VIVA –Serangan udara Iran ke pangkalan militer milik Amerika Serikat di Timur Tengah menyebabkan kerugian hingga 800 juta dolar AS atau setara Rp 12,5 T hanya dalam dua minggu pertama perang, menurut analisis BBC.
Laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) bersama analisis BBC menyebutkan, sebagian besar kerusakan terjadi akibat serangan balasan Teheran dalam sepekan setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara terkoordinasi pada 28 Februari lalu.
Meski skala penuh kerusakan terhadap aset AS di kawasan Teluk belum sepenuhnya diketahui, angka 800 juta dolar ini memberi gambaran tentang besarnya biaya yang harus ditanggung jika konflik berlangsung lebih lama.
“Kerusakan pada pangkalan AS di kawasan ini selama ini kurang banyak dilaporkan. Kemungkinan kerusakannya cukup besar, tapi jumlah pastinya baru akan diketahui setelah lebih banyak data tersedia,” kata Mark Cancian, salah satu penulis studi CSIS, seperti dikutip BBC via NDTV, Senin 23 Maret 2026.
Saat dimintai tanggapan, Departemen Pertahanan AS mengarahkan BBC ke Komando Pusat (Central Command). Namun, pejabat di sana menolak memberikan komentar.
Iran diketahui menargetkan sistem pertahanan udara dan komunikasi satelit milik AS di Yordania, Uni Emirat Arab, dan negara-negara Teluk lainnya. Radar untuk sistem Terminal High Altitude Area Defense di sebuah pangkalan udara AS di Yordania dilaporkan mengalami kerusakan berat. Sistem radar ini diperkirakan bernilai sekitar 485 juta dolar AS atau setara Rp 7,6 T.
Selain itu, kerusakan pada bangunan dan infrastruktur lain di pangkalan udara AS di Timur Tengah diperkirakan menambah kerugian hingga 310 juta dolar AS atau setara Rp 4,9 T.
Analisis citra satelit BBC menunjukkan Iran menyerang setidaknya tiga pangkalan udara lebih dari sekali. Citra tersebut memperlihatkan adanya kerusakan baru di pangkalan Ali Al-Salim di Kuwait, Al-Udeid di Qatar, serta Prince Sultan di Arab Saudi pada berbagai fase konflik.
Sejak perang dimulai, AS juga kehilangan 13 personel militernya. Sementara itu, lembaga Human Rights Activists News Agency memperkirakan jumlah korban tewas telah mencapai hampir 3.200 orang, dengan sekitar 1.400 di antaranya merupakan warga sipil.





