Jakarta (ANTARA) - Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri bertemu Presiden Republik Demokratik Timor Leste Jose Ramos Horta di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, dalam rangka memperteguh persaudaraan Indonesia-Timor Leste.
Kedatangan Ramos Horta disambut hangat jajaran teras PDI Perjuangan, di antaranya Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, didampingi Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah, Yasonna Laoly, Ronny Talapessy, serta Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan Pusat Partai Andi Widjajanto.
"Mari, silakan duduk," sapa Megawati ramah, yang disampaikan lewat keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.
Pertemuan kedua tokoh tersebut berlangsung selama sekitar 2,5 jam. Keduanya melakukan pembicaraan tertutup yang kental dengan nuansa historis dan strategis.
Usai pembicaraan intensif, pertemuan diakhiri dengan pertukaran cendera mata yang sarat makna.
Megawati memberikan sehelai kain batik khas Indonesia sebagai simbol keluhuran budaya nusantara, serta sebuah buku karyanya yang berjudul "Spirit Kemanusiaan".
Buku tersebut seolah menjadi penegasan atas konsistensi Megawati dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di panggung politik global, senada dengan peran Ramos Horta sebagai peraih Nobel Perdamaian.
Sebagai balasan, Ramos Horta menyerahkan sebuah tas kerajinan tangan khas Timor Leste serta kopi arabika khas Timor Leste yang tersohor.
Pertukaran ini bukan sekadar tradisi, melainkan simbolisasi dari kedekatan dua negara yang saling menghargai identitas dan potensi ekonomi lokal masing-masing.
Pertemuan hari ini menjadi kelanjutan dari dialog yang sempat terjalin di Abu Dhabi pada awal Februari 2026. Saat itu, keduanya bertemu dalam rangkaian Zayed Award for Human Fraternity 2026.
Hubungan Megawati dan Ramos Horta dikenal melampaui sekat diplomasi formal.
Megawati sering menceritakan hubungan emosionalnya dengan tokoh-tokoh Timor Leste, termasuk sosok Kupa Lopez, Duta Besar Timor Leste untuk Kamboja, yang dianggap sebagai anak angkat.
Baca juga: Presiden Ramos Horta undang Megawati berkunjung ke Timor Leste
Sementara bagi Ramos Horta, Megawati adalah simbol rekonsiliasi karena kehadiran Megawati pada upacara restorasi kemerdekaan Timor Leste tahun 2002 silam tetap dikenang sebagai tonggak sejarah yang mencairkan kebekuan hubungan kedua negara pascajajak pendapat 1999.
Di sisi lain, Ramos Horta secara resmi telah menyampaikan undangan kepada Megawati untuk berkunjung ke Dili guna menerima Grand Collar of the Order of Timor Leste, penghargaan tertinggi negara tersebut bagi mereka yang berjasa besar dalam perdamaian internasional.
Penghargaan serupa juga diberikan kepada Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, dan Raja Brunei Darussalam
Sebelum meninggalkan kediaman di Teuku Umar, Ramos Horta dan Megawati menyempatkan diri melakukan foto bersama dengan seluruh peserta pertemuan.
Baca juga: Ramos Horta akan anugerahkan medali Grand Colar Ordem ke Megawati
Baca juga: Megawati duduk bersebelahan dengan Ramos Horta di Zayed Award
Kedatangan Ramos Horta disambut hangat jajaran teras PDI Perjuangan, di antaranya Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, didampingi Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah, Yasonna Laoly, Ronny Talapessy, serta Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan Pusat Partai Andi Widjajanto.
"Mari, silakan duduk," sapa Megawati ramah, yang disampaikan lewat keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.
Pertemuan kedua tokoh tersebut berlangsung selama sekitar 2,5 jam. Keduanya melakukan pembicaraan tertutup yang kental dengan nuansa historis dan strategis.
Usai pembicaraan intensif, pertemuan diakhiri dengan pertukaran cendera mata yang sarat makna.
Megawati memberikan sehelai kain batik khas Indonesia sebagai simbol keluhuran budaya nusantara, serta sebuah buku karyanya yang berjudul "Spirit Kemanusiaan".
Buku tersebut seolah menjadi penegasan atas konsistensi Megawati dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di panggung politik global, senada dengan peran Ramos Horta sebagai peraih Nobel Perdamaian.
Sebagai balasan, Ramos Horta menyerahkan sebuah tas kerajinan tangan khas Timor Leste serta kopi arabika khas Timor Leste yang tersohor.
Pertukaran ini bukan sekadar tradisi, melainkan simbolisasi dari kedekatan dua negara yang saling menghargai identitas dan potensi ekonomi lokal masing-masing.
Pertemuan hari ini menjadi kelanjutan dari dialog yang sempat terjalin di Abu Dhabi pada awal Februari 2026. Saat itu, keduanya bertemu dalam rangkaian Zayed Award for Human Fraternity 2026.
Hubungan Megawati dan Ramos Horta dikenal melampaui sekat diplomasi formal.
Megawati sering menceritakan hubungan emosionalnya dengan tokoh-tokoh Timor Leste, termasuk sosok Kupa Lopez, Duta Besar Timor Leste untuk Kamboja, yang dianggap sebagai anak angkat.
Baca juga: Presiden Ramos Horta undang Megawati berkunjung ke Timor Leste
Sementara bagi Ramos Horta, Megawati adalah simbol rekonsiliasi karena kehadiran Megawati pada upacara restorasi kemerdekaan Timor Leste tahun 2002 silam tetap dikenang sebagai tonggak sejarah yang mencairkan kebekuan hubungan kedua negara pascajajak pendapat 1999.
Di sisi lain, Ramos Horta secara resmi telah menyampaikan undangan kepada Megawati untuk berkunjung ke Dili guna menerima Grand Collar of the Order of Timor Leste, penghargaan tertinggi negara tersebut bagi mereka yang berjasa besar dalam perdamaian internasional.
Penghargaan serupa juga diberikan kepada Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, dan Raja Brunei Darussalam
Sebelum meninggalkan kediaman di Teuku Umar, Ramos Horta dan Megawati menyempatkan diri melakukan foto bersama dengan seluruh peserta pertemuan.
Baca juga: Ramos Horta akan anugerahkan medali Grand Colar Ordem ke Megawati
Baca juga: Megawati duduk bersebelahan dengan Ramos Horta di Zayed Award





