Hutan Lestari Pertamina: Menenun Harmoni Alam, Menuai Kesejahteraan Masyarakat

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Suara lonceng yang memecah keheningan di lereng Gunung Agung menjadi mukadimah bagi sebuah harapan baru.

Di Pura Kancing Gumi, Bali, doa-doa melambung setinggi 250 meter dari permukaan laut, memohon keselamatan bagi alam semesta.

BACA JUGA: Pertamina Pastikan Pasokan LPG 3 Kg Tetap Terjaga di Masa Libur Idulfitri 1447 H

Namun, masyarakat di kawasan Hutan Mahawana Basuki Besakih menyadari bahwa doa harus beriringan dengan laku nyata.

Melalui filosofi Tri Hita Karana—keseimbangan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam—Pertamina hadir melalui program Hutan Lestari.

BACA JUGA: Pertamina Retail Wujudkan Mudik Aman, Nyaman & Menyenangkan di 6 Rest Area Jalur Tol

Inisiatif reforestasi pasca-erupsi Gunung Agung tahun 2017 ini kini tak sekadar menghijaukan kembali lereng yang sempat mati suri, tetapi juga menghidupkan kembali sendi-sendi ekonomi warga desa.

I Nyoman Artana, sosok local hero di balik transformasi ini, menegaskan pentingnya menjaga Besakih sebagai Huluning Bali Rajya atau hulu dari Pulau Dewata.

BACA JUGA: Peringati Hari Hutan Sedunia, Polda Riau Gelar Aksi Sedekah Ekologis di Hari Idulfitri

"Mengelola lingkungan harus dimulai dari hulu. Jika lokasi ini tidak dipelihara dengan baik, Bali akan rentan terhadap bencana dan perubahan iklim," ujarnya dengan nada penuh penekanan.

Hasil dari menjaga "hulu" ini pun berbuah manis. Kelompok binaan Nyoman kini mampu memanen 100 hingga 150 Kg madu per tahun, dengan harga jual mencapai Rp 500.000 per liter untuk madu kelanceng yang berkhasiat tinggi.

Tak hanya itu, geliat wisata alam di lokasi ini melonjak drastis dengan pendapatan kelompok mencapai Rp 120 juta per bulan, sekaligus membuka lapangan kerja bagi puluhan warga sebagai pengelola wisata.

Semangat menjaga alam ini pun bergema hingga ke tanah Lampung. Di Ulubelu, seorang pria bernama Wastoyo menjadi saksi hidup bagaimana hutan bisa mengubah karakter seseorang.

Jika dahulu  hutan adalah medan perburuan dan sasaran gergaji mesin, kini hutan adalah rumah yang ia proteksi dengan sepenuh hati.

"Dulu, menebang pohon adalah cara instan kami untuk menyambung hidup karena ketidaktahuan. Kami terjebak dalam siklus perusakan demi sesuap nasi," kenang Wastoyo.

Titik balik terjadi saat Pertamina memperkenalkan Sekolah Hutan Lestari. Melalui pendampingan intensif kepada KUPS Margo Rukun, para mantan pemburu ini bertransformasi menjadi pembudidaya ulung.

Mereka tidak hanya menanam 50.000 bibit pohon Multi-Purpose Tree Species (MPTS) untuk menahan erosi, tetapi juga mengubah limbah kopi menjadi pupuk berkualitas melalui unit Pertaganik Bestari.

Keberhasilan ini tercermin dari angka yang fantastis: KUPS Margo Rukun kini mencatatkan omzet hingga Rp 2,2 miliar per tahun.

Produk bibit dan konsep budidaya lebah mereka bahkan telah diadopsi oleh berbagai perusahaan multinasional sebagai standar rehabilitasi lahan di Lampung.

Bergeser ke pesisir Selatan Jawa, sebuah cerita unik lahir dari tangan dingin Wahyono di Kampung Laut, Cilacap.

Di tempat yang dulunya gundul akibat pembalakan mangrove besar-besaran, Wahyono sempat dianggap "gila" oleh warga sekitar karena kegigihannya menanam kembali bakau di atas lahan yang gersang dan penuh udang yang mati terserang penyakit.

"Dahulu semuanya gersang, namun, saya yakin mangrove adalah 'pabrik' alami kita, kini, keraguan warga sirna." ujar Wahyono.

Pembibitan mandiri Wahyono mampu memproduksi hingga 800 ribu bibit mangrove setiap tahunnya. Kawasan tersebut kini telah bermetamorfosis menjadi pusat eduwisata yang diakui peneliti mancanegara sebagai model pemulihan ekosistem pesisir.

Wahyono dengan haru menutup ceritanya, "Dulu mereka bilang saya gila, sekarang kita 'gila' bersama-sama untuk menjaga hutan demi masa depan anak cucu."

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron menyatakan bahwa ketiga cerita sukses ini adalah bukti nyata komitmen Pertamina dalam mendukung program kedaulatan pangan nasional, sejalan dengan visi pemerintah era Presiden Prabowo Subianto.

Program Hutan Lestari telah menanam lebih dari delapan juta pohon produktif dan mangrove serta telah membina masyarakat sekitar melalui integrasi antara reforestasi, pemberdayaan ekonomi, dan edukasi generasi muda.

"Pertamina membuktikan bahwa menjaga energi bumi bisa sejalan dengan menghidupkan kemandirian masyarakat, hutan tidak lagi hanya dijaga agar tidak rusak, tetapi dirawat agar terus memberi kehidupan," ujar Baron.

Program Hutan Lestari berkontribusi pada pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam mengakhiri kelaparan (SDG 2), memastikan konsumsi dan produksi berkelanjutan (SDG 12), serta aksi iklim (SDG 13).

Selain itu, inisiatif ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), yang menjadi landasan Pertamina dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan.(jpnn)

 

Redaktur & Reporter : Friederich Batari


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sambut Lebaran Idulfitri 1447 H, Harga Daging Kerbau dan Sapi Mahal di Aceh
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
155.908 Warga Binaan Terima Remisi dan Pengurangan Masa Pidana Khusus Idulfitri
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Sebanyak 1.381 Napi di DIY Terima Remisi Idulfitri 2026, 17 Langsung Bebas
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Arus Mudik Jarak Dekat Masih Tinggi, Jalur Cianjur Padat pada H+2 Lebaran
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Link Live Streaming Arsenal Vs Manchester City di Final Piala Carabao, Mulai Malam Ini 23.30 WIB
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.