Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah memiliki ruang besar untuk melakukan penghematan anggaran negara.
Ia juga menyebutkan telah menghemat hingga ratusan triliun rupiah dari efisiensi pengelolaan keuangan negara.
"Jadi begini saya ini berpendapat ya, uang kita ada di mana-mana tapi saya enggak ngerti apa elite kita ngerti atau paham atau tidak," ujar Prabowo dalam acara Presiden Prabowo Menjawab bersama jurnalis senior dan pengamat di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/3).
"Saya sudah ceritakan di awal, pemerintahan saya bisa menghemat tiga ratus triliun. Di akhir tahun pertama another dua ratus triliun, lima ratus triliun," katanya.
Prabowo menjelaskan, potensi penghematan tersebut salah satunya terlihat dari ICOR (Incremental Capital Output Ratio).
"Tadi ICOR itu pokoknya itu menurut saya di situ menggambarkan bahwa kita punya uang itu hangus bocor ya kan. Tiga puluh persen dari anggaran kita, APBN kita, 3.700 triliun," ungkap Prabowo.
Ia menyebut, jika hanya sebagian kecil dari kebocoran tersebut bisa ditekan, nilainya sudah sangat signifikan bagi keuangan negara.
"Oke, mungkin bener dari tiga puluh persen, katakanlah sepuluh persen produktivitas. Kalau sepuluh persen saja itu adalah tiga ratus triliun. Dari situ aja, ah saya kasih lihat lagi ya jadi sebetulnya uangnya tuh ada," tuturnya.
Menanggapi kekhawatiran terkait tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk potensi defisit, ia menegaskan tidak akan tinggal diam.
"Ya kan masa kita duduk diam, kita kan lakukan segala upaya. Kita mau turunkan konsumsi, kita mau tingkatkan biodiesel kita yang seratus gigawatt," ujar Prabowo.
Ia juga memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah efisiensi dan realokasi anggaran, tanpa menunggu kondisi krisis terjadi.
"Ya kita lihatlah saya punya menteri, saya punya tim cukup bagus ya. Kita juga sudah ambil langkah-langkah, bukan kita tunggu krisis kan, kita antisipasi," kata dia.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan pemerintah telah melakukan realokasi anggaran dalam jumlah besar.
"Totalnya kurang lebih 70 miliar dolar. Yang sudah Bapak realokasi kurang lebih hampir mendekati 800 triliun," ujar Pras.
"Di luar itu, Bapak perintahkan untuk efisiensi kembali, kurang lebih kami sudah mendapatkan sekitar 81 T," lanjutnya.





