EtIndonesia. Penutupan sebagian pemerintah Amerika Serikat telah berlangsung lebih dari sebulan, dan dampaknya semakin meluas. Di sejumlah bandara, pemeriksaan keamanan menjadi kacau, dengan antrian penumpang yang sangat panjang.
Di tengah situasi ini, pendiri Tesla sekaligus CEO SpaceX, Elon Musk, angkat bicara. Pada 21 Maret, ia menulis di platform X bahwa jika masalah pendanaan terus berlarut-larut, ia bersedia menggunakan uang pribadinya untuk membayar gaji karyawan Transportation Security Administration (TSA).
Saat ini, sebagian besar petugas keamanan bandara masih tetap bekerja, namun belum menerima gaji. Kebetulan ini terjadi bersamaan dengan musim liburan musim semi (spring break), sehingga jumlah penumpang di berbagai bandara meningkat tajam dan tekanan kerja pun melonjak.
Sekitar 50.000 pegawai TSA terdampak situasi ini. Karena tidak menerima gaji dalam waktu lama, sebagian memilih untuk tidak masuk kerja, yang menyebabkan efisiensi pemeriksaan keamanan menurun drastis. Banyak bandara kini mengalami antrian panjang, bahkan sampai ke luar terminal.
Data dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menunjukkan tingkat ketidakhadiran pegawai TSA meningkat tajam. Akhir pekan lalu, tingkat ketidakhadiran mencapai 10%, padahal biasanya kurang dari 2%. Di beberapa bandara bahkan lebih parah—Bandara JFK di New York mendekati 30%, Atlanta lebih dari 30%, dan New Orleans juga hampir 30%.
Selain itu, sejak penutupan dimulai hingga sekarang, sebanyak 366 pegawai TSA telah mengundurkan diri. Jika situasi ini terus berlanjut, ada pejabat yang memperingatkan bahwa beberapa bandara kecil mungkin terpaksa ditutup.
Lalu kapan para pegawai akan menerima gaji mereka? Untuk saat ini, belum ada kepastian dalam waktu dekat. Menteri Perhubungan AS, Sean Duffy, menyatakan bahwa jika penutupan terus berlangsung hingga 27 Maret, para pegawai akan melewatkan siklus pembayaran gaji penuh kedua. Namun secara hukum, setelah pemerintah kembali beroperasi, gaji selama periode ini tetap akan dibayarkan secara penuh.
Adapun pernyataan Elon Musk untuk “membayar gaji dari kantong pribadi”, saat ini masih sebatas gagasan. Secara hukum, belum jelas apakah pihak swasta dapat langsung membayar pegawai federal.
Menurut laporan USA Today, profesor kebijakan keamanan nasional dan anggaran dari Duke University, Philip Candreva, menyebutkan bahwa jika berupa donasi, dana tersebut tetap harus masuk ke Departemen Keuangan AS terlebih dahulu dan disalurkan sesuai proses Kongres—tidak bisa dibayarkan secara langsung begitu saja. (Hui)
Sumber : NTDTV.com





