Agam (ANTARA) - Warga di kawasan tepian Danau Maninjau, Sumatera Barat tetap menggelar festival rakik-rakik (rakit hias) pada malam takbiran Idulfitri, Jumat, meski daerah tersebut masih dalam proses pemulihan pascabencana banjir bandang dan longsor pada November lalu.
Festival yang menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat itu, tetap berlangsung meriah meski hanya diikuti oleh dua dari lima jorong yang ada di Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.
Wali Jorong Kubu Baru Panyinggahan, Yudha Anugrah Viligo, mengatakan bahwa biasanya setiap jorong membuat satu rakit, tetapi kondisi pascabencana membuat festival hanya diadakan oleh jorongnya dan Jorong Pasa.
“Kalau biasa, karena Nagari Maninjau ini ada 5 jorong, tiap jorong satu rakik. Tapi kenapa jorong tahun ini tetap turun, semoga ini setelah bencana jadi ‘obat’, selain menjaga tradisi,” kata Yudha.
Baca juga: Penyintas seberang sungai dan tempu jalur darat untuk belanja Lebaran
Sejumlah warga yang mulai berkumpul sejak pukul 21.00 WIB menyetujui bahwa pelaksanaan tradisi ini menjadi “obat” bagi masyarakat yang masih menyimpan trauma akibat bencana. Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga dimaknai sebagai upaya memulihkan semangat kebersamaan.
“Kalau tidak ada pula ini, malam takbiran rasanya sepi juga. Rasanya seperti tidak hari raya, semakin terasa kami di tempat bencana,” kata Riani, warga Kubu Baru Panyinggahan yang setiap tahun menyaksikan festival.
Kapal mulai berlayar sekitar pukul 22.30 WIB, setelah ornamen selesai dipasang sepenuhnya. Pemasangan sempat tertunda akibat hujan deras yang melanda daerah itu pada sore hari.
Kerlip yang berasal dari cahaya lampu di bagian depan rakit memantul di permukaan danau, menciptakan pemandangan yang semarak di tengah malam. Dengan panjang sekitar 10 meter, rakit dihiasi dengan berbagai ornamen warna-warni, bendera, hingga miniatur rumah adat Minangkabau.
Baca juga: Kebersamaan warga dan relawan menguatkan pemulihan Agusen
Anak-anak hingga orang dewasa tampak larut dalam suasana. Sebagian mengabadikan momen, sementara lainnya berjalan menyusuri tepian danau sambil berbincang dengan kerabat dan tetangga.
Kemeriahan kian terasa ketika sekelompok pemuda di bagian depan rakit memainkan gendang tambua tansa. Dentuman batuang atau meriam bambu sesekali memekakkan telinga. Bambu tersebut diisi kalsium karbida, senyawa kristal padat berwarna abu-abu kehitaman yang menghasilkan gas asetilena saat bereaksi dengan air.
Puja, warga setempat yang menunggu di titik lain, menambahkan tradisi ini biasanya berlangsung dua hari, yakni malam takbiran dan malam di hari pertama Lebaran. Menurutnya, warga yang menonton pada hari pertama di tahun ini cukup berkurang, seiring rakit dari jorong sebelah belum selesai dipasang.
Kendati demikian, ia menyebut antusiasme warga tetap terasa, terlihat dari warta yang terus berdatangan meski hari hampir berganti.
“Ini makin malam biasa makan ramai, tahun lalu bisa sampai jam 4 atau jam 5 subuh,” ucapnya.
Baca juga: Gembira dalam remang kehidupan huntara 3x4 meter jelang Lebaran
Festival yang menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat itu, tetap berlangsung meriah meski hanya diikuti oleh dua dari lima jorong yang ada di Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.
Wali Jorong Kubu Baru Panyinggahan, Yudha Anugrah Viligo, mengatakan bahwa biasanya setiap jorong membuat satu rakit, tetapi kondisi pascabencana membuat festival hanya diadakan oleh jorongnya dan Jorong Pasa.
“Kalau biasa, karena Nagari Maninjau ini ada 5 jorong, tiap jorong satu rakik. Tapi kenapa jorong tahun ini tetap turun, semoga ini setelah bencana jadi ‘obat’, selain menjaga tradisi,” kata Yudha.
Baca juga: Penyintas seberang sungai dan tempu jalur darat untuk belanja Lebaran
Sejumlah warga yang mulai berkumpul sejak pukul 21.00 WIB menyetujui bahwa pelaksanaan tradisi ini menjadi “obat” bagi masyarakat yang masih menyimpan trauma akibat bencana. Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga dimaknai sebagai upaya memulihkan semangat kebersamaan.
“Kalau tidak ada pula ini, malam takbiran rasanya sepi juga. Rasanya seperti tidak hari raya, semakin terasa kami di tempat bencana,” kata Riani, warga Kubu Baru Panyinggahan yang setiap tahun menyaksikan festival.
Kapal mulai berlayar sekitar pukul 22.30 WIB, setelah ornamen selesai dipasang sepenuhnya. Pemasangan sempat tertunda akibat hujan deras yang melanda daerah itu pada sore hari.
Kerlip yang berasal dari cahaya lampu di bagian depan rakit memantul di permukaan danau, menciptakan pemandangan yang semarak di tengah malam. Dengan panjang sekitar 10 meter, rakit dihiasi dengan berbagai ornamen warna-warni, bendera, hingga miniatur rumah adat Minangkabau.
Baca juga: Kebersamaan warga dan relawan menguatkan pemulihan Agusen
Anak-anak hingga orang dewasa tampak larut dalam suasana. Sebagian mengabadikan momen, sementara lainnya berjalan menyusuri tepian danau sambil berbincang dengan kerabat dan tetangga.
Kemeriahan kian terasa ketika sekelompok pemuda di bagian depan rakit memainkan gendang tambua tansa. Dentuman batuang atau meriam bambu sesekali memekakkan telinga. Bambu tersebut diisi kalsium karbida, senyawa kristal padat berwarna abu-abu kehitaman yang menghasilkan gas asetilena saat bereaksi dengan air.
Puja, warga setempat yang menunggu di titik lain, menambahkan tradisi ini biasanya berlangsung dua hari, yakni malam takbiran dan malam di hari pertama Lebaran. Menurutnya, warga yang menonton pada hari pertama di tahun ini cukup berkurang, seiring rakit dari jorong sebelah belum selesai dipasang.
Kendati demikian, ia menyebut antusiasme warga tetap terasa, terlihat dari warta yang terus berdatangan meski hari hampir berganti.
“Ini makin malam biasa makan ramai, tahun lalu bisa sampai jam 4 atau jam 5 subuh,” ucapnya.
Baca juga: Gembira dalam remang kehidupan huntara 3x4 meter jelang Lebaran




