JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, sebagai momentum untuk memperkuat empati dan kepedulian sosial.
Menurutnya, Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sarana pembentukan karakter yang lebih peka terhadap sesama.
“Puasa adalah proses mengasah kepekaan sosial. Di balik rasa lapar dan dahaga, tersimpan pesan kuat tentang empati kepada sesama dan kepedulian pada mereka yang kekurangan,” ujar Menag dalam pesan Idulfitri 1 Syawal 1447 H di Jakarta, Jumat (20/3/2026).
Menag menjelaskan, gema takbir yang berkumandang menandai berakhirnya Ramadan sekaligus menjadi simbol kemenangan spiritual, yakni kemampuan menjaga nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kemenangan sejati bukan sekadar kembali pada rutinitas, tetapi keberhasilan menjaga nyala api kesalehan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Idulfitri juga menjadi momentum untuk menyemai kebaikan dan meraih keberkahan. Keberkahan, kata dia, hadir pada hati yang terbuka serta pada mereka yang aktif menebar manfaat bagi lingkungan sekitar.
Karena itu, Menag mengingatkan agar semangat Ramadan tidak berhenti saat Idulfitri tiba. Nilai disiplin, kejujuran, dan kepedulian harus terus dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan, kedamaian, dan kerukunan bagi bangsa Indonesia,” tutupnya.
Original Article




