Harga Minyak Melonjak Imbas Perang di Iran, Industri Penerbangan Kewalahan

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Industri penerbangan mulai kewalahan dengan melonjaknya harga minyak global akibat perang antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran. Maskapai asal AS, United Airlines berencana memangkas penerbangan yang dinilai kurang menguntungkan akibat hal tersebut.

Chief Executive Officer United Airlines, Scott Kirby, menyebut perusahaan mengantisipasi harga minyak bisa menembus USD 175 per barel dan bertahan di atas USD 100 hingga akhir 2027.

Jika skenario ini terjadi, biaya bahan bakar maskapai berpotensi melonjak hingga USD 11 miliar per tahun, lebih dari dua kali lipat laba terbaik yang pernah dicapai perusahaan.

“Ada kemungkinan besar itu tidak akan seburuk itu. Namun kerugian bisa ditekan jika kita mempersiapkan diri untuk kemungkinan tersebut,” kata Kirby dikutip dari Reuters, Minggu (22/3).

Sebagai langkah antisipasi, United Airlines akan memangkas sekitar 3 persen penerbangan di luar jam sibuk pada kuartal II dan III 2026. Selain itu, maskapai juga mengurangi 1 persen kapasitas dari hub utamanya di Chicago serta melanjutkan penghentian rute ke Tel Aviv dan Dubai. Secara keseluruhan, pemangkasan kapasitas diperkirakan mencapai sekitar 5 persen dari rencana operasional tahun ini.

Meski melakukan pengurangan penerbangan, United berencana mendatangkan sekitar 120 pesawat baru tahun ini, termasuk 20 unit Boeing 787, serta tambahan 130 pesawat hingga 2028 tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja maupun menunda investasi.

Maskapai Mulai Naikkan Tarif

Di tengah tekanan biaya, permintaan perjalanan masih kuat. United Airlines bahkan mencatat 10 minggu pertama tahun ini sebagai periode pemesanan terbaik sepanjang sejarah, memberi ruang bagi maskapai untuk mengerek harga tiket sebesar 15-20 persen dalam sepekan terakhir, dengan potensi kenaikan lanjutan sekitar 5-7 persen.

Maskapai lain seperti Delta Air Lines juga menyatakan siap menyesuaikan kapasitas jika harga bahan bakar tetap tinggi, sementara maskapai AS dinilai lebih rentan karena umumnya tidak menerapkan lindung nilai bahan bakar.

Krisis Terparah Sejak Pandemi

Mengutip Financial Times, Minggu (22/3), industri penerbangan global kini menghadapi krisis terparah sejak pandemi COVID-19. Memasuki pekan keempat perang, lebih dari USD 50 miliar nilai pasar maskapai dunia dilaporkan menguap, setara sekitar Rp 846,4 triliun, di tengah gangguan operasional akibat penutupan wilayah udara dan terganggunya bandara hub di kawasan Teluk.

Biang keroknya adalah kenaikan tajam harga bahan bakar, seperti bahan bakar jet yang telah melonjak dua kali lipat sejak konflik dimulai, padahal bahan bakar menyumbang sekitar sepertiga biaya operasional maskapai. “Harga bahan bakar juga melonjak cukup tajam setelah invasi Ukraina pada tahun 2022, tetapi kali ini trennya semakin memburuk,” kata CEO easyJet, Kenton Jarvis.

Tekanan biaya membuat maskapai sulit bertahan tanpa penyesuaian tarif. CEO Lufthansa, Carsten Spohr, menegaskan, “Keuntungan rata-rata kami sekitar €10 per penumpang, tidak mungkin Anda dapat menanggung biaya tambahan tersebut.” jelasnya.

Selain itu, gangguan pasokan bahan bakar juga mulai diantisipasi. CEO Air France-KLM, Ben Smith, mengatakan pihaknya telah menyiapkan skenario darurat, termasuk pengurangan rute penerbangan ke Asia, sementara maskapai di kawasan Teluk seperti Emirates, Etihad Airways, dan Qatar Airways terpaksa memangkas jadwal akibat konflik dan merosotnya pariwisata.

“Bagi orang-orang di Timur Tengah, ini adalah krisis besar,” kata Willie Walsh dari IATA.

Tak hanya penumpang, sektor kargo juga terdampak. Peralihan pengiriman dari jalur laut ke udara membuat kapasitas bandara kewalahan. Analis pun mengingatkan risiko keuangan bagi maskapai tanpa dukungan pemerintah. “Jika Anda adalah maskapai penerbangan tanpa dukungan negara, Anda akan mengalami masalah,” kata Andrew Charlton dari Aviation Advocacy.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Asus ROG Strix G16 & G18 2026 Diperkenalkan, RTX 5080 dan Layar Mini LED 300Hz
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Upaya Damai Rusia-Ukraina Tersendat, Amerika Serikat Lebih Fokus Perang Lawan Iran
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Meski Ditinggal Mudik, Kualitas Udara Jakarta Masih Berada di Level Tidak Sehat
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
WN Irak Pembunuh Cucu Mpok Nori Sempat Hendak Bunuh Diri Usai Ditolak Rujuk
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Monas Dipadati Pengunjung pada H+1 Idulfitri
• 20 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.