Jakarta: Seiring perubahan kondisi ekonomi, masyarakat produktif kini semakin realistis dalam menentukan pilihan tempat tinggal. Kepemilikan rumah tetap menjadi kebutuhan utama bagi keluarga muda. Namun preferensi mulai bergeser ke kawasan sub urban yang menawarkan hunian lebih terjangkau, dengan akses transportasi yang baik serta fasilitas kawasan yang memadai.
Bagi pembeli rumah pertama, keseimbangan antara harga yang terjangkau, aksesibilitas, potensi kenaikan nilai properti dan rekam jejak pengembang menjadi pertimbangan utama dalam memilih hunian.
Tren ini juga tercermin dari sejumlah riset properti yang menunjukkan minat terhadap rumah tapak di kawasan penyangga kota besar masih akan terus meningkat. Leads Property Services Indonesia memproyeksikan permintaan rumah tapak akan tumbuh sekitar lima sampai enam persen pada 2026, didorong insentif pemerintah seperti pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) serta suku bunga yang lebih kompetitif.
Marketing Director Agung Podomoro Yenti Lokat mengatakan saat ini masyarakat semakin rasional dalam mengelola keuangan dan lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan utama, termasuk memiliki rumah yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal tetapi juga sebagai aset jangka panjang.
"Kota Podomoro Tenjo dikembangkan di atas lahan lebih dari 650 hektar sebagai kawasan kota mandiri yang terus berkembang secara progresif. Saat ini kami sudah membuka 10 cluster dan secara total pengembangannya telah berjalan seluas 150 hektar, sehingga para konsumen yang membeli sejak awal tentu dapat melihat perubahannya," kata Yenti dalam keterangan resmi, Jumat, 20 Maret 2026.
Untuk menambah pilihan hunian di Kota Podomoro Tenjo, kawasan ini menghadirkan Midori at Cluster Mahogany yang mengusung nuansa hunian bergaya Jepang dengan karakter arsitektur yang khas. Sebagai produk pertama dengan konsep Jepang, setiap unit dirancang dengan fasad, lanskap, dan ornamen tematik, serta dilengkapi inner greenbelt dan Mahogany Garden sebagai ruang terbuka hijau bagi penghuni.
"Klaster terbaru ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat urban akan hunian fungsional dengan karakter visual yang berbeda. Harganya terjangkau, mulai dari Rp 270 jutaan per unit. Dengan dukungan pembiayaan perbankan dan cicilan sekitar Rp 1 jutaan per bulan, masyarakat semakin dimudahkan untuk memiliki rumah terjangkau di kawasan berkualitas dengan fasilitas yang mendukung kualitas hidup," jelas Yenti.
Seiring perkembangan kawasan, Kota Podomoro Tenjo telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. “Hingga saat ini sekitar 5.400 unit rumah telah kami serahterimakan dan sekitar 1.000 unit diantaranya telah dihuni. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Kota Podomoro Tenjo terus membentuk lingkungan hunian yang semakin aktif dan berkembang,” ujar Yenti.
"Ke depan, kawasan ini akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas penting seperti sarana pendidikan, fasilitas kesehatan, serta berbagai fasilitas umum lainnya yang dirancang untuk menciptakan lingkungan hunian yang nyaman. Situasi ini akan semakin memperkuat konsep Kota Podomoro Tenjo sebagai kawasan hunian terpadu yang berkembang secara berkelanjutan," papar Yenti.
Baca juga: Pembiayaan Properti Syariah Didorong untuk Perkuat Ekosistem Perumahan
(Marketing Director Agung Podomoro Yenti Lokat (kiri) bersama CEO ERA Indonesia Darmadi Darmawangsa (tengah). Foto: dok Istimewa)
Aset properti punya potensi kenaikan nilai di masa depan
CEO ERA Indonesia Darmadi Darmawangsa mengungkap saat ini, banyak masyarakat terutama Milenial dan Gen Z yang masih ragu untuk membeli rumah. Sebagian bahkan memilih untuk menyewa hunian. Namun menurut dia, semakin banyak masyarakat yang mulai menyadari kepemilikan rumah tidak bisa terus ditunda.
Jika keputusan membeli rumah terlalu lama ditangguhkan sementara harga properti terus meningkat, maka akan semakin sulit untuk mengejar kenaikan harga tersebut di masa depan.
"Nilai rupiah bisa tergerus oleh inflasi. Jika tidak dikonversikan ke dalam aset riil seperti properti, nilainya dapat semakin melemah. Properti menjadi salah satu aset yang relatif lebih terlindungi terhadap inflasi," jelas dia.
Darmadi menambahkan, saat ini harga properti yang ditawarkan pengembang dinilai masih belum sepenuhnya mengikuti kenaikan nilai dolar yang cukup tinggi. Kondisi tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk memiliki aset properti dengan potensi kenaikan nilai di masa depan.
Konsep hunian dengan lahan lebih luas dan bangunan yang dapat dikembangkan bertahap menjadi keunggulan bagi pembeli karena dalam investasi properti nilai utama terletak pada tanah yang cenderung terus mengalami apresiasi.




