JAKARTA, KOMPAS — Momentum Ramadan dan Idul Fitri meningkatkan penjualan busana muslim dibanding hari-hari biasa. Namun pada periode Ramadan-Lebaran 2026, penjualannya meredup ketimbang periode sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Ketua Asosiasi Industri Usaha Mikro Kecil Menengah Indonesia (Akumandiri), Hermawati Setyorinny, mengatakan, penjualan busana muslim selama Ramadan-Lebaran 2026 tetap meningkat dibanding hari-hari biasa. Namun pertumbuhannya tidak setinggi dua hingga tiga tahun terakhir.
Busana muslim adalah gaya busana sesuai prinsip berpakaian Islami. Pada periode Ramadan-Lebaran, penjualannya biasanya meningkat dibanding hari-hari biasa.
“Ramadan-Lebaran, pasti menjadi momen yang ditunggu pelaku UMKM karena penjualan bisa meningkat berkali lipat. Tapi kali ini tidak se-euforia dua musim sebelumnya. Sekarang naik sekitar 50 persen itu sudah bagus. Dulu bisa sampai dua kali lipat atau sekitar 200 persen,” ujar Hermawati saat dihubungi, Minggu (22/3/2026).
Indikasi perlambatan tersebut, Hermawati melanjutkan, terlihat di sentra-sentra perdagangan fesyen seperti Tanah Abang dan Thamrin City yang tidak seramai Ramadan-Lebaran tahun-tahun sebelumnya. Aktivitas belanja tetap ada, tetapi tidak menunjukkan lonjakan signifikan.
Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor utama. Di tengah tekanan harga yang semakin tinggi, masyarakat cenderung mengalihkan belanja ke kebutuhan yang lebih prioritas, terutama makanan dan minuman selama Ramadan. Ada diskon hari raya, tetapi tidak cukup kuat mendongkrak penjualan.
Di tengah tekanan harga yang semakin tinggi, masyarakat cenderung mengalihkan belanja ke kebutuhan yang lebih prioritas, terutama makanan dan minuman selama Ramadan.
Secara struktural, tantangan industri busana muslim tidak hanya berasal dari sisi permintaan, tetapi juga dari biaya produksi yang masih tinggi. Harga bahan baku tekstil di dalam negeri, yang dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN), membuat produk lokal kurang kompetitif dibandingkan barang impor.
“Kalau beli bahan atau produk tekstil di dalam negeri justru lebih mahal dibanding impor. Ini membuat produk kita kalah bersaing,” ujar Hermawati.
Produk fesyen, termasuk busana muslim dari Indonesia, harus bersaing dengan produk dari China. Produk China semakin mendominasi pasar karena efisiensi produksi dan harga yang lebih rendah.
“Jangan salah, China itu banyak sekali yang produksi busana, fashion muslim ya, nggak cuma perempuan, tapi juga laki-laki,” katanya.
Kondisi ini tidak hanya menekan pelaku UMKM fesyen, tetapi juga berdampak pada struktur industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional secara keseluruhan. Masuknya produk impor dalam jumlah besar mempersempit ruang bagi produk lokal di pasar domestik yang sejatinya sangat potensial.
Padahal, menurut Hermawati, Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. “Kita umat muslim terbesar, ini jadi peluang untuk industri dalam negeri termasuk industri kecil menengah menguasai pasar. Tapi produk dalam negeri kalah saing,” katanya.
Tren global juga menunjukkan busana muslim semakin diminati sehingga membuka peluang ekspansi ke pasar internasional. Keunikan desain yang memadukan unsur budaya lokal menjadi nilai tambah yang belum sepenuhnya dioptimalkan.
Namun, peluang tersebut masih terkendala berbagai faktor, mulai dari tingginya ongkos produksi, keterbatasan daya saing harga, hingga akses ke pasar ekspor yang belum merata. Banyak pelaku UMKM masih membutuhkan pendampingan untuk menembus pasar global, baik dari sisi standar produk, pemasaran, maupun jejaring distribusi.
Dalam konteks ini, Hermawati menilai, momentum Lebaran tetap menjadi penggerak penting bagi industri busana muslim. Namun ini lebih bersifat musiman.
Tanpa penguatan dari sisi hulu hingga hilir, termasuk kebijakan yang mendukung efisiensi produksi dan perlindungan pasar domestik, lonjakan permintaan saat hari raya berisiko tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Dengan pasar domestik yang besar dan potensi global yang terbuka, Indonesia dinilai memiliki peluang dan potensi besar untuk menjadi pusat produksi modest fashion dalam negeri dan dunia. Realisasi potensi tersebut bergantung pada kemampuan memperkuat daya saing industri dalam negeri,” katanya.
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, dalam siaran persnya, menegaskan pentingnya menjaga dan mengoptimalkan potensi pasar domestik Indonesia yang sangat besar agar tidak didominasi oleh produk impor, sekaligus tetap mendorong penguatan produk unggulan pengusaha UMKM untuk menembus pasar ekspor.
“Tanpa mengesampingkan upaya mendorong produk unggulan UMKM menembus pasar ekspor, pasar domestik kita harus dijaga dengan baik. Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta orang, potensi pasar kita sangat besar. Jika tidak besar, tidak mungkin pasar domestik kita menjadi sasaran berbagai produk impor,” ujar Maman.
Tanpa mengesampingkan upaya mendorong produk unggulan UMKM menembus pasar ekspor, pasar domestik kita harus dijaga dengan baik.
Maman mengatakan, pemerintah terus memperkuat berbagai langkah strategis untuk menjaga potensi pasar domestik sekaligus melindungi pengusaha UMKM dari persaingan yang tidak sehat.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menertibkan peredaran barang impor ilegal agar tidak mengganggu keberlangsungan usaha pengusaha UMKM di dalam negeri.
Berdasarkan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2024/2025, pasar busana muslim diproyeksikan mencapai 91,93 miliar dollar AS (Rp 1.379 triliun) pada 2024 dan 96,8 miliar dollar AS (Rp 1.452 triliun) pada 2025.
Pada 2033, nilainya bahkan diperkirakan mencapai 146,37 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.195 triliun) dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 5,3 persen per tahun. Di Indonesia, nilai pasar busana muslim ditaksir mencapai Rp 300 triliun per tahun.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, pertumbuhan konsumsi produk fesyen muslim dunia terus meningkat. “Hal ini menunjukkan bahwa industri modest fashion memiliki prospek pasar yang sangat besar dan harus berkembang sehingga mampu membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat peran sebagai produsen sekaligus pusat tren modest fashion dunia,” kata Agus dalam keterangannya.
Potensi industri busana muslim dalam negeri di pasar dunia juga sangat menjanjikan. Nilai ekspor busana mulsim Indonesia ke negara anggota Organization Islamic Cooperation (OIC) pada 2023 mencapai 990 juta dolar AS.
Dibanding 2022, nilainya meningkat 83 persen 2022. Saat itu, ekspornya senilai 540 juta dolar AS. Meski demikian, China masih mendominasi ekspor produk fesyen ke negara-negara anggota OIC. Berikutnya adalah Turki dan India.
“Ini menjadi tugas semua stakeholder untuk meningkatkan peran Indonesia dalam pasar fesyen muslim dunia,” kata Agus.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, menyatakan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat busana muslim dunia. Hal ini didukung oleh kreativitas desainer lokal, kekayaan budaya, serta keberagaman bahan tekstil berkualitas tinggi yang menjadi identitas bangsa.
Sejalan dengan implementasi kewajiban sertifikasi halal nasional, Reni melanjutkan, sertifikasi halal juga mulai diterapkan untuk busana muslim mulai Oktober 2026.
“Kebijakan ini tidak hanya memberikan jaminan kualitas, keamanan, serta kepercayaan konsumen, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi produk modest fashion Indonesia di pasar global,” kata Reni.
Indonesia sebagai negara yang secara komprehensif menerapkan sertifikasi halal pada produk barang gunaan, ia melanjutkan, dapat memberikan diferensiasi dan keunggulan kompetitif dibandingkan produk dari negara lain.
Melalui standar halal yang terjamin dan terintegrasi, Reni menambahkan, produk busana muslim Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar ekspor, khususnya negara-negara dengan populasi muslim besar maupun pasar global yang semakin mengedepankan aspek ethical fashion, keberlanjutan, dan traceability (keterlacakan) produk.





