Bangkit dari Bencana, Warga Selingkar Danau Maninjau Tetap Gelar Tradisi Rakik-Rakik

republika.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, AGAM – Cahaya lampu hias dan dentuman meriam bambu kembali memecah kesunyian malam takbiran di tepian Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Jumat malam. Meski masih dalam masa pemulihan pascabencana banjir bandang dan longsor November lalu, warga setempat tetap teguh menyelenggarakan festival tradisional rakik-rakik (rakit hias).

Festival tahun ini terasa berbeda karena hanya diikuti oleh dua jorong, yakni Jorong Kubu Baru Panyinggahan dan Jorong Pasa, dari total lima jorong yang ada di Nagari Maninjau. Kendala teknis dan kondisi pascabencana menjadi alasan berkurangnya partisipasi peserta tahun ini.

Baca Juga
  • 100 Truk Dikerahkan Atasi Sampah di Jakarta Barat
  • Istana Presiden Dibuka untuk Halal Bihalal Lebaran 1447 H
  • Pemkab Bogor Ajak Anak Yatim Rayakan Idul Fitri di Pakansari

Wali Jorong Kubu Baru Panyinggahan, Yudha Anugrah Viligo, mengungkapkan bahwa keputusan untuk tetap turun ke danau diambil sebagai upaya pemulihan psikologis warga.

"Biasanya tiap jorong membuat satu rakik. Namun tahun ini, meski kondisi pascabencana, kami tetap laksanakan sebagai 'obat' trauma sekaligus menjaga tradisi agar tidak hilang," ujar Yudha di sela-sela kegiatan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Antusiasme warga mulai terlihat sejak pukul 21.00 WIB. Sebuah rakit sepanjang 10 meter yang dihiasi miniatur rumah adat Minangkabau, bendera, dan lampu warna-warni mulai berlayar sekitar pukul 22.30 WIB setelah sempat terkendala hujan deras pada sore harinya.

Kehadiran rakik-rakik ini disambut hangat oleh masyarakat yang rindu akan suasana kemenangan Idulfitri. Bagi warga seperti Riani, tradisi ini adalah nyawa dari perayaan hari raya di Maninjau.

“Kalau tidak ada ini, malam takbiran terasa sepi. Rasanya seperti tidak lebaran, apalagi kami baru saja tertimpa bencana,” tuturnya.

Suasana semakin semarak dengan iringan musik tambua tansa yang dimainkan para pemuda di atas rakit, diselingi bunyi dentuman meriam bambu (batuang) yang menggunakan karbit. Cahaya dari ornamen rakit yang memantul di permukaan danau menciptakan pemandangan ikonik yang menjadi ciri khas Maninjau setiap tahunnya.

Tradisi ini rencananya akan berlangsung selama dua malam, yaitu pada malam takbiran dan malam pertama Lebaran. Meski jumlah penonton sedikit berkurang dibanding tahun sebelumnya, kerumunan warga diprediksi akan terus bertambah hingga menjelang subuh.

Bagi masyarakat selingkar Danau Maninjau, festival rakik-rakik tahun ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan simbol resiliensi dan semangat kebersamaan untuk bangkit dari duka bencana.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : Antara
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Khatib Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah, Ini Cerita di Balik Namanya
• 21 jam laludetik.com
thumb
Pramono Shalat Ied di Balai Kota, Ma’ruf Amin Jadi Khatib
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Khatib Sebut Idul Fitri Jadi Momentum Kebangkitan Warga Aceh Pascabencana Banjir
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Harga Minyak Melonjak Imbas Perang Global, Prabowo Bakal Tekan Konsumsi hingga Percepat Energi Surya
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Malam Takbiran di Bandung Dijaga Ribuan Petugas, Ada 11 Titik Penyekatan
• 22 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.