KUPANG, KOMPAS - Cuaca ekstrem belum beranjak dari hampir seluruh wilayah NTT. Hujan, angin kencang, serta gelombang tinggi masih terus melanda. Potensi bencana membayangi. Masyarakat yang kian sadar akan bencana pun terus diingatkan waspada.
Seperti sepanjang Minggu hingga Senin (22-23/3/2026) hari ini, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih terjadi di Kota Kupang dan sekitarnya. Awan mendung memayungi daerah itu sejak tiga hari belakangan.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Sti Nenot'ek dalam keterangan tertulis melaporkan, pihaknya telah mengeluarkan peringatan dini hingga Selasa (24/3) besok. Saat ini terjadi dinamika atmosfer skala regional yang meningkatkan curah hujan di NTT.
Selain itu, terjadi siklon tropis Narelle di bagian utara Australia. Kondisi ini menciptakan pembelokan, perlambatan, pertemuan angin di NTT. Kelembaban udara yang tercipta ikut memperkuat potensi hujan disertai petir dan angin kencang dalam durasi singkat.
Menurut Sti, cuaca buruk ini dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang. Masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah rawan bencana diminta waspada dan sedapat mungkin melakukan evakuasi mandiri.
Seperti masyarakat di sekitar lereng Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur yang diingatkan waspada akan potensi banjir lahar hujan dari puncak. Hingga kini, gunung hiperaktif itu masih terus erupsi dan memuntahkan material.
Tumpukan material berpotensi terdorong ke arah lereng manakala terjadi hujan dengan intensitas lebat dalam durasi lama. Seperti akhir tahun lalu, permukiman di Desa Dulipali rusak diterjang banjir lahar hujan. "Kami hampir setiap hari melintas di jalur itu," kata Yoseph Tukan (40), warga setempat.
Serial Artikel
Iklim Ekstrem Bebani Warga Miskin Lima Kali Lipat
Anomali iklim yang diperkirakan makin ekstrem di Indonesia akan kian membebani warga miskin pada 2045. Pengeluaran untuk untuk kebutuhan bahan pangan, mengakses air bersih, dan mendapatkan listrik akan melonjak
Menurutnya, jalur rawan banjir lahar hujan membentang di sepanjang Jalan Trans Flores dari Desa Nobo sampai Desa Hokeng. Jaraknya lebih kurang 8 kilometer. Setiap hari, ribuan kendaraan mengangkut orang dan logistik melewati jalur tersebut.
Angin kencang yang melanda menyebabkan gelombang tinggi di berbagai wilayah perairan NTT. Stasiun Maritim Tenau Kupang memperkirakan tinggi gelombang antara 2,5 meter sampai 4 meter. Kecepatan angin mencapai 35 knot atau 64,8 kilometer per jam.
Demi alasan keselamatan, kapal nelayan, tongkang, hingga kapal ferry dianggap berisiko. Disarankan agar tidak berlayar. Adapun kapal ferry yang dikelola Angkut Sungai Danau dan Penyebarangan merupakan tulang punggung transportasi penumpang dan logistik di NTT.
Akibat gelombang tinggi itu pula, harga ikan di Pasar Kasih Kupang melonjak. Tuna kecil yang berkisar Rp 20.000 per ekor meroket hingga Rp 80.000 per ekor. Pasokan terbatas. "Nelayan belum berani melaut karena cuaca. Rata-rata di sini ikan beku. Tidak ada ikan segar," kata Adi, pedagang.
Di pesisir kampung nelayan Oesapa, banyak perahu diamankan dari balik hutan mangrove untuk menghindari gelombang pasang. Oesapa merupakan salah satu sentra hasil laut di Kota Kupang. Tangkapan nelayan dijual hingga perbatasan Indonesia dan Timor Leste.
Mansyur Dokeng, Ketua Kelompok Nelayan Angsa Putih mengatakan, nelayan diajarkan membaca cuaca. Mereka juga dibekali sebuah monitor besar untuk mengikuti laporan perkembangan cuaca terkini dari BMKG. Mereka tidak nekat jika kondisi cuaca ekstrem.
"Semua dihitung betul. Kalau nekat resikonya bisa tenggelam dan nyawa melayang. Kami terus sadarkan nelayan," kata Dokeng. Ia pernah tenggelam dan hilang selama beberapa hari kemudian ditemukan selamat. Kini ia sudah sadar dan menjadi panutan bagi nelayan setempat.
Serial Artikel
Cuaca Ekstrem, Dua Kapal Feri Terseret Arus hingga Terdampar di Kupang
KMP Sirung dan KMP Pulau Sabu mengalami putus tali jangkar saat berlabuh di Pulau Semau, Kabupaten Kupang, NTT. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.





