Sutradara Pelangi di Mars Jawab Kritik Pedas Penonton

medcom.id
1 hari lalu
Cover Berita
Jakarta: Film animasi Pelangi di Mars kini resmi tayang di bioskop Indonesia sejak 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen Lebaran.
 
Namun alih-alih mendapat sambutan penuh pujian, film ini justru langsung menuai kritik tajam dari publik, terutama terkait tudingan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan kekuatan alur cerita.
 
Sejumlah penonton menilai film ini terlalu mengandalkan teknologi, sementara narasinya dianggap belum cukup kuat. Kritik tersebut memicu respons dari sutradara, Upie Guava.

Menanggapi isu AI, Upie membantah anggapan bahwa film ini “dibuat oleh mesin”.
 

Baca Juga :

Pelangi di Mars Ingin Jadi Standar Baru Film Fiksi Ilmiah Indonesia

“Kami percaya bahwa film tidak akan pernah bisa dibuat sepenuhnya oleh AI. Karena pada akhirnya, film adalah tentang ‘rasa’ manusia, emosi, empati, dan pengalaman hidup, yang tidak bisa digantikan oleh teknologi," tulis Upie melalui akun Instagram pribadinya @upieguava.
 
Ia menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu dalam proses produksi, bukan pengganti kreativitas manusia.
 
Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh upieGuava (@upieguava)



 
“Perlu juga dipahami bahwa AI saat ini hadir dalam berbagai bentuk di hampir semua perangkat teknologi yang kita gunakan, termasuk dalam proses inovasi di industri kreatif.”
 
Dari sisi produksi, Pelangi di Mars merupakan proyek ambisius yang dikembangkan sejak 2020 dan melibatkan ratusan kreator Indonesia. Film ini menggabungkan teknologi XR (extended reality), motion capture, Unreal Engine, hingga pendekatan hybrid antara live-action dan animasi.
 
Meski demikian, kritik juga datang dari sisi cerita yang dinilai kurang matang. Menanggapi hal ini, Upie menilai perbedaan pandangan sebagai sesuatu yang wajar.
 
“Kami mengapresiasi setiap kritik dan masukan yang diberikan kepada film ini. Namun kami juga meyakini bahwa sebuah karya tidak dapat dilihat hanya dari satu sudut pandang.”
 
“Perbedaan perspektif adalah hal yang wajar, dan justru memperkaya diskusi dalam industri film kita.”
 

Baca Juga :

Pakai Kostum Astronot, Messi Gusti Curhat Tantangan Syuting Film Pelangi di Mars

Film ini sendiri mengusung genre fiksi ilmiah keluarga, berkisah tentang petualangan anak bernama Pelangi di planet Mars, dengan tema besar hubungan keluarga, persahabatan, dan imajinasi masa depan.
 
Bagi Upie, Pelangi di Mars bukan sekadar film, melainkan bagian dari eksperimen kreatif yang lebih besar.
 
“Film ini bukan hanya hasil akhir, tetapi juga sebuah proses pembelajaran, pembongkaran batas, dan pencarian kemungkinan baru.”
 
Ia juga menegaskan bahwa nilai sebuah film tidak hanya diukur dari hasil akhirnya, tetapi dari dampaknya bagi industri.
 
“Nilai sebuah karya tidak hanya diukur dari bentuk akhirnya, melainkan dari dampaknya—dari perubahan yang ditanamkannya dan dari kontribusinya bagi pertumbuhan ekosistem perfilman Indonesia.”
 
Kontroversi yang mengiringi Pelangi di Mars menunjukkan satu hal: film ini mungkin belum sempurna, tetapi berhasil memantik perdebatan besar—terutama soal batas antara teknologi dan sentuhan manusia dalam industri film.
 

 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump ancam serang Iran dalam 48 jam jika tetap menutup Selat Hormuz
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Parasocial Grief: Ketika Duka pada Publik Figur Terasa Seperti Nyata
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Sadis! Suami Bunuh Istri Siri di Samarinda, Tubuh Korban Dimutilasi Jadi 7 Bagian
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Polisi Ungkap Kronologi WNA Irak Habisi Nyawa Cucu Mpok Nori
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jalur Lintas Selatan Padat di H+2 Lebaran, Kapolda Jabar Ungkap Penyebabnya
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.