REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah suasana Idul Fitri yang sarat makna, pesan tentang pentingnya memiliki hati yang bersinar kembali digaungkan. Imam Al-Ghazali dalam kitab Mukasyafatul Qulub membagi hati manusia ke dalam empat golongan. Pertama hati yang bersinar (qalbun an-nayyir), kedua hati yang gelap, ketiga hati yang tertutup atau terkunci, dan keempat hati yang di dalamnya terdapat cahaya sekaligus kegelapan.
Hak tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah (PB Al Washliyah), KH Masyhuril Khamis saat bertindak sebagai imam dan khatib Sholat Idul Fitri 1447 H pada 1 Syawal 1447 di Badan Intelijen Negara (BIN) Jakarta.
- Orang Tua Diimbau Nggak Pakai Uang THR Anak untuk Keperluan Keluarga
- Gibran Rakabuming Raka Berswafoto dengan Warga Usai Salat Idul Fitri di Istiqlal
- Idul Fitri di Jayapura Perkuat Ukhuah Islamiah
Kiai Masyhuril mengatakan, di hari yang fitri ini, Imam Ghazali mengingatkan kita bahwa hati yang bersinar adalah sumber integritas sejati, di mana kemampuan membedakan yang hak (benar) dan yang batil (salah) menjadi akarnya. Idul Fitri bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk mengasah ketajaman nurani agar tidak lagi mencampuradukkan kejujuran dengan kebohongan, serta memastikan setiap langkah hidup berdiri tegak di atas prinsip kebenaran yang kokoh.
"Integritas tersebut terpancar melalui disiplin diri yang nyata, yakni menjaga lidah dari dusta, hati dari kedengkian, serta mata dan tangan dari kemaksiatan," kata Kiai Masyhuril di momen Idul Fitri 1447 Hijriyah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Dalam khutbahnya, Kiai Masyhuril menyampaikan, seseorang yang kembali ke fitrahnya tidak akan mengambil hak orang lain, melainkan justru memperbanyak syukur dengan tangan di atas. Dengan menjaga kaki tetap melangkah di jalan Allah, membuktikan bahwa ketaatan adalah wujud integritas yang terus meningkat sejalan dengan nikmat yang diterima.
Imam Al-Ghazali juga merinci sifat taqwa (hati yang bersinar itu) akan membentuk manusia yang menjaga lidahnya agar tidak berdusta, fitnah, cela dan ghibah. Menjaga hati tidak dengki, hasad, mendendam dan membenci. Memelihara mata dari melihat hal yang dilarang Allah. Menjaga tangannya dari perbuatan maksiat,tidak akan mengambil milik orang lain, malah sebaliknya selalu berada diatas untuk membantu yang kurang mampu. Menjaga kakinya agar tidak melangkah ketempat maksiat, tapi justru semakin rajin berjalan pada jalan-Nya Allah dan Rasulullah SAW. Ketaatannya menunjukkan syukur yang meningkat sejalan dengan bertambahnya nikmat Allah pada dirinya.




