersedia untuk memperbaiki, merancang ulang, dan mungkin—memulai kembali.

Namun satu hal menjadi jelas: masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang datang, tetapi oleh bagaimana sebuah tim memahami dirinya sendiri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mobil Tabrak Ruko di Gading Serpong, Polisi: Kasus Berakhir Damai
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Lebih Sehat Mana, Mentega atau Minyak Goreng? Begini Penjelasan Ahli
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
H-1 Lebaran: Arus Lalu Lintas One Way Tol Cipali Lancar
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Pangan Terkendali Selama Ramadan, Begini Komentar Prabowo
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Prabowo Serukan Persatuan dan Kebersamaan di Idulfitri 1447 H
• 1 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.