Menjaga Istiqomah Setelah Ramadan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Di setiap penghujung Ramadan, pertanyaan strategis yang perlu menjadi renungan kita bersama: Bagaimana setelah Ramadan? Bagaimana makna dan tujuan Ramadan 11 (sebelas) bulan berikutnya? Karena sejatinya, Ramadan adalah bulan tarbiyah, bulan untuk mendidik kita agar terbiasa melakukan amal saleh dan menjaga konsistensi pada bulan-bulan berikutnya.

Sayangnya, pemandangan yang terjadi adalah seolah kita mengalami “amnesia” terhadap makna penting Ramadan, terutama meraih takwa personal dan sosial sebagai puncak hikmah dari ibadah shaum.

Dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 183, tujuan utama puasa adalah agar kita menjadi hamba yang bertakwa. Kata "bertakwa" di sini mengandung makna kegiatan yang dilakukan hari ini, besok, dan seterusnya.

Sejatinya, ibadah di bulan Ramadan bukan hanya untuk bulan itu saja, melainkan juga sarana pembiasaan. Oleh karena itu, kita hendaknya menjadi hamba yang Rabbani, bukan hamba yang Ramadani. Hamba yang Rabbani adalah mereka yang "pendidikannya" selama Ramadan membuatnya semakin dekat dengan Allah SWT secara berkelanjutan.

Seorang sahabat pernah bertanya pada Rasulullah SAW,

Beliau SAW menjawab,

Ibnu Rajab al Hanbali menjelaskan hadits tersebut bahwa wasiat Nabi SAW ini sudah mencakup wasiat dalam agama ini seluruhnya. Istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) tanpa berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah SWT, lahir dan batin; meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.

Salah satu bukti kita sukses melewati Ramadan adalah dengan tetap istiqomah beribadah setelahnya. Setelah sebulan penuh kita bersungguh-sungguh dalam ibadah di bulan Ramadan, ibadah tetap kita ikuti dan jaga di bulan-bulan selanjutnya.

Tampaknya, Ramadan hanya menjadi perubahan dan kemeriahan instan dan bersifat sesaat. Instan karena begitu Ramadan tiba, para wanita Muslimah, misalnya, ramai-ramai bersegera mengenakan kerudung dan busana islami; yang laki-laki mengenakan gamis dan berpeci.

Selain instan, fenomena keagamaan di atas juga bersifat sesaat karena—seperti yang lalu-lalu—semua itu sering hanya berlangsung selama Ramadan saja. Begitu Ramadan pergi, semua kegiatan dan fenomena keagamaan itu pun berhenti. Fenomena seperti itu sudah berlangsung bertahun-tahun dan berulang.

Ramadan yang sejatinya sebagai media perubahan dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan bertakwa secara hakiki cenderung bersifat sementara dan tidak permanen.

Seusai Ramadan, kehidupan serba bebas, hedonis, politik menghalalkan segala cara, dan arus budaya Barat lainnya kembali menyeruak di tengah-tengah kehidupan. Padahal, dalam pandangan Islam, setiap perilaku kemaksiatan merupakan perbuatan dosa dan mendapat murka dari sisi Allah SWT tanpa mengenal waktu dan tempat.

Inilah wajah sekuler negeri ini ketika syariat Islam hanya menjadi urusan ibadah yang sifatnya individual, tidak berpengaruh pada kehidupan masyarakat dan negara. Sekularisme menghasilkan orang-orang yang bermental hipokrit; lain di ruang ibadah, lain di ruang publik.

Semestinya, dengan mengerjakan puasa dengan benar, kaum muslimin akan terbimbing menuju pribadi yang agung. Gemar beramar maruf nahi mungkar dan senantiasa bersemangat untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Ia akan menjalankan hukum-hukum Allah tanpa pilah-pilih, juga meninggalkan kemungkaran tanpa ditunda-tunda.

Inilah makna dari ayat tentang puasa,

Menurut al-Jazairi, frasa “agar kalian bertakwa” bermakna agar dengan shaum itu, Allah SWT mempersiapkan kalian untuk bisa menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya (Al-Jazairi, I/80).

Dengan kata lain, takwa adalah kesadaran akal dan jiwa serta pengetahuan syar’i akan wajibnya mengambil halal-haram sebagai standar bagi seluruh aktivitas dan merealisasikannya secara praktis (’amalî) di tengah-tengah kehidupan.

Nilai esensial dari seluruh ibadah wajib dan sunah pada bulan Ramadan ini harus terwujud dalam sebuah spektrum jiwa yang pasrah, tunduk dan sepenuhnya berjalan di bawah kesadaran ketuhanan.

Semua ini bermuara pada sebuah kesadaran: bahwa Allah lah satu-satunya yang wajib disucikan—dengan hanya beribadah kepada-Nya—baik di kesunyian ataupun di keramaian, dalam kesendirian maupun berjamaah, di waktu malam ataupun siang, dalam keadaan sempit atau lapang, di daratan ataupun di lautan. Semua itu mengalir sampai ujung batas kesempatan hidupnya.

Takwa harus tecermin dalam kesediaan seorang Muslim untuk tunduk dan patuh pada hukum Allah. Kesediaan kita untuk tunduk dan patuh pada seluruh hukum syariah Islam inilah merupakan realisasi dari ketakwaan dan kesalihan personal—demikian pula dengan hukum-hukum Allah SWT yang bersifat sosial.

Akhirnya, kita memohon semoga semua amalan di bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT—demikian juga semoga diberikan kekuatan dan taufik kepada kita semua untuk tetap istiqomah setelah Ramadan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Langkah Strategis FFI-KFI di Spanyol: Serap Ilmu dari Elit Dunia demi Futsal Indonesia Go Dunia
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Korea Selatan Tetap Lanjutkan Bidding Piala Asia, Bagaimana dengan Indonesia?
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Jusuf Kalla: Gaji Menteri Cuma Rp 19 Juta, Tak Masuk Akal Dipotong
• 3 jam laludisway.id
thumb
Semarang Zoo Targetkan 60 Ribu Pengunjung Selama Libur Lebaran
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Puan Berharap Idulfitri 1447 H Perkuat Kebersamaan Bangun Indonesia
• 20 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.