Ada satu fase dalam hidup yang terasa aneh: kita tidak lagi anak-anak, tapi juga belum sepenuhnya dewasa. Di fase ini, kita mulai mempertanyakan banyak hal—tentang arah hidup, tentang pilihan, bahkan tentang diri sendiri. Saya rasa, banyak dari kita yang sedang berada di titik itu: berjalan, tapi kadang tidak tahu ke mana.
Menjadi mahasiswa sering kali digambarkan sebagai masa penuh peluang. Tapi realitanya, tidak sedikit yang justru merasa tertinggal. Melihat teman-teman yang sudah punya pencapaian, aktif organisasi, bahkan sudah “punya arah”, membuat kita diam-diam bertanya: “Saya ini sebenarnya lagi ngapain?”
Dulu saya berpikir bahwa hidup harus selalu cepat. Harus segera tahu tujuan. Harus segera berhasil. Tapi semakin saya berjalan, saya mulai sadar: tidak semua hal perlu dipercepat. Ada hal-hal yang justru butuh dipahami secara perlahan.
Saya mulai belajar bahwa bertumbuh bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang tetap berjalan meskipun pelan. Ada hari-hari di mana kita merasa produktif, tapi ada juga hari di mana bangun saja terasa berat. Dan ternyata, itu tidak apa-apa.
Yang sering kita lupakan adalah: setiap orang punya waktunya masing-masing. Apa yang terlihat “terlambat” dari luar, belum tentu benar-benar terlambat. Bisa jadi, itu hanya proses yang sedang matang dengan caranya sendiri.
Media sosial sering membuat kita merasa hidup orang lain lebih rapi. Padahal yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari keseluruhan cerita mereka. Kita jarang melihat kebingungan, kegagalan, atau rasa takut yang juga mereka alami.
Di titik ini, saya mulai mencoba berdamai dengan diri sendiri. Tidak lagi terlalu keras membandingkan. Tidak lagi memaksakan harus selalu baik-baik saja. Karena ternyata, menerima bahwa kita sedang belajar adalah bagian penting dari bertumbuh.
Mungkin kita belum sampai ke mana-mana. Tapi setidaknya, kita tidak berhenti.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Pelan-pelan saja.





