Tercatat empat pejabat pemerintahan Iran gugur dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Terakhir, Jubir Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Jenderal Ali Mohammad Naini, dikabarkan gugur.
Kabar duka ini disampaikan IRGC. Mereka menyebut Ali Mohammad Naini gugur usai diserang 'teroris pengecut'.
"Gugur dalam serangan teroris pengecut dan kriminal oleh pihak Amerika-Zionis pada subuh hari," kata Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan di situs web Sepah News, dilansir dari AFP, Arab News, dan Al Jazeera pada Jumat (20/3/2026). Kematian Naini menambah deretan pejabat Iran yang gugur dalam konflik Timur Tengah.
Sebelumnya tiga tokoh pemerintahan Iran gugur dalam dua hari serangan oleh AS-Israel. Ketiganya yakni Menteri Intelijen Esmail Khatib; Kepala Keamanan Iran Ali Larijani; dan Kepala Pasukan Paramiliter Basij Gholamreza Soleimani.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengutuk pembunuhan terhadap para pejabat Iran. Dia menyebut para pejabat yang gugur dengan sebutan 'rekan terkasih'.
Dalam sebuah unggahan di X, Pezeshkian menegaskan 'jalan' mereka akan berlanjut dan lebih kuat dari sebelumnya.
Naini Sempat Bantah Israel
Dilansir Al Jazeera pada Kamis (19/3), Naini membantah klaim Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bahwa Iran tidak lagi mampu melawan. Naini mengatakan bahwa Teheran masih membangun rudal. Naini menyampaikan komentar tersebut dalam sebuah laporan yang dikutip oleh surat kabar IRAN milik pemerintah Iran.
"Skor industri rudal kami adalah 20 dan tidak ada kekhawatiran dalam hal ini karena kami memproduksi rudal bahkan dalam kondisi perang, yang luar biasa, dan tidak ada masalah khusus dalam penimbunan," ucap dia.
Dua puluh adalah skor sempurna, menurut sistem pendidikan Iran. Juru bicara IRGC mengatakan perang akan berlanjut.
"Orang-orang ini mengharapkan perang berlanjut sampai musuh benar-benar kelelahan. Perang ini harus berakhir ketika bayang-bayang perang telah sirna dari negara ini," kata Naini.
(aud/aud)





