HARIAN FAJAR, JAKARTA – Penutupan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem pada hari Idul Fitri untuk pertama kalinya sejak 59 tahun laku (1967) menimbulkan ketegangan di kalangan warga Palestina. Kebijakan yang diberlakukan oleh otoritas Israel sejak 28 Februari ini memblokir akses ribuan jamaah ke situs suci tersebut. Warga Palestina pun terpaksa salat Id di jalan.
Aksi penutupan kompleks Al-Aqsa dilakukan dengan alasan keamanan terkait meningkatnya ketegangan akibat konflik antara AS-Israel dan Iran. Namun, warga Palestina menilai langkah ini sebagai strategi untuk memperketat kontrol Israel atas kawasan suci yang dikenal sebagai Al-Haram Al-Sharif bagi umat Islam.
“Hari ini adalah hari paling menyedihkan bagi umat Muslim di Yerusalem,” jelas Hazen Bulbul, seorang warga berusia 48 tahun yang sejak kecil rutin merayakan akhir Ramadan di Al-Aqsa.
“Apa yang saya khawatirkan adalah ini menjadi preseden berbahaya. Mungkin ini yang pertama, tapi bukan yang terakhir,” katanya menanggapi meningkatnya intervensi Israel sejak 7 Oktober 2023.
Pada pagi Idul Fitri, pasukan Israel memblokir jemaah yang hendak masuk melalui Gerbang Herod dan menggunakan granat kejut untuk membubarkan kerumunan. Sedikitnya tujuh warga Palestina ditahan dalam insiden tersebut.
Syekh Ekrima Sabri, khatib Masjid Al-Aqsa dan mantan mufti besar Yerusalem, mengeluarkan fatwa agar umat Islam melaksanakan salat Id di titik terdekat yang dapat dijangkau dari masjid, meski kehadiran militer yang masif membuat situasi tetap mencekam dan rawan bentrokan.
Tak hanya berdampak pada ibadah, penutupan juga menghantam ekonomi warga. Toko-toko di Kota Tua dilarang beroperasi kecuali apotek dan penjual bahan makanan pokok. Para pedagang menyatakan bahwa kebijakan ini memperparah kesulitan ekonomi yang sudah mereka alami.
Kecaman Internasional dan Reaksi Warga PalestinaPenutupan Masjid Al-Aqsa menuai kecaman luas dari dunia internasional. Liga Arab menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional” yang mengancam kebebasan beribadah dan berpotensi memicu ketegangan regional.
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Liga Arab, dan Komisi Uni Afrika dalam pernyataan bersama menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap status historis dan hukum tempat suci di Yerusalem.
“Israel sebagai kekuatan pendudukan memikul tanggung jawab penuh atas konsekuensi dari tindakan ilegal dan provokatif ini,” bunyi pernyataan tersebut.
Khalil Assali dari Universitas Al-Quds menyebut penutupan Al-Aqsa sebagai bencana bagi rakyat Palestina. “Ketika pemuda Palestina mencoba shalat di titik terdekat, mereka diusir bahkan saat sedang berdoa,” bebernya.
Idul Fitri di GazaDi Jalur Gaza, suasana Idul Fitri juga jauh dari kata meriah. Krisis kemanusiaan yang terus memburuk membuat perayaan berlangsung dalam bayang-bayang perang dan kehancuran. Meski intensitas serangan sedikit menurun, pemboman Israel masih terjadi secara sporadis, memaksa ratusan ribu warga merayakan Idul Fitri di tengah puing-puing kota yang hancur.
“Kebahagiaan Idul Fitri terasa tidak lengkap,” kata Sadeeqa Omar, seorang ibu dua anak yang mengungsi ke Deir al-Balah. “Sebagian kehilangan rumah, sebagian kehilangan keluarga. Suami saya bahkan tidak bisa kembali ke Gaza karena perbatasan ditutup,” jelasnya.
Alaa Al-Farra dari Khan Younis menambahkan, “Idul Fitri tahun ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Pergerakan kami masih sangat terbatas karena serangan udara yang bisa terjadi kapan saja.” Meski demikian, warga tetap berusaha menjaga tradisi, dengan aroma kue khas seperti kaek dan maamoul masih tercium di kamp-kamp pengungsian meski makanan tersebut sulit dijangkau banyak keluarga.
Perlintasan Rafah sempat dibuka kembali untuk bantuan kemanusiaan, namun rasa aman belum sepenuhnya kembali. “Masih ada ketakutan. Bahkan pekan lalu, wilayah dekat rumah kami dievakuasi menjelang serangan udara saat waktu berbuka puasa,” kata Kholoud Baba dari Gaza City.
Di balik perayaan yang redup, tersimpan duka mendalam: ibu-ibu yang kehilangan anak, keluarga yang tercerai-berai, dan generasi yang merayakan Idul Fitri hanya dengan kenangan. Idul Fitri di Palestina tahun ini menjadi simbol kontras yang tajam antara harapan dan kehancuran, iman dan tekanan, serta tradisi yang ingin dijaga dengan realitas pahit yang harus dihadapi.





