Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Pemerintah menegaskan kondisi perekonomian Indonesia masih berada dalam jalur yang kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, daya beli masyarakat tetap terjaga selama periode Ramadan, sehingga mendorong optimisme pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 berada di kisaran 5,6 hingga 5,7 persen.
“Kalau angka terakhir, pertumbuhan ekonomi bisa 5,6 sampai 5,7 persen,”ujar Purbaya dalam keterangan yang diterima tvrinews, Sabtu, 21 Maret 2026.
Menurut dia, proyeksi tersebut tergolong positif, terutama di tengah dinamika ekonomi global yang dipengaruhi ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Meski demikian, pemerintah menilai dampak konflik tersebut hingga kini belum memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian domestik.
Purbaya menjelaskan, kondisi ekonomi dalam negeri tetap terjaga berkat langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah dalam meredam gejolak eksternal. Berbagai kebijakan ditempuh agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan normal, termasuk menjaga stabilitas harga dan mendorong konsumsi.
“Dampak global ke sini masih belum terasa karena sudah di-absorb oleh pemerintah. Kami berupaya menjaga agar masyarakat tetap bisa beraktivitas normal dalam kondisi saat ini,”jelasnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa ekonomi Indonesia tengah menuju fase resesi. Berdasarkan data dan pemantauan langsung di lapangan, aktivitas ekonomi dinilai masih berjalan cukup baik. Salah satunya tercermin dari aktivitas perdagangan di pusat perbelanjaan seperti Pasar Tanah Abang yang tetap ramai selama Ramadan.
“Kalau melihat langsung ke lapangan, daya beli masih ada. Memang ada beberapa titik yang terlihat kosong, tapi itu hal yang normal dalam dinamika ekonomi,”ucapnya.
Lebih lanjut, Purbaya menyatakan optimisme terhadap prospek ekonomi setelah Idulfitri tetap terjaga. Namun demikian, pemerintah tetap waspada terhadap potensi perlambatan apabila eskalasi konflik global terus meningkat.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah akan memperkuat permintaan domestik sebagai penopang utama ekonomi. Sejumlah langkah strategis disiapkan, mulai dari dukungan terhadap sektor swasta, menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dari tekanan harga minyak dunia, hingga memastikan belanja pemerintah terserap tepat waktu.
“Walaupun kondisi global seperti ini, permintaan domestik masih kuat. Kami akan terus menjaga agar konsumsi dalam negeri tetap menjadi motor penggerak ekonomi,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah akan terus mengoptimalkan kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, sekaligus memastikan perlindungan terhadap masyarakat tetap berjalan.
Secara keseluruhan, pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Hal ini tercermin dari berbagai indikator ekonomi makro serta hasil tinjauan langsung selama Ramadan yang menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berlangsung stabil.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis perekonomian nasional mampu bertahan dan tetap tumbuh di tengah tekanan global, sekaligus menjaga momentum pemulihan ekonomi secara berkelanjutan.
Editor: Redaksi TVRINews




