Harga Komoditas Naik, Pengusaha Tambang Minta Kelonggaran Produksi & Ekspor

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha tambang menilai tingginya permintaan komoditas tambang imbas konflik Timur Tengah dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan penerimaan negara. Pengusaha pun mendorong pemerintah memberikan keleluasaan untuk meningkatkan produksi maupun ekspor.

Kenaikan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah telah memicu kenaikan permintaan (demand) komoditas tambang di pasar internasional, yang berujung pada kenaikan harga.

Sekretaris Jenderal Indonesian Mining Association (IMA) sekaligus Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas menyampaikan bahwa konflik di Timur Tengah secara umum akan memengaruhi rantai pasok global, khususnya energi, yang pada akhirnya berdampak luas ke berbagai sektor, termasuk pertambangan.

“Kalau namanya situasi Timur Tengah yang tidak damai ini kan selalu, pasti ada dampak ke mana-mana, ke seluruh dunia dampaknya pasti, ketersediaan energi antara lain,” ujarnya saat ditemui dalam acara open house Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dikutip Senin (23/3/2026). 

Menurut Tony, kenaikan harga komoditas tambang saat ini bukan semata faktor suplai, melainkan didorong oleh lonjakan permintaan di pasar global.

“Tentu saja ini kan harganya meningkat. Harganya meningkat berarti apa? Permintaannya kan lebih banyak. Jadi kan timing-nya tepat sebenarnya,” jelasnya.

Baca Juga

  • Iran Ancam Balik Trump Bakal Hancurkan Fasilitas Energi di Timur Tengah & Tutup Total Hormuz
  • Bos Kadin Minta Pengusaha Kencangkan Ikat Pinggang Hadapi Dampak Konflik Iran
  • IEA: Dampak Perang Iran Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970-an

Dia menilai momentum ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan penerimaan negara, baik melalui optimalisasi produksi maupun ekspor. Dengan demand yang sedang tinggi, pemerintah dinilai dapat memberi ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan output atau produksi.

“Supaya dampak bisa memberi pemasukan bagi negara, itu kemudian diberikan keleluasaan untuk meningkatkan produksi atau kan bisa melakukan ekspor juga. Negara juga untung, perusahaannya juga untung,” katanya.

Tony menegaskan bahwa kenaikan permintaan tersebut bersifat global dan tidak berasal dari satu negara tertentu.

“Kalau demand, kalau kita bicara tambang kan ini bukan per negara. Ini kan international market. Jadi memang karena demand-nya naik, makanya harganya naik,” ujarnya.

Sementara itu, PT Freeport Indonesia menargetkan produksi sebesar 1,1 miliar pound tembaga dan 800.000 ounces emas pada tahun ini. Tony mengakui tantangan utama yang dihadapi perusahaan adalah kenaikan biaya operasional serta tantangan teknis di lapangan.

Dalam waktu dekat, perusahaan juga bersiap meningkatkan produksi dari tambang bawah tanah Grasberg.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat 2–3 minggu ke depan kita sudah mulai bisa produksi di situ dan akan mulai ramp up,” kata Tony.

Dia menambahkan bahwa perusahaan berfokus pada aspek yang dapat dikendalikan, seperti produksi dan operasional, sementara faktor harga sepenuhnya ditentukan oleh pasar global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mobil Buatan Indonesia Kian Diminati Negara Lain, Ekspor Naik 16,5 Persen
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Pengunjung Mal Membludak di H+1 Lebaran
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Fabregas Persembahkan Kemenangan Como untuk Michael Bambang Hartono, Suasana Haru Warnai Laga
• 17 jam lalupantau.com
thumb
5 Fakta Cucu Mpok Nori Tewas Dibunuh WN Irak Eks Suami Siri
• 10 jam laludetik.com
thumb
Iran Balas Ancaman Trump, bakal Tutup Selat Hormuz Sepenuhnya Jika Fasilitas Energi Diserang
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.