FAJAR, JAKARTA – Aksi impresif Veda Ega Pratama di Moto3 musim ini sampai mengundang perhatian media Italia, yang memujinya setinggi langit meski awalnya mengira kisahnya seperti dongeng pembalap Asia.
Lesatan pembalap Indonesia tersebut tidak hanya menuai decak kagum di dalam negeri, tetapi juga menjadi sorotan media internasional setelah performanya yang konsisten dan berani.
Veda kembali melanjutkan sensasinya dengan finis di posisi ketiga pada seri kedua Moto3 Brasil, Minggu (22/3/2026), di Sirkuit Ayrton Senna, Goiania.
Sempat mengalami kesulitan hingga balapan dihentikan akibat bendera merah, pembalap berusia 17 tahun dari Honda Team Asia itu justru tampil agresif setelah restart.
Memulai balapan dari posisi ke-10 dan hanya menyisakan lima lap, Veda mampu merangsek ke barisan depan hingga merebut posisi ketiga tepat di lap terakhir.
Hasil tersebut membuatnya mencetak sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang berhasil naik podium di ajang Grand Prix motor.
Sebelumnya, pencapaian terbaik pembalap Tanah Air adalah finis di posisi kesembilan yang diraih Mario Suryo Aji pada Moto2 Americas musim lalu.
Penampilan Veda pun mendapat sorotan khusus dari Eurosport Italia dalam laporan balapan Moto3 Brasil.
“Melengkapi podium adalah sang rookie Veda Pratama, kejutan sebenarnya pada awal musim ini,” tulis Eurosport Italia.
“Ini adalah posisi tiga besar pertamanya dalam karier, dan dia sangat pantas.”
“Awalnya dia terlihat seperti dongeng pembalap Asia lainnya, tetapi dia sungguh punya talenta: dia sangat cepat dan agresif, dan tidak takut dengan siapapun.”
Bakat dan keberanian Veda memang sudah terlihat sejak usia dini, termasuk ketika tampil di berbagai ajang Road to MotoGP.
Ia sudah meraih podium Asia Talent Cup saat masih berusia 13 tahun, bahkan ketika posturnya masih terlihat kecil di atas motor prototipe Honda NSF250R.
Saat menjalani debut di Eropa pada Red Bull Rookies Cup 2024, Veda langsung menunjukkan keberaniannya dengan mencoba menembus posisi kedua, meski akhirnya gagal finis.
Mental bertarung itu kembali terlihat dalam dua balapan awal musim ini. Ia tak gentar menghadapi para pembalap yang lebih berpengalaman.
Salah satu momen penting terjadi saat duel dengan Alvaro Carpe, rider muda berbakat asal Spanyol yang dikenal sebagai juara Rookies Cup dan JuniorGP dua tahun lalu.
Pada lap terakhir, Veda berhasil menyalip pembalap Red Bull KTM Ajo tersebut lewat manuver block pass di Tikungan 4, salah satu bagian tersulit Sirkuit Goiania, untuk mengamankan posisi ketiga.
Hal lain yang membedakan Veda dari kebanyakan pembalap Asia adalah jalannya menuju Moto3 yang murni karena prestasi.
Status runner-up di kejuaraan Rookies Cup memberinya kesempatan tampil di Moto3 pada usia 17 tahun, bahkan setahun lebih cepat dari batas usia minimal.
Keistimewaan tersebut hanya diberikan kepada tiga besar klasemen akhir Rookies Cup dan JuniorGP/Moto3 Junior, dua ajang utama dalam program Road to MotoGP.
Setelah mencapai pencapaian penting dalam kariernya, Veda mengaku sangat bahagia. Ia bahkan berteriak keras saat melintasi garis finis pada balapan tersebut.
Meski begitu, sikap rendah hati tetap ia tunjukkan.
Ia berharap kesuksesannya bisa diikuti oleh pembalap Indonesia lainnya, sekaligus mematahkan stereotip terhadap pembalap Asia seperti yang sempat disinggung Eurosport Italia.
“Saya tidak tahu, tentunya sangat senang,” ucap Veda kepada MotoGP ketika ditanya soal keberhasilannya menjadi pembalap Indonesia pertama yang meraih podium.
“Saya harap saya bisa, maaf, bukan, bukan, … akan ada lebih banyak pembalap Indonesia yang mendapatkan podium di Grand Prix ini.”





