Pendekatan Komunikasi Khusus bagi Penyandang Tunagrahita

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, tidak ada satu teori yang secara eksklusif hadir untuk memberi fokus perhatian terhadap penyandang tunagrahita. Tidak ada desain teori tunggal yang mengkhususkan diri untuk mereka.

Akan tetapi, teori-teori komunikasi interpersonal dan psikologi komunikasi dapat saling membahu mencurahkan energi peran penting masing-masing sebagai kerangka kerja (framework) guna mencairkan hambatan komunikasi mereka lewat pendekatan adaptif dan terapeutik.

Hambatan komunikasi memang begitu melekat erat bagi penyandang tunagrahita. Mereka merupakan kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan intelektual. Mereka tidak mampu bernalar, berpikir abstrak, dan memecahkan masalah kompleks.

Mereka juga memiliki kemampuan kognitif di bawah rata-rata. Ada hambatan signifikan pada keseluruhan proses mental mereka yang berlangsung di otak, seperti perhatian, memori, pengolahan informasi, dan persepsi yang kurang berkembang sebagaimana seharusnya.

Oleh karena itu, penyandang tunagrahita memerlukan pendekatan komunikasi khusus yang berakar dari sejumlah teori dan konsep komunikasi yang mengalami penyesuaian atau pengadaptasian.

Dalam hal ini adalah untuk tujuan membuat celah solutif dari hambatan yang timbul karena keterlambatan bahasa, keterbatasan perbendaharaan kosakata, dan kesulitan menjaringkan daya pemahaman yang memadai terhadap simbol abstrak.

Teori dan Pola Komunikasi

Dalam Ilmu Komunikasi, terdapat Teori Interaksi Simbolik (Symbolic Interactionism) berkat jerih pemikiran George Herbert Mead di Universitas Chicago pada awal abad ke-20.

Teori ini relevan karena mengambil fokus pada kemampuan individu membentuk konsep diri dan menjalin interaksi lewat simbol-simbol, yaitu kata, isyarat, dan tindakan.

Realisasi penerapan untuk penyandang tunagrahita, dari Teori Interaksi Simbolik ini, fokus pada pemakaian simbol-simbol konkret dan bermakna.

Demi mempertimbangkan kemampuan mereka dalam memahami konsep abstrak yang relatif terbatas, pemfaedahan simbol nonverbal menjadi signifikan.

Simbol-simbol nonverbal itu seperti bahasa tubuh, gambar, dan isyarat, cenderung lebih efektif dalam upaya membantu pemahaman mereka mengenai lingkungan sekitar.

Teori Interaksi Simbolik ini memiliki relevansi penerapan dengan upaya untuk menangani hambatan komunikasi penyandang tunagrahita. Sebab, teori ini berfokus pada makna yang mengalami proses pembentukan melalui interaksi komunikatif.

Teori Interaksi Simbolik memiliki potensi untuk membantu terapis atau pendamping, bahwa pembentukan makna bukan bawaan melainkan merupakan hasil interaksi.

Aplikasinya, dengan penggunaan simbol konkret (gambar, benda riil) sebagai alat bantu komunikasi untuk pembentuk makna. Bisa membantu penyandang tunagrahita mengaitkan simbol dengan objek riil.

Selanjutnya ada Teori Komunikasi Terapeutik. Ia pendekatan komunikasi interpersonal yang bertujuan untuk mencapai kesembuhan. Akan tetapi, bagi penyandang tunagrahita terjadi pergeseran tujuan, yaitu menumbuhkan kemandirian dan kepercayaan diri.

Teori Komunikasi Terapeutik ini berperan untuk menjalin hubungan saling percaya (trust) sehingga dapat menjadi landasan untuk keberlangsungan suatu komunikasi yang efektif.

Aplikasinya, pendamping mendengarkan secara aktif, empati, dan dengan kontak mata dalam upaya untuk meminimalisasi kecemasan dan mengoptimalkan kemampuan interaksi sosial penyandang tunagrahita.

Dalam studi Ilmu Komunikasi Dasar, setara dengan model linier Shannon-Weaver (1949) dan Harold Lasswell (1949), yang menyederhanakan proses komunikasi kompleks.

Adapun penerapannya dengan melibatkan empat tahap, yaitu prainteraksi, orientasi, kerja, dan terminasi. Komunikasi ini menandaskan pada empati dan penerimaan tanpa syarat.

Bahasa yang mudah, dalam artian sederhana dan konkret, sehingga berada dalam jangkauan pemahaman kelompok disabilitas intelektual. Berikut, imbuhan sikap tubuh (gestur) yang ramah dan ada kontak mata.

Seterusnya terdapat Teori Komunikasi Interpersonal dari hasil pemikiran Joseph A. DeVito dalam bukunya The Interpersonal Communication (1989).

Pada perspektif studi Ilmu Komunikasi, pola interaksi pendamping dengan penyandang tunagrahita memanfaatkan pendekatan interpersonal yang telah mengalami penyesuaian.

Menurut DeVito, komunikasi interpersonal merupakan proses pengiriman dan penerimaan pesan antardua orang atau kelompok kecil dengan efek dan umpan balik seketika. Ada lima elemen indikasi efektif, yaitu keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif, dan kesetaraan.

Pendamping memiliki peran untuk mengatur bagaimana pesan tersampaikan secara tatap muka (bersemuka) agar proses penerimaannya dapat berlangsung dengan baik.

Adapun aplikasinya, penggunaan pola komunikasi yang intensif, sederhana, konsisten, dan sabar guna memastikan umpan balik berada dalam penerimaan penyandang tunagrahita walaupun respons menyambutnya lambat.

Di sini juga ada pola komunikasi dua arah (dialogis). Penggunaannya di sekolah khusus (luar biasa) untuk memetakan karakter dan daya tangkap anak-anak tunagrahita yang berbeda-beda. Untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan.

Selain itu, ada komunikasi nonverbal dan alat peraga. Untuk mempermudah penyampaian pesan, kadang memakai demonstrasi (peragaan mengenai tindakan atau menunjukkan bentuk benda), media interaktif (video, gambar, suara), dan isyarat.

Dalam hal ini juga ada penerapan konsep komunikasi efektif REACH. Meliputi Respect (Hormat), Empathy (Empati), Audible (Dapat Didengar/Dimengerti), Clarity (Jelas), dan tidak ketinggalan Humble (Rendah Hati).

Kemudian Teori Stimulus Organism Response (SOR) hasil cetusan Carl Hovland (1953). Teori ini menjelaskan bagaimana pesan (stimulus) dari pendamping kepada penyandang tunagrahita dapat menghasilkan perilaku (respons) yang sesuai dengan maksud dari pesan.

Pada realisasi penerapannya, karena ada keterbatasan kognisi dan intelektual, proses komunikasi bisa berlangsung dengan stimulasi yang repetitif atau berulang-ulang, konsisten, dan jelas guna mengonstruksi perilaku mandiri.

Teori SOR menumbuhkan penekanan pada pemberian instruksi sangat pendek, satu per satu, dan segera memperoleh penguatan (reinforcement) positif apabila pemberian respons berlangsung secara benar.

Hal ini merupakan cara untuk membangun memori komunikasi bagi penyandang tunagrahita. Adapun hambatannya, pada umumnya penyandang tunagrahita, mengalami kesulitan dalam merangkai kata-kata verbal (penyampaian maksud), kesulitan menangkap pesan abstrak (pemahaman), dan keterbatasan fokus (konsentrasi).

Dengan demikian, teori komunikasi yang paling tepat penggunaannya adalah yang memiliki sifat adaptif, konkret, konsisten, dan bermuara pada interaksi terapeutik guna membangun kemandirian penyandang tunagrahita itu.

Lebih Teknis Akademis

Bila penjelajahan bergerak ke wilayah yang lebih teknis dan akademis, maka terdapat beberapa teori dan model komunikasi lainnya yang secara komprehensif dapat menjelaskan bagaimana proses pertukaran pesan terjadi pada penyandang tunagrahita.

Terdapat Teori Augmentative and Alternative Communication (AAC). Teori ini merupakan kerangka kerja komunikasi yang penerapannya paling spesifik terhadap mereka. Teori AAC tidak sekadar alat, tetapi juga sistem yang menopang atau menyulihi bahasa verbal.

Fokus Teori AAC adalah mengkompensasi hambatan ekspresi bahasa. Adapun implementasinya, menggunakan sistem simbol (seperti gambar/piktogram), papan komunikasi, atau perangkat elektronik yang dapat menghasilkan suara.

Menurut perspektif Ilmu Komunikasi, ini merupakan wujud mediasi pesan guna menegaskan kepastian adanya umpan balik (feedback) tetap menjadi buah respons yang terbentuk kendatipun ada keterbatasan fisik atau mental.

Ada lagi Teori Akomodasi Komunikasi (Communication Accommodation Theory - CAT) hasil pengembangan Howard Giles (1973). Teori ini begitu relevan guna menjelaskan bagaimana orang nondisabilitas dapat menyesuaikan cara bicaranya ketika melakukan interaksi dengan penyandang tunagrahita.

Orang nondisabilitas dapat menyelaraskan kecepatan cara dia berbicara, pilihan kata yang lebih simpel. Intonasi dengan motherese speak, cara bicara seperti orang dewasa kepada anak kecil. Atau, dengan intonasi elderly speak, cara bicara kepada orang lanjut usia.

Biasanya dilakukan dalam konteks penyederhanaan komunikasi dalam konteks sehari-hari. Terutama untuk penyandang tunagrahita tingkat sedang hingga berat. Kalimat pendek, intonasi tinggi, dan repetisi dapat mempermudah pemahaman mereka.

Bisa pula digunakan dalam konteks pendampingan aktivitas sehari-hari. Misalnya saat memberikan bimbingan untuk keterampilan mandiri (makan, mandi, berpakaian).

Pendamping dapat pula memanfaatkan penggunaan bahasa sederhana dan repetitif kepada penyandang tunagrahita agar pesan lebih gampang mencantol di pemahaman mereka.

Intonasi motherese speak atau elderly speak, juga kerap berada dalam interaksi emosional dan pengasuhan. Secara intuitif dapat berfungsi untuk menjalin ikatan emosional, menenangkan, atau mempersembahkan dukungan emosional kepada penyandang disabilitas intelektual dan kognitif.

Dengan adanya tingkat kesesuaian yang tinggi dalam interaksi komunikasi antara orang nondisabilitas dan penyandang tunagrahita itu berarti mengurangi jarak sosial dan meneguhkan kepastian efektivitas penyampaian pesan.

Kemudian ada Model Komunikasi Transaksional. Merujuk pada perspektif ini, komunikasi bukan proses satu arah, melainkan proses menciptakan makna bersama secara kontinu.

Bagi penyandang tunagrahita, makna kerap tidak terdapat di dalam “kata”, akan tetapi makna itu berada di dalam konteks dan hubungan.

Dalam relevansi penerapannya, pendamping perlu memiliki kepekaan ekstra terhadap gangguan (noise) yang mencakup baik fisik maupun semantik.

Pada konteks ini, ukuran keberhasilan suatu komunikasi bukan tatkala kata-kata terucap dengan sempurna, melainkan manakala terjadi suatu kesamaan pemahaman (commonness) lewat sinyal-sinyal kecil, seperti tatapan mata atau gerakan tubuh.

Seterusnya terdapat pendekatan Analisis Perilaku Terapan (Applied Behavior Analysis - ABA). Kendati acapkali menerima anggapan berada di ranah psikologi, dalam perspektif Ilmu Komunikasi lebih bertalian dengan Komunikasi Instruksional.

Bagi penyandang tunagrahita, Komunikasi Instruksional merupakan proses pengajaran khusus yang memanfaatkan pendekatan personal, konkret, dan konsisten guna mendukung mereka memahami materi.

Adapun metode utamanya mencakup komunikasi verbal sederhana, isyarat/nonverbal, repetisi dengan frekuensi tinggi, dan bantuan media visual.

Ancangan tujuan yang menjadi terminal akhir perjalanan proses, yaitu kemandirian bina diri, keterampilan sosial, dan adaptasi lingkungan.

Sejumlah elemen kunci Komunikasi Instruksional bagi penyandang tunagrahita. Pendamping perlu memfokuskan diri pada pendekatan individual untuk memetakan kemampuan tiap anak karena tingkatan hambatan intelektual yang berlainan.

Selain itu, ada elemen materi konkret dan sederhana. Oleh karena itu, instruksi seharusnya langsung, singkat, dan nyata agar tangkapan pemahaman dapat sesuai dengan harapan.

Elemen berikutnya adalah media visual dan audio-visual. Komunikasi Instruksional terhadap penyandang tunagrahita akan lebih efektif apabila menggunakan gambar, benda nyata, atau video guna mengilustrasikan instruksi.

Ada pula elemen repetisi dan pembiasaan untuk mengenal materi dalam upaya memperkuat memori mereka yang cenderung bekerja untuk jangka pendek.

Elemen terakhir, yaitu pemanfaatan komunikasi nonverbal, seperti isyarat tubuh, sentuhan, dan ekspresi wajah yang tampak jelas untuk mendukung komunikasi verbal (bahasa).

Proses Komunikasi Instruksional mengarahkan tujuan utama, agar penyandang tunagrahita memiliki kemampuan bina diri, seperti makan, berpakaian, dan merawat diri. Serta, juga mempunyai bekal keterampilan dalam berinteraksi sosial.

Selanjutnya Teori Atribusi yang menolong orang nondisabilitas memahami pihak lain memberi makna pada perilaku penyandang tunagrahita. Masalah yang timbul, tidak jarang perilaku nonverbal penyandang tunagrahita mendapat tafsiran yang keliru sebagai ketidaksopanan atau kemarahan.

Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat (komunikasi publik) perlu menjadi solusi agar tercipta atribusi (pemahaman), bahwa komunikasi nonverbal mereka yang bersifat internal (akibat kondisi medis) dan bukan lantaran niat buruk demi keterciptaan lingkungan inklusif.

Pendek kata, komunikasi dengan penyandang tunagrahita merupakan entitas komunikasi yang multisensori. Pendamping tidak akan mencapai hasil komunikasi yang optimal, manakala hanya mengandalkan saluran auditif saja.

Akan tetapi, lebih daripada itu memang seharusnya perlu ada topangan secara gabungan dengan visual, sentuhan (taktil), dan repetisi konsisten.

Strategi Praktis

Manakala orang nondisabilitas berkomunikasi dengan penyandang tunagrahita, strategi praktisnya fokus pada penyederhanaan pesan, penggunaan dukungan visual, dan penguatan perilaku positif.

Adapun beberapa langkah konkret yang dapat memperoleh realisasi penerapan dari pendamping untuk penyandang tunagrahita.

Pertama, pemakaian kalimat pendek dan sederhana, sebagai teknik penyampaian pesan verbal. Oleh karena itu, sangat relevan untuk menghindari kalimat majemuk atau beberapa instruksi dalam sebuah kalimat.

Fokus hanya dengan satu muatan instruksi dalam satu kalimat atau dalam satu waktu agar lebih mudah memperoleh kekuatan cerna pemahaman.

Pendamping berbicara langsung secara bersemuka kepada anak-anak tunagrahita. Perlu kepastian ada kontak mata yang hangat dan posisi tubuh yang sejajar guna menghadirkan rasa aman.

Nada suara normal, tidak berteriak. Perlu pemakaian intonasi yang jelas dan cara bicara yang lebih lamban daripada normal.

Kedua, perlu penerapan strategi komunikasi nonverbal dan visual. Pemakaian alat peraga sebagai media visual memiliki nilai penting.

Karena keterbatasan kemampuan berpikir abstrak penyandang tunagrahita, pemakaian gambar, piktogram, atau benda riil dapat menjadi representasi pesan. Contoh, pendamping menunjukkan foto makanan, jika ingin mengajak makan.

Lalu ada demonstrasi (peragaan) langsung. Memberikan contoh dengan tindakan (modelling). Tidak hanya menjelaskan dengan kata-kata.

Dengan demikian, pendamping membiarkan mereka meniru gerakan atau tindakannya. Berikut, memperkuat kata-kata dengan ekspresi wajah dan gerakan tangan sehingga dapat memperjelas pesan.

Ketiga, ada pola interaksi dan penguatan (reinforcement). Pemakaian metode repetisi, mengulangi pesan yang sama secara konsisten dengan susunan kata-kata relatif sama.

Dengan demikian, pesan yang tersampaikan dapat lebih terpatri di dalam ingatan jangka pendek penyandang tunagrahita.

Perlu ada umpan balik positif. Pendamping dapat memberikan pujian, senyuman, atau apresiasi manakala mereka sukses merespons atau menjalankan instruksi dengan betul.

Karena penyandang tunagrahita memerlukan waktu barang sejenak (tidak langsung) dalam memproses informasi, pendamping dapat memberikan jeda sesuai dengan kebutuhan setelah memberikan instruksi sebelum respons jawaban datang.

Keempat, ada etika berinteraksi. Pendamping bisa terlebih dahulu menanyakan kepada penyandang disabilitas akan kebutuhan bantuannya. Tidak langsung membantu tanpa izin.

Selanjutnya memutuskan tentang bagaimana bantuan itu terulurkan dengan cara yang paling nyaman bagi mereka. Ada penghargaan privasi dan hak individu dalam hal ini.

Panduan Praktis

Tingkatan penyandang tunagrahita itu ada yang ringan dan sedang. Tindakan berkomunikasi terhadap mereka pun berbeda.

Adapun strategi komunikasi untuk penyandang tunagrahita ringan (Intelligence Quotient 50 - 70) fokus pada kemandirian sosial.

Komunikasi fungsional, penggunaan kalimat instruksi yang logis, masih dapat memperoleh realisasi penerapan. Para penyandang tunagrahita ringan pada umum masih bisa melakukan komunikasi verbal.

Akan tetapi, mereka akan kesulitan memahami kiasan. Oleh karena itu, susunan kata-kata secara literal (apa adanya) lebih mampu mereka serap ke dalam rengkuh pemahaman.

Bisa diterapkan metode role play. Penyandang tunagrahita ringan mampu memperoleh latihan situasi sosial dengan simulasi, misal cara menyapa orang atau cara berbelanja.

Pelatihan ini dapat membantu mereka merekam pola komunikasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan situasi.

Kemudian ada umpan balik deskriptif dari pendamping atau guru. Akan lebih mendukung penyandang tunagrahita ringan untuk merekatkan asosiasi antara tindakan dan kata-kata, jika apresiasinya tidak hanya sebatas ucapan satu kata, “Pintar!”.

Akan tetapi, akan terbentuk umpan balik yang memenuhi asas kelayakan, manakala yang hadir adalah ungkapan, “Bagus. Kamu sudah menaruh buku di lemari penyimpanan.”

Sementara itu, untuk penyandang tunagrahita tingkat sedang (Intelligence Quotient 35 - 49), lebih fokus pada komunikasi dan visual.

Penggunaan verba (kata kerja) satu kata, seperti “Makan”, “Duduk”, atau frasa “Cuci tangan” menjadi instruksi yang dapat dilakukan.

Ada pula pendekatan multisensori. Misalnya ketika mengatakan, “Apel”, dengan menunjukkan buahnya. Dan, membiarkan mereka memegang buah tersebut dan mencium aromanya.

Begitu pula ada keseyogiaan pemakaian sistem isyarat yang sederhana bagi penyandang tunagrahita sedang. Misalnya penggunaan gerakan tangan yang istikamah untuk kegiatan rutin, seperti tangan menempel di pipi untuk “Tidur”.

Contoh lain, pemakaian sistem isyarat sederhana, untuk interaksi sosial dan emosi. Melambaikan tangan untuk mengungkapkan “Halo” atau “Selamat tinggal”.

Menganggukkan kepala dengan mengangkat jempol tangan untuk menyatakan “Iya” atau “Setuju”. Menggelengkan kepala serta melambaikan satu tangan ke kanan - kiri untuk kata “Tidak’ atau “Bukan”.

Dengan menempelkan telapak tangan di dada atau mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada guna mengekspresikan rasa “Terima kasih”.

Mengangkat satu tangan dengan telapak tangan menghadap ke depan untuk merepresentasika kata “Setop” atau “Berhenti”.

Isyarat itu juga untuk menginstruksikan suatu kegiatan. Misalnya meminta “Berdiri” dengan menempatkan jari telunjuk dan tengah tangan kanan berdiri di atas telapak tangan kiri.

Memohon untuk “Tenang” atau “Diam” dengan menempelkan jari telunjuk tangan kanan ke bibir. Ajakan “Ayo” atau “Kemari” dengan menggerakkan jari-jari tangan melambai ke dalam, ke arah diri sendiri.

Selanjutnya penggunaan media visual piktogram. Gambar sederhana yang mewakili objek atau aktivitas. Strategi penggunaanya dengan jadwal visual (visual schedule).

Penempelan deretan piktogram di dinding guna memperlihatkan urutan kegiatan sehari-hari, seperti bangun tidur, mandi, makan. Cara ini dapat mengurangi kecemasan, karena penyandang tunagrahita sedang itu mengetahui apa yang bakal mereka lakukan selanjutnya.

Perlu disediakan juga papan pilihan (choice board). Misalnya bila mereka kesulitan untuk mengungkapkan untuk minum apa, maka bisa menunjukkan dua gambar (susu atau air mineral). Dengan demikian, mereka dapat menunjuk gambar yang sesuai dengan keinginan mereka.

Mereka juga bisa mendapat pelatihan berkomunikasi dengan memanfaatkan kartu pertukaran (exchange card). Pendamping dapat melatih mereka untuk menyerahkan kartu tersebut untuk memperoleh benda yang tergambar di situ.

Hal ini merupakan cara untuk mendesain logika pada diri mereka, bahwa “Gambar = Komunikasi”.

Ada beberapa hal teknis yang dapat membantu memuluskan proses perjalanan komunikasi tersebut. Setelah pemberian instruksi, pendamping bisa menunggu di kisaran 10 detik.

Kemampuan otak mereka memang memerlukan waktu lebih lama guna memproses masukan ujaran bahasa sehingga menjadi makna suatu instruksi.

Sebaiknya dan memang seharusnya tidak mengulang atau merepetisi pesan instruksi sebelum waktu 10 detik berlalu. Tujuannya agar mereka tidak mengalami kemacetan (stuck) informasi.

Kesulitan serius untuk memproses, memahami, menyimpan, dan memanggil kembali informasi baru yang terkirim bisa terjadi di ujung dampaknya.

Mereka mengalami hal ini karena memang mempunyai keterbatasan yang serius untuk memahami konsep yang tidak terlihat (abstrak), seperti matematika, nilai uang, atau konsep waktu.

Mereka lebih mudah memahami hal-hal nyata (konkret). Mereka juga mengalami proses psikologis terbatas. Informasi yang mereka terima tidak langsung mengalami proses menjadi memori jangka panjang. Oleh karena itu, mereka sering lupa terhadap apa yang baru saja mereka dengar.

Penyandang tunagrahita memiliki perhatian yang gampang terganggu. Konsentrasi rendah. Fokus mereka mudah beralih. Akibatnya, informasi kerap tidak masuk seutuhnya. Hanya tersampai sebagian.

Mereka juga mengalami kesulitan kognitif dalam pembelajaran. Bila materi terlalu rumit atau terlalu cepat penyampaiannya, maka penyandang tunagrahita akan mengalami stuck, kemacetan, dan tidak dapat melangkah ke materi berikutnya. Sebab, materi dasar masih belum berada di rengkuh penguasaan.

Bisa jadi alurnya mirip seperti itu. Repetisi instruksi yang terlalu dini, apalagi kalau jauh dari waktu tunggu 10 detik, dapat menimbulkan hambatan komunikasi.

Sebab, telah terjadi kemacetan dalam memahaminya. Terlebih manakala instruksi terdiri atas kalimat panjang atau kompleks.

Adapun cara mengatasi stuck komunikasi, perlu adanya penerapan metode pembelajaran yang berulang-ulang, penggunaan media visual atau benda riil, serta peragaan. Dapat pula dengan bermain sambil belajar.

Saat berinteraksi dengan penyandang tunagrahita, pendamping perlu merendahkan posisi tubuh agar mata sejajar dengan mereka. Hal ini untuk mengeliminasi impresi dominasi dan membentuk rasa percaya mereka.

Selain itu ada konsistensi penggunaan kosa kata. Jika suatu kali memakai kata “Maem”, pada keesokannya tidak mengganti dengan kata “Makan” atau “Sarapan”. Tetap dengan kata yang sama.

Pendamping dapat menyusun jadwal visual harian dan daftar kosakata kunci agar penyandang tunagrahita (terutama tingkat sedang) dapat lebih mudah memahami komunikasi.

Untuk jadwal visual harian, manfaatkan papan tulis atau kertas karton untuk tempat menempelkan gambar atau piktogram secara berurutan. Bisa dari atas ke bawah, atau bisa dari kiri ke kanan.

Tersusun dalam tiga lajur, yaitu urutan aktivitas, gambar, dan kosakata. Bisa mulai dari aktivitas bangun tidur, gambar tempat tidur, kosakata “Bangun”. Lalu aktivitas mandi, gambar gayung atau pancuran air, kosakata “Mandi”.

Sudah itu aktivitas berpakaian, gambar baju atau kaus, kosakata “Pakai Baju/Kaus”. Kemudian aktivitas makan, gambar piring dan sendok, kosakata “Makan”.

Seterusnya aktivitas belajar atau main, gambar buku atau mainan, kosakata “Belajar” atau “Main”. Selebihnya aktivitas istirahat, gambar bantal atau orang tidur, kosakata “Bobok”.

Jika satu aktivitas dapat terselesaikan, pendamping dapat meminta mereka untuk melepas gambar aktivitas itu atau memberi tanda centang.

Cara ini untuk menciptakan rasa pencapaian (sense of accomplishment) dari tiap tahapan aktivitas yang terjalani.

Perlu ada juga daftar kosa kata kunci (keywords) yang perlu menjadi pembiasaan ketika mereka berkomunikasi.

Tentu saja masih dengan diksi yang konkret berupa benda atau merupakan aksi riil. Konsistensi penggunaan kata yang sama akan mempermudah pemahaman dalam proses pembelajaran.

Untuk deretan kosakata yang menghendaki respons aksi, ketika mengucapkan kata “Lihat” sambil menunjuk mata, kata “Duduk” seraya menepuk kursi.

Kata “Tunggu” dengan memperlihatkan telapak tangan terbuka, kata “Ambil” lalu mengarahkan jari telunjuk ke benda yang termaksud.

Untuk barisan kosakata yang mengungkapkan tentang kebutuhan dasar, seperti “Mimik” atau “Minum” (konsisten pada satu pilihan), “Maem” atau “Makan” (perlu konsistensi pula), “Pipis” (untuk keperluan ke toilet).

Untuk kata afirmasi, misalnya saat mengucapkan “Bagus” dengan sertaan acungan jempol. Dan, kata penolakan, seperti “Setop” atau “Tidak” dengan sertaan gelengan kepala yang tampak jelas.

Guna lebih meminimalisasi kekurangpahaman perlu teknik Tunjukkan, Jangan Hanya Katakan (Show, Don’t Just Tell).

Manakala berkomunikasi dengan penyandang tunagrahita (terutama kriteria sedang), pendamping dapat memanfaatkan rumus “Kata + Gambar + Aksi”.

Pendamping mengucapkan kata “Makan”, menunjukkan gambar piring, dan mengarahkan tangan ke meja makan atau memberikan sendok.

Dalam upaya untuk mengatasi kebingungan sehingga malahan tidak merespons, pendamping perlu lebih menyederhanakan lagi instruksinya.

Bila instruksi “Ayo pakai sepatumu!” tidak berhasil, maka cukup katakan “Sepatu” seraya memegang benda untuk alas kaki tersebut.

Penyikapan komunikatif yang lain dan untuk contoh lain, pendamping dapat memberikan bantuan fisik (hand-ovet-hand). Misalnya dengan memegang sendok, lalu mengucapkan kata kunci “Makan”.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
155 Ribu Warga Binaan Terima Remisi Khusus Idulfitri 2026
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Khatib ajak masyarakat perkuat tiga dimensi kehidupan
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Momen Hangat Presiden Prabowo Sapa & Peluk Warga di Aceh Tamiang | SAPA PAGI
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Kendaraan pemudik terbakar di OKU Timur
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Arab Saudi Cegat Puluhan Drone di Jalur Vital Energi saat Iran Balas Israel
• 3 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.