Ini Alasan Harga Emas Turun Saat Perang Iran vs AS

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas sempat melonjak tajam saat konflik di Iran memanas pada akhir Februari 2026. Namun, alih-alih bertahan sebagai aset lindung nilai, logam mulia tersebut justru melemah dalam beberapa pekan terakhir. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa pergerakan emas tidak semata ditentukan oleh risiko geopolitik, melainkan lebih dipengaruhi faktor fundamental ekonomi global.

Pada fase awal konflik, pasar merespons secara klasik, yakni harga minyak naik, pasar saham tertekan, dan investor beralih ke aset aman seperti emas. Lonjakan ini sempat mendorong harga emas menembus level tinggi. Namun, tren tersebut tidak bertahan lama.

Dilansir Morning Star, menurut Mark Haefele, Kepala Investasi di UBS Global Wealth Management, pergeseran terjadi ketika lonjakan harga energi mulai dipandang sebagai pemicu inflasi global. 

Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa bank sentral, terutama Federal Reserve, akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Dampaknya, imbal hasil riil meningkat, yang secara historis merupakan faktor yang menekan harga emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.

"Di sisi lain, penguatan Amerika Serikat melalui dolar AS turut menjadi tekanan tambahan. Dalam situasi krisis, dolar kerap menguat sebagai mata uang safe haven global. Kombinasi dolar AS yang kuat dan kenaikan imbal hasil riil membuat emas menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen lain," terangnya.

Baca Juga

  • Ini Dampak Penutupan Selat Hormuz, Imbas Perang Iran vs AS-Israel
  • Ini 8 Jalur Perdagangan yang Penting Bagi Ekonomi Dunia, Ada Selat Hormuz

Pelaku pasar juga memanfaatkan volatilitas untuk merealisasikan keuntungan, mengingat harga emas telah mengalami reli signifikan sepanjang 2025. Kondisi ini membuat ruang kenaikan tambahan menjadi terbatas dalam jangka pendek, sementara kebutuhan likuiditas mendorong aksi jual.

Dengan demikian, pelemahan harga emas saat ini bukan mencerminkan meredanya risiko geopolitik, melainkan perubahan ekspektasi pasar terhadap inflasi, arah kebijakan moneter, serta dinamika nilai tukar.

Ke depan, Daniel Marburger, CEO StoneX Bullion menilai prospek emas masih positif, meski pergerakannya cenderung fluktuatif. Sejumlah faktor kunci yang akan menentukan arah harga antara lain imbal hasil riil, kekuatan dolar AS, perkembangan konflik geopolitik, serta permintaan dari bank sentral.

Beberapa lembaga keuangan global tetap optimistis. UBS memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$6.200 per ons pada September 2026, sementara Deutsche Bank dan Société Générale memperkirakan level US$6.000 per ons hingga akhir tahun.

Dalam konteks investasi, para analis menekankan pentingnya melihat emas sebagai instrumen lindung nilai jangka panjang, bukan sekadar aset spekulatif. 

"Alokasi sekitar 10%–15% dalam portofolio dinilai ideal untuk menjaga keseimbangan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global," kata Marburger.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daya Beli Melemah, Pemudik Merosot
• 14 jam lalukompas.id
thumb
Instruksi KDM Tak Digubris Padahal Sudah Dikasih Rp1 Juta, Sejumlah Sopir Angkot Masih Nekat Terobos Jalur Puncak
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Dokter: Meniup Makanan dan Mencium Anak Bisa Tularkan Gigi Berlubang!
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Roma Vs Lecce: Gol Perdana Vaz Bantu Roma Raup Poin Penuh
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Jelang Libur Paskan 2026, Harga Restoran di Mallorca Naik
• 23 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.