Semangat kebersamaan begitu terasa dalam tradisi Antar Dulang yang digelar warga Dusun Resetlemen, Pulau Osi, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Tradisi mengarak makanan dalam talam atau dulang ini digelar pada H+1 Lebaran, Minggu (22/3) sore.
Ribuan warga tampak antusias turun ke jalan, mengarak dulang berukuran besar yang berisi aneka makanan mengelilingi kampung. Kegiatan ini menjadi penutup manis setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadan.
Keunikan tradisi ini terletak pada hiasan dulang yang dibawa. Setiap dulang dihias indah dengan miniatur masjid, menghadirkan nuansa religius yang kental di tengah kemeriahan arak-arakan.
Isi dulang pun beragam, mulai dari makanan tradisional hingga modern. Ketupat, ikan, telur, aneka kue, hingga minuman ringan tersusun rapi, mencerminkan kekayaan kuliner sekaligus kreativitas warga. Seluruh hidangan tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat sebagai bentuk nyata gotong royong.
Sepanjang perjalanan, suasana semakin hidup dengan iringan tarian hadrat serta lantunan selawat Nabi yang menggema, menambah khidmat sekaligus semarak perayaan.
Ketua panitia, La Mamang, menjelaskan bahwa tradisi ini telah menjadi rutinitas tahunan yang selalu dinanti warga.
“Kami di Resetlemen ini ada lima dulang makanan dari lima RT. Masing-masing RT membawa satu dulang. Ini sudah menjadi budaya kami, dilakukan setiap hari setelah Idul Fitri. Isi dulang kemudian dibagikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Tradisi antar dulang tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga diharapkan dapat menjadi ikon religi dan budaya di Seram Bagian Barat.
Salah satu warga, Ode Satiwa, berharap tradisi ini terus dilestarikan.
“Ini ajang kebersamaan warga dari RT 1 sampai RT 5. Harapannya ke depan tradisi ini tetap terjaga dan diwariskan ke generasi berikutnya,” katanya.
Lebih dari sekadar seremoni, Antar Dulang menjadi momentum mempererat silaturahmi antarwarga. Tradisi ini juga menjadi bentuk ungkapan syukur atas kesehatan dan rezeki setelah menuntaskan puasa serta khatam Al-Quran.
Setelah diarak, menggelar doa bersama di masjid. Kemudian makanan di dalam dulang dibagikan kepada warga dan pengunjung.
Antar Dulang bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga simbol kuatnya nilai persatuan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat Maluku.





