Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Bogor
Tekad kuat untuk mengubah nasib membawa Isra (29), seorang pemuda disabilitas rungu (tuli) asal Padang, Sumatera Barat, menempuh perjalanan jauh ke tanah rantau. Setelah menanti selama tiga tahun, impiannya untuk mandiri kini mulai menampakkan hasil di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS), Cibinong, Kabupaten Bogor.
Isra merupakan salah satu peserta pelatihan vokasional di bawah binaan Kementerian Sosial RI. Motivasi terbesarnya sederhana namun mendalam: ingin membalas budi kedua orang tuanya yang bekerja keras sebagai buruh dan pedagang warung kecil.
"Aku tidak mau pulang sebelum bisa bawa uang untuk orang tuaku," ungkap Isra melalui bahasa isyarat, dilansir dari laman Kemensos, Senin, 23 Maret 2026.
Titik Balik Melalui Teknologi
Perjalanan Isra tidaklah mudah. Lulusan SLB YPPLB Padang tahun 2016 ini sempat bekerja sebagai staf gudang di Kota Padang sebelum akhirnya memutuskan mengikuti pelatihan di STIS. Di lembaga ini, ia mengambil jurusan contact center.
Momen krusial terjadi saat Isra menerima bantuan alat bantu dengar dari STIS Kemensos. Bagi pemuda yang sejak lahir hidup dalam kesunyian ini, alat tersebut membuka dunia baru.
"Dulu duniaku sangat sunyi. Dari yang biasanya cuma bisa melihat gerakan, sekarang sudah lebih lancar komunikasi," tuturnya dengan penuh syukur.
Mendengar Takbir Pertama Kali
Berkat bantuan alat tersebut, Isra merasakan pengalaman emosional yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pada malam Idulfitri lalu, ia memutuskan tidak pulang ke Padang demi fokus pada persiapan kerja. Di tengah kesendirian di asrama, ia untuk pertama kalinya mendengar gema takbir.
"Dulu duniaku sangat sunyi. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku bisa mendengar suara takbiran," ungkapnya haru.
Menatap Masa Depan di Dunia Kerja
Ketekunan Isra berbuah manis. Pada 13 Maret 2026, ia dinyatakan lulus seleksi dan diterima sebagai kandidat cleaning service di Mandiri Contact Center. Ia dijadwalkan mulai bekerja secara resmi pada 1 April 2026 mendatang.
Keberhasilan ini menjadi jawaban atas penantian panjang selama tiga tahun untuk mendapatkan kesempatan rehabilitasi sosial dan pelatihan vokasional.
Kini, dengan kemandirian yang sudah di depan mata, Isra siap membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berbakti kepada keluarga dan berkontribusi di dunia kerja.
STIS Kemensos sendiri terus berkomitmen memberikan ruang bagi penyandang disabilitas seperti Isra untuk mendapatkan akses pelatihan dan penyaluran kerja, demi mewujudkan inklusivitas ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Editor: Redaktur TVRINews





