Lebaran Tanpa Pulang, Jakarta yang Pulang ke Kita

detik.com
17 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Ada yang terasa berbeda dari Idulfitri tahun ini di Jakarta. Bukan sekadar gema takbir yang kembali mengisi langit kota, melainkan cara kota ini memilih merayakan.

Di Bundaran HI, sekali lagi kota ini seolah ingin berkata: semua dari kita dirayakan. Festival Beduk Kolosal, atraksi air mancur, instalasi seni, hingga pertunjukan musik digelar selama dua malam (tanggal 19 dan 20 Maret). Bukan tanpa alasan. Ketika sebagian umat merayakan Idulfitri pada 20 Maret dan sebagian lainnya pada 21 Maret, Jakarta memilih menyesuaikan diri, hadir untuk semua.

Keputusan yang tampak teknis, tapi sesungguhnya politis—dalam arti paling sederhana: negara hadir untuk mengakomodasi perbedaan. Dan ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri.

Dalam beberapa bulan terakhir, Jakarta seperti sedang menyusun ulang kalender kebudayaannya. Festival Ogoh-Ogoh menjelang Nyepi, Festival Imlek di Februari, hingga Christmas Carol di Desember—semuanya dirayakan dengan ruang yang setara.

Kota ini sedang belajar menjadi rumah bagi banyak identitas, tanpa terlihat canggung. Inklusivitas tidak berhenti pada omon-omon, tapi aksi nyata.
Di titik ini, Jakarta tidak sekadar mengejar status kota global. Ia sedang mencoba menjadi kota yang dewasa.

Namun, eksperimen paling menarik justru datang dari satu program yang terdengar tidak biasa: Mudik ke Jakarta.

Selama ini, mudik hampir tak pernah dipertanyakan. Ia diterima sebagai kewajaran, bahkan kewajiban sosial. Padahal, di balik romantismenya, ada beban yang kita anggap normal: harga tiket yang melonjak, perjalanan yang melelahkan, kemacetan panjang, hingga risiko kecelakaan.

Kita menyebutnya tradisi. Tapi tidak semua yang berulang harus diterima tanpa dipikir ulang. Di situlah Jakarta mencoba masuk—bukan untuk melarang orang pulang, tetapi menawarkan pilihan lain. Bagaimana jika, kali ini, Jakarta justru menjadi tujuan? Bagi warganya, juga bagi wisatawan. Mumpung tinggal 'pemain inti' yang tersisa, ini adalah waktu paling pas menikmati Jakarta.

Program Mudik ke Jakarta disiapkan bukan sebagai slogan kosong. Warga disuguhi transportasi publik gratis (Rp1,-) dari Transjakarta, MRT, hingga LRT, serta berbagai diskon belanja dalam Jakarta Festive Wonders yang diikuti ratusan pusat perbelanjaan dan ritel. Paket wisata, hotel, hingga hiburan juga dikemas sebagai pengalaman kota yang utuh.

Bagi warga luar Jakarta, insentifnya bahkan lebih konkret: potongan harga tiket pesawat dan kereta, promo hotel "bayar dua malam, dapat tiga", hingga beragam paket tur tematik.

Ini bukan sekadar promosi. Ini upaya menggeser cara pandang. Sesuatu yang tidak pernah terpikir sebelumnya.

Sebab jika dihitung secara sederhana, biaya mudik satu keluarga bisa setara dengan beberapa bulan kebutuhan rumah tangga. Waktu dan energi terkuras, belum lagi risiko di jalan. Namun, semua itu tetap dijalani—sering kali bukan karena kebutuhan, melainkan karena tekanan sosial yang tidak pernah benar-benar kita uji.

Sementara itu, cara kita bersilaturahmi juga sudah berubah. Teknologi membuat jarak tak lagi absolut. Kita bisa video call dengan anggota keluarga di manapun sepanjang ada sinyal internet.

Ironisnya, tidak sedikit yang pulang jauh-jauh, hanya untuk duduk bersama sambil sibuk dengan gawai masing-masing. Dari jauh pingin mendekat, eh sudah dekat malah berjauhan.

Maka pertanyaannya menjadi lebih jujur: apa sebenarnya yang kita cari dari mudik? Jangan-jangan bukan jaraknya, melainkan perasaan pulang itu sendiri.

Di tengah perubahan itu, Jakarta mengambil posisi yang cukup berani. Ia tidak menolak tradisi, tetapi juga tidak membiarkannya berjalan tanpa alternatif. Kota ini menawarkan kemungkinan baru—bahwa merayakan Lebaran tidak harus selalu berarti meninggalkan kota.

Barangkali perubahan ini tidak akan langsung menggeser arus besar mudik. Tapi setiap kebiasaan, sekuat apa pun, selalu bisa ditinjau ulang.

Dan tahun ini, Jakarta mulai mengajukan pertanyaan itu. Bahwa Lebaran bisa dirayakan dengan cara yang berbeda. Bahwa kota pun bisa menjadi ruang pulang. Dan mungkin, yang kita cari bukan sekadar kampung halaman, melainkan perasaan pulang itu sendiri.

M Shendy Adam Firdaus. Kepala Bidang Komunikasi Publik Diskominfotik Provinsi DKI Jakarta.




(rdp/imk)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Serang Pangkalan Inggris dan Amerika Berjarak 5.000km, Sinyal Eskalasi Global dan Rudal Jarak Jauh
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Survei Baru: 3 dari 10 Siswa Sekolah Tak Bisa Baca Teks Panjang
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Airlangga Sebut Program Diskon dan WFA Bisa Dorong Ekonomi Nasional Saat Lebaran
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kasatgas PRR Dampingi Presiden Prabowo Rayakan Idul Fitri Bersama Masyarakat di Aceh Tamiang
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Lebaran 2026, Prabowo Silaturahmi dengan Jokowi di Istana
• 12 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.