Dewan Energi Nasional (DEN) menyoroti dominasi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sebagai pembangkit dengan jumlah unit terbanyak di Indonesia, meskipun kapasitasnya relatif kecil, serta memiliki biaya produksi listrik yang tinggi.
Anggota DEN Kholid Syeirazi mengatakan, PLTD selama ini banyak digunakan terutama di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik terintegrasi.
“PLTD itu paling banyak, meskipun kapasitasnya kecil. Tapi jumlah unitnya itu banyak sekali dan cost per kWh-nya tinggi sekali, sekitar empat ribuan per kWh,” ujar Kholid kepada Warta Ekonomi, dikutip Minggu (22/3/2026).
Ia menjelaskan, tingginya biaya tersebut antara lain dipengaruhi oleh penggunaan bahan bakar minyak serta kebutuhan distribusi ke wilayah terpencil yang belum terhubung jaringan listrik utama.
Dalam konteks tersebut, penggunaan PLTD dinilai masih berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur kelistrikan, khususnya di daerah yang belum terjangkau jaringan transmisi.
Baca Juga: Suntik Mati PLTD, PLN Siap Operasikan PLTS Hibah di Sumenep
Baca Juga: Rapat di Istana, Prabowo Perintahkan Percepatan Hentikan PLTD dan PLTU Solar Seiring Krisis Hormuz
Kholid menyebut, pengembangan jaringan transmisi melalui konsep Nusantara Grid memungkinkan interkoneksi sistem kelistrikan antarwilayah, sehingga pasokan listrik dari daerah surplus dapat disalurkan ke wilayah yang selama ini bergantung pada pembangkit diesel.
“Saya kira nanti dengan adanya Nusantara Grid, seluruh jaringan itu terhubung, sehingga daerah penghasil listrik bisa disalurkan ke daerah yang beban puncaknya tinggi. Masalah kita kan mismatch antara daerah produsen dengan beban,” katanya.





