Survei Litbang Kompas: Adaptasi Anggaran Belanja Lebaran di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Lebaran selalu dipandang sebagai momen puncak konsumsi masyarakat Indonesia. Namun, di tengah gejolak ekonomi dunia, tampak adanya penyesuaian pola belanja agar tetap ramah di kantong.

Di balik kemeriahan perayaan dan kehangatan berkumpul dengan keluarga, Lebaran juga diiringi dengan kebutuhan finansial yang tidak ringan. Mulai dari belanja makanan Lebaran, kebutuhan mudik, hingga wisata bersama keluarga semuanya membutuhkan alokasi dana yang lebih besar daripada belanja rutin harian.

Apalagi, pada masa Lebaran kali ini kondisnya relatif lebih menantang. Memasuki pertengahan bulan Ramadhan, masyarakat dunia, tak terkecuali di Indonesia, harus menyaksikan ketegangan politik dan ekonomi dunia yang memuncak di Timur Tengah. Meski genderang perang meledak di kejauhan sana, dampaknya terasa sangat nyata hingga ke kantong-kantong rumah tangga. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga minyak global, bagian dari komoditas inti penggerak ekonomi di seluruh dunia.

Karenanya, setiap rumah tangga perlu mengatur kembali prioritas pengeluarannya, termasuk berapa alokasi dana yang perlu disiapkan. Di tengah kondisi tersebut, sebagian rumah tangga memilih untuk menahan anggaran agar tetap berada dalam batas aman kemampuan finansial. Sebagian lainnya menambah alokasi untuk mengimbangi kenaikan biaya yang sulit dihindari.

Baca JugaSurvei Litbang Kompas: Kendaraan Pribadi Menjadi Pilihan Masyarakat di Mudik Lebaran 2026
Adaptasi alokasi belanja Lebaran

Opsi itu tergambar dalam jajak pendapat Kompas yang dilakukan jelang Lebaran, tepatnya 6-10 Maret lalu. Sekitar sepertiga responden (33,7 persen) mengaku mengalokasikan anggaran lebih besar untuk Lebaran tahun ini. Pada satu sisi, keputusan alokasi anggaran lebih besar ini sejalan dengan kemampuan finansial mereka yang juga meningkat jelang Lebaran. Sebagian didorong oleh kenaikan upah atau gaji, sebagian lainnya karena pendapatan usahanya bertambah.

Namun, pada sisi lainnya, alokasi anggaran lebih besar juga terpaksa dilakukan sebagai bentuk penyesuaian atas situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Sebab, seperempat bagian dari responden yang mengalokasikan dana lebih besar itu justru mengalami penurunan pendapatan jelang Lebaran. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang berasal dari kelas ekonomi menengah bawah.

Adapun, hampir seperlima responden (18,8 persen) justru mengalokasikan anggaran Lebaran yang lebih kecil di tahun ini. Sebagaimana responden yang alokasi anggarannya lebih besar karena pendapatan meningkat, separuh dari responden kelompok alokasi anggaran Lebaran lebih kecil ini mengalami penyusutan pendapatan jelang Lebaran. Terjadi karena penurunan gaji, pendapatan usaha melambat, hingga terkena pemutusan hubungan kerja.

Secara keseluruhan, sebanyak 26,5 persen responden mengalami penurunan kemampuan finansial jelang Lebaran. Hanya sekitar separuh (50,9 persen) responden yang keuangannya relatif aman, atau cenderung stagnan karena tidak mengalami perubahan penurunan maupun kenaikan. Dari seluruh responden tersebut, sebanyak 40,5 persen di antaranya tidak melakukan perubahan alokasi anggaran Lebaran di tahun ini. Alias sama dengan tahun lalu.

Baca JugaSurvei Litbang Kompas: Dinamika THR Lebaran di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Besaran anggaran dan sumbernya

Jika dilihat besarannya, nominal yang disiapkan untuk Lebaran tahun ini sangat beragam. Hampir seperlima responden atau sekitar 18 persen mengalokasikan sebesar Rp 1 juta – Rp 3 juta. Tampaknya nominal ini merupakan ukuran umum kemampuan finansial masyarakat Indonesia. Seiring dengan rata-rata upah pekerja atau buruh di Tanah Air yang sekitar Rp 3,1 juta – Rp 3,3 juta per bulan.

Selanjutnya, sebanyak 8,7 persen responden lainnya menganggarkan Rp 3 juta – Rp 5 juta dan 9,5 persen responden lainnya lagi mengalokasikan Rp 5 juta – Rp 10 juta untuk kebutuhan Lebaran. Bahkan, ada pula yang menganggarkan lebih dari Rp 10 juta, hingga menembus angka Rp 45 juta. Hanya saja, kelompok ini jumlahnya sangat jarang. Besar kecilnya alokasi Lebaran ini disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial masing-masing rumah tangga.

Walakin, tak semua merinci secara khusus alokasi anggaran Lebaran di tahun ini. Separuh lebih responden (56,1 persen) mengaku tidak menganggarkannya. Namun, bukan berarti tidak melakukan belanja selama Lebaran. Opsi ini mencerminkan pola keuangan yang lebih fleksibel. Boleh jadi kebutuhan Lebaran dipenuhi bersamaan dengan kebutuhan rutin harian tanpa perencanaan terpisah. Namun, pola seperti ini sebaiknya perlu dievaluasi, apalagi jika kondisi ekonomi sedang tidak pasti seperti sekarang.

Terlepas dari perbedaan nominal dan pengelolaan keuangan untuk Lebaran, cukup terdapat kemiripan terkait sumber dana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama hari raya. Salah satunya adalah tunjangan hari raya (THR) yang hanya diterima untuk menyambut Hari Raya. Tiga per empat responden jajak pendapat mengaku THR-nya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama Lebaran.

Meski demikian, situasi ekonomi saat ini memaksa tak semua orang menerima atau berhak menerima THR. Ada yang tiba-tiba terkena PHK jelang Lebaran, ada pula yang belum beruntung masuk kelompok pekerja, alias pengangguran, sehingga tak menerima tambahan pendapatan para pekerja ini.

Baca JugaSurvei Litbang ”Kompas”: Ragam Alasan Masyarakat Memilih Sepeda Motor untuk Mudik Lebaran 2026

Namun, warga tak patah arang untuk membuat suasana Lebarannya tetap meriah. Sepertiga responden yang tak mendapatkan THR sudah mengumpulkan tabungan rutin yang dikelola secara pribadi dan dikhususkan untuk Lebaran.

Bagi masyarakat yang THR-nya dirasa kurang pun juga melakukan sejumlah langkah penambahan sumber alokasi belanja. Dua dari lima responden terpaksa menggunakan upah atau pendapatan bulanannya.

Bahkan, menggadaikan atau menjual aset hingga berhutang pun rela dilakukan agar tak ketinggalan euforia dan kehangatan momen Lebaran. Ragam upaya berutang ini turut dilakukan oleh seperempat responden yang merasa THR-nya dirasa belum mencukupi semua belanja selama Lebaran.

Oleh karena itu, kreativitas mengelola keuangan perlu dilakukan di tengah membludaknya pengeluaran. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama mengingat situasi ekonomi sedang tidak menentu dan berisiko mendorong biaya ekonomi tinggi seiring konflik peperangan di Timur Tengah yang belum mereda. (Litbang Kompas)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Dijadwalkan Silaturahmi dengan SBY dan Jokowi di Istana Negara Sore Ini
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Korlantas Polri Resmi Hentikan Rekayasa One Way Nasional di Tol Trans Jawa
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Jemaah Mulai Padati Masjid Istiqlal Jelang Salat Id
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Senator PFM Desak Kejagung Periksa Ketua MRP Se-Tanah Papua Terkait Transparansi Dana Otsus
• 29 menit lalujpnn.com
thumb
Jamur Kuping: Dari Tradisi Tiongkok hingga Manfaat Kesehatan Modern
• 7 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.