Iran menyatakan akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz jika Amerika Serikat menyerang pembangkit listriknya. Teheran juga menyatakan bakal melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur energi dan air di Timur Tengah.
Ancaman itu disampaikan Iran setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik negara itu, jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz.
"Infrastruktur penting dan fasilitas energi di kawasan ini dapat hancur secara permanen jika pembangkit listrik Iran menjadi sasaran," demikian cuitan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf di X pada Minggu (22/3) dikutip dari Al Jazeera, Senin (23/3).
“Segera setelah pembangkit listrik dan infrastruktur di negara kita menjadi sasaran, infrastruktur vital serta infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan dianggap sebagai sasaran yang sah dan akan dihancurkan secara permanen,” Ghalibaf menambahkan.
Ghalibaf mengatakan bahwa infrastruktur regional akan menjadi target yang sah jika fasilitas Iran diserang, dan bahwa pembalasan Teheran akan membuat harga minyak bergejolak untuk waktu yang lama.
Komentar tersebut muncul setelah Trump pada Sabtu (21/3) mengatakan bahwa AS akan 'menghancurkan' pembangkit listrik Iran, jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Tertutupnya Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global, telah menyebabkan krisis minyak terburuk sejak 1970-an.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian kemudian mengatakan pada Minggu (22/3), bahwa Selat Hormuz sebenarnya tetap terbuka bagi seluruh aktivitas pelayaran, kecuali kapal yang memiliki keterkaitan dengan pihak yang dianggap sebagai musuh.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan bahwa jalur air tersebut tidak ditutup. Ia juga mengindikasikan bahwa AS dan Israel bertanggung jawab atas gangguan baru-baru ini.
“Kapal-kapal ragu-ragu karena perusahaan asuransi takut akan perang pilihan yang Anda picu, bukan Iran,” katanya di X. “Tidak ada perusahaan asuransi, dan tidak ada orang Iran, yang akan terpengaruh oleh ancaman lebih lanjut.”




