EtIndonesia. Di tengah sanksi Amerika Serikat terhadap pasokan bahan bakar ke Kuba, berdasarkan data perusahaan intelijen maritim Windward, sebuah tanker yang membawa diesel Rusia diduga menggunakan metode pelayaran yang menipu dan diperkirakan akan tiba di Kuba dalam beberapa hari ke depan.
Menurut laporan AFP, Windward menyatakan secara daring: “Jika atau ketika tanker ini tiba, ini akan menjadi pengiriman bahan bakar olahan pertama yang terkonfirmasi sejak awal Januari.”
Windward menjelaskan bahwa kapal bernama Sea Horse, yang berbendera Hong Kong, pada awal Februari memuat diesel dari kapal lain di lepas pantai Siprus. Pada awal Maret, kapal ini “kemungkinan besar” akan membongkar sekitar 190.000 barel diesel Rusia di Kuba. Namun, hingga pembaruan pada 19 Maret, kapal tersebut masih belum tiba.
Perusahaan tersebut juga menyebutkan bahwa kapal ini sempat mencantumkan tujuan pelayaran ke Havana, lalu mengubahnya menjadi “menunggu instruksi di Gibraltar”, di tengah meningkatnya pengawasan terhadap kargo yang menuju Kuba.
Selain itu, kapal tersebut diduga menggunakan berbagai “taktik penipuan”, termasuk mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS). Setelah menyeberangi Samudra Atlantik pada pertengahan Februari, kapal ini sempat berhenti sekitar 1.300 mil laut dari perairan Kuba, bergerak sangat lambat (kurang dari 1 knot), dan mengirim sinyal “kehilangan kendali”.
Kapal tersebut juga tidak memiliki asuransi dari negara Barat, yang dianggap sebagai indikasi lain upaya menghindari sanksi.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa berdasarkan pelacakan AIS, kapal Sea Horse kini telah kembali melanjutkan pelayaran menuju Kuba dan diperkirakan akan tiba dalam beberapa hari untuk membongkar sekitar 190.000 barel diesel.
Sementara itu, perusahaan intelijen energi Kpler pada Rabu (18 Maret) menyatakan bahwa tanker Rusia lain yang terkena sanksi, Anatoly Kolodkin, juga sedang menuju Kuba dengan membawa sekitar 730.000 barel minyak mentah.
Negara Kuba yang berpenduduk sekitar 9,6 juta jiwa sebelumnya mengalami pemadaman listrik nasional. Krisis ini terjadi setelah pasokan minyak dari Venezuela terhenti menyusul tekanan dan tindakan Amerika Serikat, sehingga memperburuk kondisi ekonomi dan energi di Kuba. (Hui)




