Efek Konflik Timur Tengah, Pemulihan Sektor Riil Bakal Lebih Lambat?

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Eskalasi konflik di Timur Tengah usai serangan Israel-AS ke Iran meningkatkannya ketidakpastian ekonomi global membuat Bank Indonesia (BI) menutup ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. Imbasnya, laju pemulihan sektor riil domestik dinilai akan makin lambat.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman meyakini selama tekanan eksternal dari geopolitik, tingginya harga energi, serta dominasi dolar AS masih membayangi, BI diproyeksikan akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan menjaga arus modal, terlebih posisi rupiah saat ini masih berada di dekat angka psikologis Rp17.000 per dolar AS. 

Rizal menjelaskan penahanan suku bunga acuan membuat biaya dana (cost of fund) tetap relatif tinggi. Akibatnya, laju pemulihan sektor riil diproyeksikan berjalan lebih lambat terutama sektor berbasis kredit.

"Di saat yang sama, tekanan kurs dan energi meningkatkan biaya produksi, menekan margin usaha," ujarnya, dikutip Minggu (22/3/2026).

Di sektor keuangan, yield alias imbal hasil deposito akan tetap menarik. Kendati demikian, sejalan dengan itu, risiko kualitas kredit akan meningkat sehingga pembiayaan berpotensi makin sulit.

Di samping itu, Rizal menilai stance kebijakan BI yang fokus menjaga stabilitas sangat beralasan untuk memitigasi risiko ketidakpastian global saat ini.

Baca Juga

  • Inggris Buka Akses Pangkalan Militer di Timur Tengah bagi AS untuk Serang Iran
  • China Serukan Perdamaian di Timur Tengah Kala Momen Idulfitri
  • Lebaran Jadi Momentum, Airlangga: Laju Ekonomi Kuartal I/2026 Bisa 5,5%

Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, tren kenaikan harga minyak dunia, serta langkah bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang juga masih menahan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% membuat ruang penurunan BI Rate menjadi sangat terbatas.

"Di tengah tekanan rupiah, kenaikan harga minyak, dan The Fed yang masih menahan suku bunga, ruang penurunan BI Rate memang terbatas. BI mempertahankan suku bunga di 4,75% dengan fokus stabilisasi," jelas Rizal.

Meski demikian, pengajar di Universitas Trilogi Jakarta ini meyakini bahwa era pelonggaran suku bunga bukan berarti berakhir sepenuhnya, melainkan sekadar tertunda dan menjadi lebih selektif. 

"Dengan demikian, BI berada dalam mode defensive stability, bukan pelonggaran. Penurunan suku bunga masih mungkin, tetapi bergantung pada meredanya tekanan eksternal, stabilnya harga energi, dan penguatan rupiah," simpul Rizal.

Ruang Penurunan BI Rate Tertutup

Sebelumnya, dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Maret pada Selasa (17/3/2026), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa bank sentral tidak lagi menyinggung kemungkinan penurunan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Keputusan ini diambil setelah BI melakukan kalkulasi mendalam terkait durasi, intensitas, serta dampak rambatan (spillover effect) dari perang di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik ini ditakar akan memicu lonjakan harga minyak dunia, perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan ancaman inflasi global.

"Kenapa kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga? Ini karena memang kemungkinan kami akan tetap mempertahankan BI Rate selama ini untuk memperkuat intervensi dan juga kecukupan cadangan devisa," tegas Perry.

Dia menekankan bahwa transmisi dampak geopolitik tersebut terbukti telah memukul pasar keuangan global dan menjalar ke pasar domestik, tecermin dari derasnya arus modal asing keluar (capital outflow) dari negara-negara emerging market.

Kondisi ini diperparah oleh kedigdayaan dolar AS dan lonjakan yield US Treasury yang secara langsung menekan nilai tukar rupiah dan mengerek yield Surat Berharga Negara (SBN). Oleh sebab itu, Perry menyatakan bank sentral akan fokus menjaga stabilitas dalam jangka pendek.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arab Saudi Usir Para Diplomat Iran, Beri Waktu 1x24 Jam
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Puncak Arus Wisata di Puncak Bogor Diprediksi Sampai H+3 Lebaran
• 7 jam laludetik.com
thumb
Purbaya Rem Pengajuan Anggaran Baru, Kementerian dan Lembaga Diminta Efisiensi
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Berhasil Ketemu, Denada Bakal Bawa Ressa Rizky Bertemu Adik Kandungnya
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Peringatan Dini BMKG Potensi Hujan Lebat Besok 23-24 Maret 2026, Sejumlah Wilayah Berstatus Siaga
• 3 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.